Sihir Woodstock ’94, Sejarah Bagian Pertama

Denny MR, editor Majalah Hai era 1993- 1998 yang pernah mendapat kesempatan meliput langsung salah satu pagelaran musik dunia, Woodstock 1994

Denny MR, editor Majalah Hai era 1993- 1998 yang pernah mendapat kesempatan meliput langsung salah satu pagelaran musik dunia, Woodstock 1994. Illustrasi : Hujanmusik!

 

Artikel : Johanes Jenito

 

HujanMusik!, Bogor – Suatu masa, saya teringat sebuah ungkapan penting dari sosok budayawan cum sejarawan asal Yogyakarta. Almarhum Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.

Terkenang pada tulisan dalam bukunya “Pengantar Ilmu Sejarah” yang dengan sangat jitu mempersonifikasikan sejarah, sesuatu yang jauh dari minat populer, namun memiliki kedalaman makna yang jika dikulik kita akan menemukan jawabannya. Bahwa dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta. Bagaimana sebuah cinta yang kesulitan untuk tumbuh, bila ia tak memiliki motivasi untuk belajar mengenal masa lalu.

Kenangan yang sama dengan tersingkapnya memori perjalanan bertahun-tahun seorang penyaksi pertunjukan musik legendaris. Saya dan kolega seperti menemukan dongeng musikal penuh warna. Semua itu kami temukan dalam terjangan binar mata kala ia bercerita.

Malam itu, kami sedang disambut energi baik dari seorang laki-laki yang tengah jatuh cinta pada sejarahnya. Ia Sang Jurnalis. Ingatannya masih kuat pada peristiwa dua puluh enam tahun lalu, walau jejak fisiknya kini tak lagi muda. Kami menyapanya Om, sepenggal sebutan dari nama aslinya, Denny MR. Energi baiknya terlihat utuh jatuh pada tuturnya yang masih runut, narasinya pun begitu rapat. Serapat pergerakan rokok kretek berfilter dan cangkir enamel isi kopi lokal dengan sedikit gula. Kedua benda itu bergantian masuk ke mulutnya di tengah ia bercerita.

“Saat itu dari Indonesia cuma KOMPAS dan Majalah HAI,” katanya mengawali cerita.

 

Simak di HujanMusik! : Musik Sebagai Latar; Kemistri di Balik Panggung dan Layar

 

Saat itu, sebuah label lokal bernama Suara Sentral Sejati, pemegang lisensi musik dari label internasional Polygram mengundang Majalah HAI untuk meliput konser Metallica. James Hetfield dan sekondannya adalah salah satu artis yang bernaung dibawah Polygram. Secara kebetulan, Metallica adalah salah satu headliner pagelaran musik yang berlangsung pada pertengahan Agustus di Amerika. Pagelaran itu adalah Woodstock ’94. Ya…Woodstock yang legendaris itu.

Lantas, HAI memberangkatkan tiga orang punggawanya. Mereka adalah Sang Chief Editor, Sang Jurnalis dan Sang Fotografer. Trio ini terbang dari Jakarta tiga hari sebelum acara mulai.

Woodstock ’94 digelar sebagai perayaan reuni seperempat abad atas acara serupa di tahun 1969. Penggagasnya tetap sama, Michael Lang. Tagline-nya pun masih sebangun, “Days of Peace and Music”.

Musik dan perdamaian adalah kuncinya. Woodstock ‘69 adalah kontra kultur. Ia jadi medium perlawanan generasi muda Amerika yang menolak perang intervensi negerinya ke Vietnam.

Elite negeri yang kalap saat itu tengah mewajibkan wajib militer bagi seluruh angkatan muda. Para pemuda dicetak jadi tentara untuk terjun memerangi komunis Vietnam Utara. Banyak yang pulang tinggal nama.

Sihir Woodstock ’69 itulah yang bikin Sang Jurnalis punya harapan besar saat terbang menuju Woodstock ’94. Ia ingin jadi bagian dari sejarah.

Saat tiba di Amerika, trio HAI langsung dikoordinasikan oleh pihak panitia. Mereka disewakan hotel sebagai tempat inap, diberikan ID Card untuk akses peliputan dan disediakan mobil antar-jemput dari hotel-lokasi.

Kali ini Michael Lang memilih bukit berhutan di Saugerties, negara bagian New York. Sekitar 160 kilometer jauhnya dari Kota New York. Bukit itu berjarak 110 kilometer dari Bethel, tempat Woodstock ’69.

Mobil-mobil penonton hanya boleh sampai kaki bukit. Panitia menyediakan shuttle-bus dari kaki bukit ke pinggir lapangan, bolak-balik. Shuttle-bus berangkat pertama pada jam enam pagi dan berakhir tepat di tengah malam.

Di atas bukit adalah lapangan terbuka dengan dua panggung. Panggung utara untuk pertunjukan band-band besar ternama dan panggung selatan buat band-band baru dan mereka yang bermusik lebih eksotis. Sekeliling lapangan adalah pepohonan tinggi berhutan.

Jarak kedua panggung cukup jauh. Perlu energi extra dan waktu tambahan bagi penonton untuk berpindah-pindah diantara keduanya.

“Kita harus berpatokan pada buku program,” tambahnya.

Buku program adalah buku saku penonton. Ia memuat informasi jadwal acara. Catat baik-baik kapan dan dimana artis idola naik panggung. Lalu hitunglah berapa waktu yang dibutuhkan untuk merapat ke panggung Sang Idola.

Hembusan nafas sang jurnalis masih terdengar teratur, ia siap membuka semua narasi rapat yang diingatnya. kami beruntung bisa bersua dan mendapat izinnya untuk menuliskan memorinya dengan cara kami. Memori yang coba kami tuangkan dalam beberapa tulisan kedepan.

Sabar saja.

(Visited 117 times, 1 visits today)

1 thought on “Sihir Woodstock ’94, Sejarah Bagian Pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *