Proyektor Kisah Panbers Dalam Sehelai Perangko

Panbers, salah satu kelompok musik legendaris Indonesia masuk dalam perangko seri artis yang dirilis dalam rangka 75 tahun Indonesia merdeka.

Panbers, salah satu kelompok musik legendaris Indonesia masuk dalam perangko seri artis yang dirilis dalam rangka 75 tahun Indonesia merdeka. Gambar Ilustrasi : Graditio

 

Artikel : Sekar Puspitasari

 

HujanMusik!, Jakarta – Putaran waktu bergerak dalam tunas bambu muda, lantas tiupan angin menggerakan daun-daunnya hingga membuatnya terlihat menari bersama regup dalam dekap udara. Tebaran merah matahari seolah terbang dari jendela dan bayangan teriknya menapak di atas tanah yang rindu diperciki hujan renyai. Menampakkan proyektor kisah masa lalu, kini dan masa depan.

Jika hidup adalah bis kota, maka tak henti-hentinya kita akan disuguhkan pemandangan orang berlari-lari mengejar waktu hingga kelelahan, dan di sudut yang lain akan hadir dalam lansekap berbeda dimana ada seseorang yang sedang resah menanti dalam kerinduan yang terbungkus oleh kehampaan. Dan di setiap halte-halte bis itu telah dijadikan sebagai perhentian terakhir dari sebuah hidup yang bukan hanya tentang durasi tetapi tentang mengeluarkan jiwa dari perputaran waktu. Dan waktu-waktu tersebut melenturkan dirinya menjadi bentuk yang bisa disentuh dan diabadikan dalam rupa sebuah perangko.

Dalam setiap perjalanan selalu memiliki banyak kisah, seperti kisah seorang laki-laki yang tengah duduk sendiri di sebuah ruangan, sambil mengira-ngira kata apa yang tak sempat ia tanyakan dalam susunan perjalanan langkah pada jejak luka dalam hembusan napasnya sambil sesekali memutar kembali banyak kenangan dan kerinduan dalam sebuah pemutar lagu yang setiap pagi ia nyalakan.

Sebuah pemutar lagu yang kini hanya menghembuskan wangi hening yang sengaja digantungkan sebagai peristirahatan terakhir. Namun sandaran keheningan itu bergaung di dinding-dinding paling tebal hingga untuk menyandarkan kenangan dalam momen-momen musikal, Panbers salah satu grup lawas di Indonesia membungkus segala kerinduan itu dalam bentuk sebuah perangko dimana kelahirannya dirayakan bersama dengan momentum peringatan 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang disahkan juga oleh Presiden Indonesia Joko Widodo.

 

Simak! di HujanMusik! : “Sundaland Ethnomusic Festival 2019 : Pendar Etnomusik di Tanah Sunda”

 

Dengan nyanyian dan kenangan di gereja tua, membuat banyak orang sepakat bahwa pembuatan perangko tersebut tidak hanya untuk mengingat eksistensi Panbers namun sebagai satu proyektor untuk memutar ulang adegan-adegan sentimental hingga tercipta sebuah tempat dengan harapan baru yang meninggi terjurai disana, menunggu untuk kita sampai kepadanya.

Beranggotakan 4 orang diantaranya Hans Panjaitan (Lead Guitar), Benny Panjaitan (Vokalis dan Rhythm Guitar), Doan Panjaitan (Bass dan Keyboard) dan Asido Panjaitan (Drum). Namun kini, beberapa diantara Panjaitan bersaudara telah menemukan rumah abadi mereka, dan Asido Panjaitan adalah salah seorang anggota Panbers yang terus melaju membawakan keharuan cinta dalam senandung “Senja Telah Berlalu” itu bersama Maxi Pandelaki, Hans Noya, dan Hendri Lamiri.

Ketika kita bisa hidup dengan seluruh perasaan tanpa mempermasalahkan soal waktu, mungkin kita bisa seperti Panbers yang berkarya menghasilkan berpuluh-puluh lagu yang bergengsi dalam hidup ini. Karena bagi mereka yang bisa, kerja pikiran paling agung itu adalah berkarya. Hingga kritikan tidak pernah mematikan mereka untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik, dan pujian membuat mereka waspada karena untuk sebagian orang pujian adalah hal yang ingin mereka capai walaupun kadang pujian tersebut bisa begitu mematikan hingga pertembuhan diri menjadi prematur. Setiap kritik dan pujian yang telah Panbers dapatkan sepanjang karir mereka, menjadikan mereka begitu kuat hingga meski mereka di era kini adalah sebuah band ‘orangtua’, namun Panbers terus berjalan dalam rasa cinta. Karena mereka tahu bahwa cinta selalu membutuhkan ketidaksempurnaan untuk membuktikan kesempurnaan.

Aroma pop nan kental dan sederhana terpatri dalam lagu-lagu mereka seperti “Akhir Cinta”, “Gereja Tua”, “Cinta dan Permata”, dan “Terlambat Sudah” merupakan timbre yang mampu menghantam magma dalam lindapan hati. Dan disetiap kayuhan nada itu membuatnya menjadi sebuah lagu yang paling sunyi dimana kesunyian itu selalu melubangi benteng air mata seolah membuat kita menyandarkan dahi ke jendela seperti tengah berharap nyanyian-nyanyian itu mampu menjaga rasa dimana terjadi banyak pertemuan juga perpisahan hingga pembuatan perangko bagi band legendaris ini semakin terasa relevan.

Jika hidup adalah bis kota, maka akan ada persinggahan-persinggahan dan terminal terakhir dari perjalanan yang dilalui. Karena hidup bukan tentang berapa lama kita menjalaninya, tetapi berapa dalam kita memaknainya. Jika kita berhasil memberi makna pada setiap hidup, maka kita bisa menghentikan waktu dan hidup tidak diperbudak oleh durasinya. Dan setiap rasa dan cinta memang seharusnya dirasakan tanpa perlu alasan yang rumit dan sejauh apapun kita ingin berlalu akan ada seseorang yang selalu mengejar punggung kita dengan rindu. Semakin kita melangkah untuk memutar waktu kembali ke masa lalu, semakin kita jatuh dari tempat eksistensial kita dari ketinggian masa kini. Semacam paradox waktu, masa lalu tidak selamanya ada di belakang, karena masa lalu bisa jadi ada di depan sana, menunggu kita untuk menggapainya.

Seperti yang pernah dikatakan oleh RekanHujan! Graditio bahwa “Bis pun akan selalu berjalan sesuai alurnya walaupun tidak berpenumpang”.

Karena cinta yang besar adalah cinta yang dipasrahkan dalam doa-doa yang tersembunyi. Dan segala doa baik mencakup kesehatan, cinta dan kebersamaan memeluk begitu erat dalam foto sebuah perangko. Maka mari menyerap makna perangko ini sebagai ucapan paling rindu. Sebab kenangan-kenangan itu abadi.

(Visited 156 times, 1 visits today)

1 thought on “Proyektor Kisah Panbers Dalam Sehelai Perangko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *