Seruan Merdu Payung Teduh untuk Berkontemplasi dengan “Renung”

Payung Teduh, Folk Jakarta yang kembali merilis single berjudul "Renung".

Payung Teduh, Folk Jakarta yang kembali merilis single berjudul "Renung". Foto : dok.Payung Teduh

 

Artikel : Rizza Hujan

 

HujanMusik!, Jakarta – Kata Payung Teduh bisa memiliki makna ketenangan yang berfusi dengan kenyamanan dan keromantisan. Komposisi musik dan lirik mereka membuai imaji dan hati, bahkan bisa membuat seseorang tersenyum atau menangis sendiri. Apalagi untuk budak-budak cinta milenial yang mudah sekali terusik dengan luapan kata-kata indah nan menusuk perasaan. Musik folk sempat mati suri cukup lama sebelum unit asal depok ini membentangkan keteduhan payungnya pada tahun 2007 kemudian melepas percikan awal di tahun 2010. Layaknya makhluk bernyawa lain yang pasti dilanda guncangan, Payung Teduh pun sempat limbung dengan terpaan yang menghujam. Tapi mereka bertahan untuk kembali memberi harapan lewat single “Nanti” tahun lalu. Kini, cobaan selanjutnya kembali mendera, momok bernama pandemi memaksa Payung Teduh dan jutaan unit kreatif di seluruh dunia bertahan di tengah ketidakpastian. Namun, kreatifitas bukanlah sesuatu yang mudah dipatahkan. Diantara keterbatasan artifisial, Alejandro Saksakame dan kolega kembali menuai keteduhan dengan melepas single “Renung” candra Mei 2020 lalu.

Sedikit berbeda dari karya-karya sebelumnya, “Renung” lebih kental dengan nuansa keresahan terkait kondisi dunia saat ini. Kata corona diulang-ulang dalam reffrain lagu ini, seolah ingin mengutarakan kejenuhan yang dirasakan oleh personil Payung Teduh. Tidak ada sisi romantis yang disajikan disini, malah Marsya dan Ale yang kali ini bernyanyi mengingatkan manusia pada umumnya bahwa kitalah sumber wabah itu, manusialah virus utama di dunia. Tapi tetap saja, pemilihan diksi Payung Teduh menarik untuk disimak dan melalui untaian kata yang dihiasi petikan dawai Ivan Penwyn itu Payung Teduh memberikan reaksi atas segala yang tengah terjadi.

 

Simak! di HujaMusik! : “Menyambut Gemuruh Eksistensi Payung Teduh Melalui Proses Bertajuk “Nanti””

 

Saat keadaan bumi sedang tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Ketika ketakutan meneror seluruh umat manusia di dunia dan memengaruhi banyak sekali sektor yang penting di manapun Corona Virus Disease-19 menghampiri, Payung Teduh mearasa berkewajiban untuk merespon. Kabar sedih bertambah dengan beberapa kehilangan yang mendalam baik dari orang terdekat yang terdampak, hingga orang-orang yang dijadikan idola di masyarakat luas. “Renung” adalah manifestasi dari respon yang diberikan untuk mewakili apa yang dilakukan oleh Payung Teduh. Setidaknya, lagu ini adalah sebuah ajakan Payung Teduh pada orang-orang yang mendengarkan untuk kembali merenung. Memaknai apa yang telah terjadi. Mulai dari sulitnya merasakan kembali kebersamaan, karantina yang menjauhkan setiap insan di dunia, dan masih banyak lagi lainnya.

Kabarnya, lagu yang diciptakan oleh Ale sang drummer ini sengaja diaransemen dengan sederhana sehingga maknanya juga bisa tersampaikan kepada pendengarnya. Selain itu, lagu yang direkam sebelum PSBB diadakan ini menjadi harapan Payung Teduh agar pandemi ini segera berakhir, dan akhirnya bisa bercengkerama bersama lagi seperti sedia kala. Harapan yang saya yakin dimiliki oleh semua orang.

Payung memang tidak bisa menangkal serangan virus, tapi setidaknya melalui karya Payung Teduh kita bisa berkontemplasi dan yang lebih utama adalah tidak kehilangan semangat dengan terus berharap dan bergerak mencipta sesuatu, karena sekecil apapun itu pasti memiliki impact terhadap peradaban yang mulai berantakan.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *