Filosofi Angka Merah Manifrustasi

Manifrustasi, alternative pop Yogyakarta yang merambah catatan musik dengan single " Angka Merah".

Manifrustasi, alternative pop Yogyakarta yang merambah catatan musik dengan single " Angka Merah". Foto : dok.Manifrustasi

 

Artikel : Sekar Puspitasari

 

HujanMusik!, Yogyakarta – Segala sesuatu adalah cerita dimana setiap cerita itu kita bisa menjadi siapa pun di dalamnya. Terkadang kita menjadi pencerita, menjadi tokoh dalam cerita, menjadi orang yang diceritakan atau kemungkinan lain yang menjadi turunannya. Yang jelas, manusia adalah makhluk cerita yang menginginkan cerita-cerita mereka dituliskan dalam kisah sederhana hingga setelah menyelesaikan kisahnya, gelombang kesadaran itu datang dan membuat kita mabuk pada kata-kata. Di sisi lain sebuah cerita membuat kita sibuk menerka-nerka akan kemana cerita ini berakhir, seperti berjalan dalam gerimis yang membuat mata saru dalam kisah sedih yang menjilati mata kita menjadi titik-titik air mata serupa hujan yang tidak lagi indah. Cerita liburan pun termanifestasi dalam berbagai wujud, bergerak naik dan turun mencipta kerinduan dan berharap waktu membawa kita menyusuri tepian-tepian kenangan masa liburan hingga akhirnya kenangan vakansi itu menjelma menjadi candu dimana kita merasa hidup tidak lengkap jika tidak meliburkan diri di dalam pelukan angka merah. Yang akhirnya membuat kita menggigil pada rindu yang membungkus setiap bulir cerita, dan itu membuat kita resah. Maka dalam setiap lara itu, Manifrustasi menyandarkan keresahan mereka pada rintik-rintik yang jatuh untuk menggemburkan tanah dalam narasi sebuah lagu berjudul “Angka Merahmu”. Sebuah filosofi tentang angka merah.

Bulan sudah mengetuk matahari, dan kini waktunya malam menjaga langit, ingar bingar masih terdengar di sudut-sudut tempat meski udara bisa saja menguraikan bermacam-macam penyakit. Sepertinya semua orang sudah mulai bosan dengan keadaan yang ‘mengunci’ mereka dari alam luar. Dalam waktu-waktu terkunci itu, Manifrustasi tumbuh dalam lindapan gelebah akan liburan bersama teman-teman hingga terciptalah “Angka Merahmu” yang dirilis pada 14 Agustus 2020 sebagai manifestasi kerinduan inter-personal dengan manusia lainnya untuk berbagi liukan adrenalin bersama-sama. Lagu dalam balutan Pop-Alternative ini direproduksi oleh Bagas Biant (Vokal), Alvinza Steven (Gitaris, Reza (Bass), Arief (Gitar), Awan (Drum) dan direkam di Studio Satrio Piningit milik Sasi Kirono. Setiap hentakan nada yang ringan dalam notasi lagu ini seolah datang dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan yang sejenak membuat kita lupa akan tabir ketika setiap orang masih bersama-sama dalam sisi lain sebuah koin. Meski selintas lagu ini mengingatkan saya akan lagu The Banery “Tanpamu”, namun keciri-khasan dari lagu “Angka Merahmu” yang terdengar sederhana dan mudah dikenali sebagai cara menyebrangi selapis kulit dan daging sebagaimana yang tengah membatasi kita semua. Liriknya pun seolah tengah bercakap-cakap dalam bahasa jiwa hingga waktu, usia dan perbedaan jasad setiap manusia hanya sebagai hadiah dari sisi koin dimana kita tinggal sekarang. Hingga ini semua bukan hanya tentang sebuah liburan, namun sebuah hadiah berupa hidup yang harus direngkuh dan diterima.

 

Simak! di HujanMusik! : “LOR, “Check 1. .2. .3” Dari Utara Yogyakarta”

 

Dalam setiap cerita memiliki hikayat sebuah nama, hingga dalam setiap nama itu terdengar tidak asing tetapi barangkali sering lupa untuk kita sapa. Sebuah nama yang mengajarkan kita kata-kata, bahasa, nada dan apa saja yang membuat kita bahagia. Sebuah nama yang memelukmu dari belakang, sambil melingkarkan detaknya di bahumu, nama Manifrustasi adalah sebuah nama yang jika diibaratkan menjadi sesosok manusia, maka ia adalah seorang pemudia berusia 19 -26 tahun yang tengah mencari makna hidup dan pencarian jati diri dimana balutan nama itu tengah mengemudikan hati, tubuh dan hidupnya menjadi penasbih embrio filosofis Manifrustasi. Hingga akhirnya, kelahiran mereka pada 22 April 2019 dalam rimba amniotik sebagai penanda dimana setiap cerita dan nama tengah menyediakan sebuah dunia untuk dipelajari untuk mengapung bersama hidup.

Setiap kita memiliki sisi cerita yang berbeda, menjadi aktor atau pencerita untuk kisah-kisah yang selalu punya kemungkinan bertemu di sejumlah persimpangan. Dan jika liburan itu adalah candu, maka ketika candu itu tidak mampu melengkapi dirinya di hidup setiap individu pada masa penuh wabah ini, maka tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain berserah dan menerima apapun yang tengah dipersembahkan semesta. Karena liburan tidak akan memiliki makna apapun jika tidak ada sosok lain untuk kita luapkan rasa rindu itu, maka buatlah pertanyaan-pertanyaan seperti hal apa yang ingin selalu kita lihat setiap kali membuka mata di pagi hari. Maka liburan pun bisa kita maknai sebagai hidup dimana cerita sedih dan linangan air mata yang jatuh bukan berarti suka atau duka. Namun seperti itulah hidup, tidak menginginkan apapun selain menghidupi diri kita sebagai sesuatu yang harus kita syukuri, hingga ketika waktu berubah pun akan banyak yang bisa kita rindukan. Dan karena itulah, selamat berlibur ke dalam diri masing-masing!.

(Visited 118 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *