Kama Mansen Munthe Di Balik Kehangatan Sebuah Rumah

Mansen Munthe, solois Jakarta yang merilis "Rumah"

Mansen Munthe, solois Jakarta yang merilis "Rumah". Foto : dok.Mansen Munthe

 

Artikel : Sekar Puspitasari

 

HujanMusik!, Jakarta – Wangi kopi mengepul dari cangkir-cangkir malam yang merangkul bebulir hujan menjadi udara dingin di rumah saya hari ini. Wewangian khas dari kopi, hujan dan wangi kayu lapuk di beranda depan sebagai penanda bahwa saya telah kembali, dimana di setiap sudut ruangan terisi oleh orang-orang yang menunggu kepulangan saya untuk membagi gerimis menjadi sebentuk puisi. Kala langit di atas kepala mendadak padat oleh titik-titik cahaya dan membentuk formasi yang indah di mata seolah sedang melaksanakan satu tugas penting untuk segera memeluk segenap tubuh agar kembali ke dalam ruangan berjendela, ada satu lagu yang menyala nyaring di pemutar suara untuk mengingatkan setiap telinga agar bergegas pulang. Dia adalah Mansen Munthe, seseorang yang tengah mengingatkan kita lagi tentang tutur kata sebuah permainan panjang sang kama dalam kehangatan sebuah “Rumah”.

Berkas-berkas pekerjaan, asbak dan cangkir kopi dingin tergolek lemah di atas meja, sementara semburat jingga mulai tampak dari celah rotan kayu yang hampir runtuh seolah sedang berdansa bersama angin dan hujan. Tidak ada yang paling agung dari pemandangan rumah yang mungkin tampak sederhana, namun tetap berdiri dalam kesederhanaan tidak berjarak yang seringkali terlewati dan tidak kita hayati maknanya hingga tanpa sadar hal-hal menyenangkan yang terjadi disana seolah terlupakan begitu saja.

Hingga suatu ketika Mansen Munthe, seorang solois yang mencoba membangkitkan kembali perasaan-perasaan sederhana itu menjadi sebuah penggenapan kehidupan, hingga ketika penggenapan itu terlahir di inti detik selanjutnya tercipta juga lirik-lirik lagu dari sebuah kisah yang saling tercermin dengan hidup manusia mengenai jiwa yang menemukan dirinya dalam diri orang lain di satu tempat bernama “Rumah”. Menurutnya kebanyakan orang hanya menganggap rumah adalah sebagai tempat persinggahan, karena seringkali mereka hanya akan kembali ke rumah setelah kesibukan di luar rumah. Oleh sebab itulah, Mansen Munthe membuat lagu ini sebagai penjelmaan arti dari rumah itu sendiri.

 

Simak! di HujanMusik! : “Jejak Musik Muda Farrel Hilal Ramadhan”

 

Sebuah lagu yang melenturkan hati untuk keluar dari kubikel menyesakkan dan meresap artinya hingga mampu menggeser pemikiran kita tentang satu bangunan yang kita tunjuk sebagai rumah itu.

Menemukan sebuah tempat sebagai sebuah cungkup yang menaungi kita dari segala dera itu seperti menemukan jodoh dimana kita hanya perlu menemukan frekuensi yang pas. Namun dalam segala pencarian itu kita akan dihadapkan pada gelombang berupa distorsi. Ada pun yang jernih dan ada juga yang hanya berupa tune kosong. Dan ketika kita menemukan frekuensinya yang jernih itu, kita akan coba mendengarkan apakah genre-nya cocok denganmu. Pilihannya, apakah kita akan menjadi pendengar setia atau kembali mencari frekuensi radio lain. Dan dari setiap pencarian itu, akhirnya kita akan menyandarkan diri pada satu tempat yang dengan keleluasaannya kita panggil ia rumah.

Mansen Munthe yang menggarap lagu “Rumah” dalam lingkup folk balada dengan petikan gitar yang dominan juga bass dan sesekali suara sync midi yang ketiganya dimainkan oleh Kelana Halim seolah sedang merengkuh diri dengan kuat hingga meski tanpa suara namun pelukan nada itu berbicara dan masuk dalam limbik kita. Lagu yang di produksi di Mekel Music Studio ini telah membuahkan girut-girut nada lagu yang menenangkan sekaligus menghangatkan hati sesiapa pun yang tengah resah dalam kondisi tidak menentu seperti saat-saat ini. Mungkin memang benar bahwa sesulit apapun, rumah adalah tempat kita berpulang dimana tidak ada kata yang sanggup merangkum itu semua.

Jika rumah adalah manusia, maka ia adalah seseorang yang berjalan ringan di kakinya namun sembunyi-sembunyi menyimpan beban besar di bahunya. Karena rumah bukan hanya sekedar rumah dimana kasih dan kepedulian hadir ditengah-tengah kita. Maka jika rumah adalah manusia, ia adalah ruangan berventilasi yang selalu ada untuk kita bertukar udara. Tangannya jendela, senyumnya pintu, pelukannya sofa berlengan yang membuatmu nyaman. Sebuah rumah yang membuatmu ingin cepat pulang untuk memeluknya dan mencium aroma khas di bajunya. Maka tidak akan ada yang sia-sia dari pengorbanan kecil kita di semesta hidup meski dalam ketidak-pastian seperti saat ini namun mari tetap bersalin rupa menjadi angin yang tetap bergerak meski dipecahkan udara.

Karena dari sekian hidup yang terlewati di banyaknya rumah dan ruang, akan ada seseorang yang tengah menyampaikan doa-doa untuk sampai ketelinga yang maha esa. Hingga ketika doa-doa itu berkumpul menjadi satu ia akan menggenggam kita erat dalam perlindungannya dan mencipta segenap keberuntungan-keberuntungan tidak terduga untuk menjadi sebuah pijakkan kecil agar kita tetap berdiri. Maka letakkan cinta di depan pintumu, dan senyuman di tiap jendela. Karena semua yang terjadi pada dirimu dimulai dari rumah.

 

(Visited 117 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *