Renaissance yang Memantik Kritik Lewat Video Musik

Renaissance, duo Adhit Conan dan Rezky Azriel asal Bogor merilis video musik pada Mei lalu

Renaissance, duo Adhit Conan dan Rezky Azriel asal Bogor merilis video musik pada Mei lalu. Foto : dok.Renaissance

 

Artikel : Rizza Hujan

 

HujanMusik!, Bogor – Bogor- Kota Hujan tengah kehilangan identitas, terik matahari terasa menyengat di kulit tiap hari. Kemarau mulai menyapa sejak beberapa waktu lalu. Awan yang biasanya berlarian bersama angin jarang tampak, terkalahkan langit siang hari yang kerap membiru untuk kemudian menjadi jingga dengan gradasi merah jelang senja. Merah itu menggiring impresi saya pada sebuah video musik berjudul “Sodom dan Gomorah” yang didominasi warna berani. Single tersebut milik duo pemalu asal Highland (Cisarua, -red.), Renaissance. Video musik “Sodom dan Gomorah” adalah sebuah karya seni mahal dari sisi kreatifitas dan menampilkan keliaran artistik tingkat tinggi. Begitu pemikiran saya yang awam dan minim pengetahuan.

“Itu project pas WFH, bingung mau ngapain nggak ada kerjaan. Iseng bikin musik sama Rezky, murid pas dulu ngajar di SMK, dia beat maker dan bisa jadi operator kalau take lagu. “Sodom dan Gomorah” jadi dalam sehari, tadinya mau sendiri tapi akhirnya ngajak dia,” ucap Adhit Conan, otak dibalik Renaissance.

Kejujuran mesti dijunjung tinggi, terutama jika bermaksud memberikan sebuah stimulus yang bisa bertransformasi menjadi motivasi positif. Merujuk pada alasan itu, saya merasa berkewajiban menyebut jika lagu “Sodom dan Gomorah” masih perlu polesan mendalam, perlu memberi perhatian pada beberapa part lagu yang dinyanyikan Conan, agar tak terdengar seperti dipaksa, out of tune, atau bahkan terkesan apa adanya. Untuk yang memiliki telinga jeli tentu mudah menangkap jika sentuhan mixing-mastering kurang terasa disana. Vokal Conan mungkin perlu padu padan dengan part melodi Rezky Azriel yang sesekali meleset keluar jalur.

“Gini, saya nggak merasa musisi sih karena minder dari segi musikalitas. Sebetulnya ingin lebih dikenal sebagai digital artist. Syukur-syukur bisa jadi Video Music Director. Dan tadi itu, lagu “Sodom dan Gomorah” dibuat dalam sehari dan direkam di rumah dengan alat seadanya. Gitar aja ditodong mike langsung,” Conan membela diri seraya tertawa.

 

Simak! di HujanMusik! : “Pop Punk, Mods dan Pengaruhnya Terhadap Fashion”

 

Terlepas dari minor yang ada, saya merasa video musik ini lain dari yang sudah ada. Dan didorong oleh euphoria tersebut, saya pun membagikan tautan kanal youtube Renaissance pada beberapa orang, kemudian menyeruaklah beragam pendapat. Helvi, pemain bass Antartick misalnya, dia mengatakan bahwa musik dan video Renaissance bagus. Bahkan sisi artistiknya belum pernah dia temukan diantara karya rekan-rekan musisi Bogor. Pun dengan Luthfi, seorang pegiat seni yang tergabung dalam Gerakan Seni Rupa Bogor (GSRB), mengangguk sepakat dengan Helvi.

“Ini keren sih, Kang. Terutama videonya. Ini anak Bogor?,” kata Luthfi, terasa berapi-api sekaligus diterkam rasa penasaran.

Tapi lain lagi pendapat Graditio dan Andes, keduanya sama-sama menyukai digital art dan kadang bermain musik demi kesenangan pribadi. Mereka bilang video musik “Sodom dan Gomorah” tidak jelas arahnya kemana. Selain itu warna merah yang mendominasi terasa menusuk mata. Menurut Graditio, melihat video mereka seperti mengingat video “Go With the Flow” milik Queens of the Stone Age dimana warna merah dan hitam mendominasi pandangan mata.

Ketika pendapat itu saya limpahkan pada Conan, dia bersikap jujur dan bijaksana.

 

Artwork “Sodom dan Gomorah”

 

“Ini yang paling diharapkan. Saran dan kritik dari seorang expert. Jujur aja kritik dan saran dari yang bukan expert tidak terlalu saya perhatikan. Pendapat dari orang yang mengerti musik juga sangat perlu. Jadi seniman tidak boleh anti kritik. Nah, dari segi musik memang sangat parah sih, karena home recording dengan keterbatasan skill,” papar lelaki yang sebelumnya pernah membentuk Duasodara Corp, grup musik yang memainkan pop elektronik dan berhasil merilis enam lagu. Karya mereka bahkan sempat ditawari untuk diputar di SRL Networks, sebuah stasiun radio yang berbasis di London.

Ada cerita unik dibalik pembuatan video musik “Sodom dan Gomorah”. Mereka syuting di rumah Conan dan alih-alih menggunakan kamera SLR yang memang dimiliki Conan, mereka malah menggunakan kamera smartphone Oppo F1s dengan alasan malas. Sikap eksentrik ini kemudian dibumbui dengan cerita green screen yang dipesan tak kunjung tiba. Kondisi seadanya itu menjadikan faktor editing mendominasi proses pembuatan video musik “Sodom dan Gomorah”. Kabarnya sampai memakan waktu tiga minggu.

Renaissance tidak bisa menentukan genre musik yang mereka mainkan karena berencana membuat musik dengan macam-macam karakter, tentu sekehendak mereka. Tapi menurut Graditio, Conan dan Rezky memainkan musik bercorak hip-hop.

“Beat musik mereka hip-hop. Ini seperti Homicide bertemu dengan Thufail. Cuma mereka lebih soft,” kata Graditio yang akrab dipanggil Tio.

Conan mengaku bahwa hal tersebut didapat dari Rezky yang beat maker musik hip-hop. Kemudian dia bercerita bahwa grup bentukannya ini tadinya bernama Almamater Bawah Tanah karena akan membuat musik yang kritis. Tapi akhirnya dipilih nama Renaissance karena di dalam musiknya ada unsur musik kuno dan musik tradisional dari seluruh bagian dunia.

Saat membicarakan rencana untuk Renaissance, Conan menjelaskan bahwa dia akan segera merilis lagu kedua. Meski begitu, dia tetap tidak ingin dikenal sebagai musisi melainkan seorang Video Music Director.

“Sebetulnya Renaissance itu cuma alat penyaluran hasrat saya yang dari dulu bercita-cita jadi music video director, karena memang di jaman MTV, saya selalu menikmati musik dan juga videonya. Menurut saya itu whole package (audio dan visual). Tapi ingin juga bikin bikin video musik buat portopolio pribadi. Jadi Renaissance ini adalah sebuah percobaan dan latihan membuat musik dan video. Untuk kedepannya akan merilis lagu yang memang sudah lama ada di kepala,” curhatnya.

Apapun cita-cita dan rencana Renaissance, rasanya akan memupuk rasa penasaran dalam diri orang-orang yang pernah mendengar sekaligus menonton musik mereka. Dengan perbaikan disana-sini bukan tidak mungkin nama Rennaisance meroket, tidak hanya sebagai unit musik tapi juga video music director seperti apa yang Conan impikan.

“Setiap seniman butuh audience, tapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Ada yang buat popularitas, materi, dan lain-lain. Buat saya pribadi tentu butuh audience, tapi untuk memberi pendapat dan sebagai muara penyampaian apa yang saya rasakan,” tutup Adhitia ‘Conan’ Nugraha.

 

(Visited 206 times, 3 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *