Tentang Paraduta yang Berpamit

Paraduta, musisi asal Malang. Sosok gitaris yang menyanyikan lagu perdanannya "Berpamit".

Paraduta, musisi asal Malang. Sosok gitaris yang menyanyikan lagu perdanannya "Berpamit". Foto : dok.Paraduta

 

Artikel : Anggitane

 

HujanMusik!, Bogor – Gambar latar gelap itu seperti menuntun, membutakan sejenak. Mengelabui pengamatan yang memang tak fokus sejak awal. Untuk sesaat, petikan gitar pembuka yang menjadi awal tembang membius dan memastikan saya sedang meresapinya. Gelap itu labuh, jejak warna dasar yang membingkai, meski sebenarnya yang saya lihat adalah potongan moda berwarna abu dengan kesan transparansi gambar rendah. Latar yang menegaskan pesan berwarna putih, tentang kalimat Paraduta Berpamit. Tembang perdana solois pop-folk Malang menjejak dengan identitas personalnya.

Untuk kehilangan kamu tidak harus mendapatkan. Untuk merindukan kamu tidak harus memiliki. Pesan itu tertulis dimuka, sebalum musik lirikal memenuhi terjemahan musik Paraduta. Pesan dalam dua kalimat yang menegaskan bahwa pemilik musik dan liriknya tengah merilis lagu cinta mendayu. Penemuan Paraduta setelah 6 tahun mendalami musik sebagai seorang gitaris dan bermain di banyak event. Kini ia memberanikan dirinya untuk bercerita lewat musik yang lirikal itu.

“Berpamit” menjadi debut pertama Paraduta untuk bernyanyi pada single barunya. Saya dengan cepat menemukan bahwa single pertamanya ini bermain-main musik dalam balutan alunan Jazz Ballad yang masih kental dengan rasa Pop dan Folk. Kecerdasan Paraduta demi memastikan musiknya agar lebih mudah dinikmati pendengar dari berbagai kalangan.

 

Simak! di HujanMusik! : “Kerinduan Fajar Sandy yang Tertuang dalam “Surat Untuk Mallieh””

 

“Berpamit” juga menjadi pembuktian mandiri Paraduta yang melahirkan musik sejak dicipta dalam pikiran hingga mewujudkannya dalam pengkaryaan. Pada lagu ciptaan terbarunya ini, Paraduta bertindak sebagai Music Director, audio engineer, dan songwriter. Ia pula memainkan hampir semua instrument seperti Gitar, Clarinet dan Bass. Sedangkan untuk Piano dan Snare Brushes di isi oleh Decky Anugrah dan Agasta Prima.

“Berpamit” memilihkan tema tentang cinta yang tidak bisa. Seperti pelepasan jiwa yang pulang lagi ke pemiliknya. Menginjak usia 20 tahunan berarti akan berhadapan dengan realita. Usia yang haru kuat dan tetap bahagia melihat orang yang disayang bersama yang ia sayang. Berharap kita pulang lagi kedalam pelukannya, namun pintu yang dicari ternyata sudah tertutup oleh sang pemilik rumah.

Lagu cinta yang bertema cengeng tersebut memang sengaja dibuat Paraduta dengan musik yang bertempo lambat dengan alunan ballad. “Lagunya seperti teriris pisau, luka, berdarah, tapi tidak nangis.” kata Decky yang saat itu mendengarkan preview lagu berpamit. Paraduta juga membuat filter di Instagram untuk membantu pendengarnya untuk mengungkapkan perasaannya.

Prosesi yang ia buat dengan tujuan yang tak serta merta membuat generasi sekarang menjadi generasi yang selalu galau. Namun ia tujukan agar segala kesedihan mampu tersudahi dengan cara mendengarkan lagu yang ia ciptakan. Ya…karena Paraduta sedang membuat musik sebagai obat penenang.

“Mungkin aku yang tak pernah mengerti, kamu tak ingin ku pulang” begitu penggalan dalam pesan dalam lirik “Berpamit”.

“Berpamit” telah dirilis serentak pada tanggal 13 Mei 2020 lalu di kanal musik digital (Spotify, Youtube, Apple Music, iTunes, TikTok, Google Play dan Youtube Music).

Sudahi kegalauan, nikmati kerinduan hingga ujung yang baru.

 

(Visited 12 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *