Genderang Rock Perdana Loose Ends

Loose Ends, unit alternative rock Bogor yang menabuh genderang rock perdana mereka dengan "Flwrlss"

Loose Ends, unit alternative rock Bogor yang menabuh genderang rock perdana mereka dengan "Flwrlss". Foto : dok.Looseend

 

Artikel : Anggitane

 

HujanMusik!, Bogor – Raungan gitar penanda kehadiran itu terdengar semacam genderang perang perlawanan. Seolah mereka sedang menderu dan menyeru, bahwa suatu tempat di alam raya ada sekelompok pemuda yang tengah melanjutkan aktivitas mereka secara rock. Tak peduli meski berbagai belahan bumi tengah sibuk menekan pergerakan COVID-19 yang telah menjelma menjadi situasi pandemi. Genderang rock yang coba digelontorkan secara jujur oleh mereka yang menamakan diri mereka Loose Ends, melalui single perdana, “Flwrlss”.

Jam saku masih menunjukkan tanda pagi, ketika modul kapsul mimpi baru saja lepas dari ketidaksadaran. Beranjak sekedarnya saja, karena toh tak bisa kemana-mana. Bogor, kota dimana saya dan Loose Ends berada kabarnya tengah berada dalam zona merah. Tanda masuk COVID-19 yang memaksa beberapa orang yang tak memiliki kepentingan diluar rumah untuk tetap diam ditempat. Sebisanya bekerja dan melakukan kegiatan lainnya dari rumah.

 

Simak! di HujanMusik : “Distansia, Proyek Musik manusia Seutuhnya”

 

Dalam kondisi seperti ini, Loose Ends, kelompok musik yang terbentuk di Bogor pada Desember 2017 silam itu tampak sedang mengeluarkan energi positif dengan berinisiatif merilis video musik single perdananya. Single yang mereka rilis ditengah suasana pandemi dalam format video musik. Loose Ends sepertinya berusaha mencatatkan momentum pandemi melalui single perdananya dengan konsep bermusik atau berkegiatan dirumah, mencoba untuk keluar dari kejenuhan.

Mengenali Loose Ends melalui demo yang mereka kirim ke ruang redaksi HujanMusik!, saya seperti mengenali masa-masa rock alternative masih berjaya dengan alternative nation-nya. Sound yang akrab dengan formasi dua gitar, bass dan drum.

“Flwrlss” menjadi besutan Zico (vokal/gitar), Adit (gitar), Galuh (bass), dan Dimas (drum) menapak jalur musik mereka. “Flwrlss” merupakan akronim dari flowerless, sebuah judul yang mereka dipilih untuk single perdananya itu. Dalam single ini, Loose Ends mencoba melabuhkan tutur cerita seseorang yang kehilangan pasangan karena mimpi – mimpinya termakan oleh waktu. Lantas mencoba keluar dari momen bilur biru, namum tetap masih beradaptasi dengan perpisahan. Pendeknya, semacam himpunan rock yang tengah merenung. Barangkali lagu ini tepat untuk menggambarkan keluarga Loose Ends yang maret 2019 lalu harus kehilangan salah satu personil yang mengundurkan diri.

Single “Flwrlss” direkam Kadal Records dibawah racikan kreatif Ryan ‘Belel’ Regiatna (Outstep). Barangkali ini menjadi alasan kenapa rock mereka terdengar lebih alternative menuju punk daratan Amerika. Apalagi ada nama Yagi Wiraya untuk urusan mixing dan masteringnya.

Video musik “Flwrlss” yang editingnya dikerjakan Galuh telah rilis di kanal youtube Loose Ends BGR sejak tanggal 1 Mei 2020.

Versi digital audionya juga tersedia di bandcamp, Spotify dan Apple Music.

Pada akhirnya, tanpa perlu membandingkan kesesuaian tema lirik yang ditulis dalam bahasa Inggris. “Flwrlss” menjadi pilihan dengar motivasi melawan pandemic. Pun jika kita hanya merenung.

Menyitir kalimat seorang sahabat, bahwa merenung itu sehat.

(Visited 121 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *