Memori Sihir Woodstock ’94 dan Pesta Lumpur

Denny MR, editor Majalah Hai era 1993- 1998 yang meliput langsung Woodstock 1994.

Denny MR, editor Majalah Hai era 1993- 1998 yang meliput langsung Woodstock 1994. Illustrasi : Graditio

 

Artikel : Johanes Jenito

 

HujanMusik!, Bogor – Hembusan nafas Sang Jurnalis masih terdengar teratur, perlahan ia membuka semua narasi rapat yang diingatnya. kami beruntung bisa bersua dan mendapat izinnya untuk menuliskan memorinya dengan cara kami. Memori perjalanannya sebagai seorang Denny MR, satu diantara trio majalah HAI yang terbang ke Amerika untuk menyaksikan gelaran Woodstock ’94.

Malam itu Sang Jurnalis terlihat nyaman dengan setelan celana pendek, berkaos abu-abu pudar. Lantai ubin dingin di teras rumah jadi alas duduknya. Berteman temaram lampu bohlam, ia melanjutkan kisahnya.

“Dari hari pertama sudah hujan,” kenangnya.

Sembari membetulkan letak kacamata minus berbingkai hitamnya, berceritalah ia tentang pesona Mud-stock, pesta lumpur Woodstock ’94.

Hujan merata. Tanah jadi basah semua. Saat yang sama, ratusan ribu pasang kaki menjejak di sana. Tanah serasa dibajak. Yang tadinya rata, jadilah lumpur dimana-mana. Makin licin bila dipijak. Orang jatuh terpeleset jadi pemandangan biasa.

Tak seorangpun bersih dari mandi lumpur. Seru!

 

Simak! di HujanMusik! : “Sihir Woodstock ’94, Sejarah Bagian Pertama”

 

Lautan lumpur bikin susah kemana-mana. Geser dikit, terpelantinglah kita. Kalau lapar menyerang, tahanlah. Tenda-tenda penjual makanan tak ada di tengah-tengah lapangan. Mereka di pinggiran. Perjalanan ke pinggir lapangan sungguh membutuhkan perjuangan dan doa. Berjuang tak terpelanting mandi lumpur dan berdoa tak terhimpit ratusan ribu bule raksasa yang tak mandi berhari-hari.

Hujan pulalah yang membuat jadwal para penampil tak ketat dijalankan. Rundown sih sebut durasi penampilan selama 30-40 menit. Kenyataannya, rata-rata artis butuh sejam di atas panggung.

Tiap band penampil mencari sensasinya sendiri-sendiri. Sensasi seni pertunjukan.

Salah satu yang paling menonjol di hari kedua adalah band industrial metal Nine Inch Nails. Ratusan ribu kepala hampir habis kesabarannya karena Trent Reznor dan sekondannya tak segera naik panggung di jadwal yang semestinya. Molornya panjang.

Reznor dan koleganya mandi lumpur dulu. Setelah memastikan lumpur tertata dengan baik dari ujung kepala hingga ujung kaki, barulah mereka menggebrak panggung lewat “Terrible Lie”. Sensasi ini berbuah manis. Aksi manusia lumpur itu diganjar piala Grammy kategori Best Metal Performance 1996 untuk lagu “Happiness in Slavery”.

Billie Amstrong dan Green Day lain lagi, Tampil di hari ketiga, trio pop-punk, yang saat itu masih anak bawang, mengajak penontonnya perang lumpur. Billie minta ratusan ribu orang di depannya untuk melempar lumpur ke atas panggung. Nyatanya tak cuma lumpur yang terbang ke panggung, tapi juga benda-benda lainnya, bahkan sepatu!

“Daus dapat tuh foto Billie gigit sepatu lemparan penonton,” jelasnya

Daus adalah Sang Fotografer, sapaan akrab Firdaus Fadlil. Sang Fotografer harus berjibaku dengan cuaca tak ramah, ratusan ribu penonton tak mandi dan rasa lapar pada camilan untuk foto-foto ikonik selama pertunjukan.

Red Hot Chili Peppers, yang juga main di hari ketiga, memilih seragam kostum bola lampu. Di atas kepala Flea (bass), Anthony Kiedis (vokal), Dave Navaro (gitar) dan Chad Smith (drums) bertengger sebuah bohlam ukuran besar. Bohlam-nya menyala terang. Lucu dilihat dari kejauhan panggung.

Yang tak bersensasi cuma band-band senior. Mereka tampil kalem, apa adanya. Tugas mereka hanya bernyanyi dengan sedikit bergoyang.

Pemandangan shih adalah ketika musisi folk senior Bob Dylan nyata-nyata punya sihir bak dewa. Ia cuma mengangkat tangan. Lalu ratusan ribu orang di bawah sana mendadak diam. Senyap. Padahal sesaat sebelumnya, kegaduhan perang lumpur antar-penonton terjadi sedemikian riuhnya. Mereka saling lempar lumpur saat panggung masih kosong karena Bob terlambat datang.

“Sihir Sang Maestro,” tambahnya dengan kagum

Tak dipungkiri, kami berusaha membayangkan suasana yang diceritakan sang jurnalis. Tak mudah tapi kami percaya. Karena cerita mengalir langsung dari sosok yang berada disana.

Sejurus, sang jurnalis memperbaiki letak duduknya. Kami mengikuti ritme ceritanya dengan kalem, mengikuti tutur cerita yang minggu depan akan kami tulisakan sebagai bagian ketiga.

Tak ada ruginya sabar sekali lagi.

(Visited 134 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *