Bandempo, Noktah Indie Antah Berantah

Bandempo, kolektif legenda alternative/indie rock keluaran Jakarta. Merilis ulang karya mereka secara digital.

Bandempo, kolektif legenda alternative/indie rock keluaran Jakarta. Merilis ulang karya mereka secara digital. Foto : dok.Bandempo

 

Artikel : Anggitane

 

HujanMusik!, Jakarta – Gerah pada penghujung hari sungguhlah menjemukan. Menduga bahwa malam-malam bakal terasa lebih dingin, sementara petang dan waktu masih sekongkol melambatkan segala sesuatu. Perlahan, saya yang tengah terjebak dalam suasana tempo-tempo, terus saja sibuk memilih lingkar putar pada nada-nada sekelebat generasi indie terbitan institusi seni Jakarta. Suasana yang lantas membawa saya menerka-nerka dan menyaut kabar Bandempo, noktah indie yang antah – berantah dimasa-nya.

Sebagaimana awam, saya tak memiliki pengetahuan banyak terkait band ini. Kiprahnya pertama saya ketahui dari sebuah selebaran pertunjukan di tatar Blok M, dalam sebuah perjalanan menikmati panggung teman di Wapres Bulungan. Tak berkesempatan memiliki karyanya secara fisik maupun persinggungan langsung. Satu-satunya jalan merasa kenal hanyalah sekedar menyaksikan panggung mereka dari kejauhan.

Bandempo memang sematan yang terkesan sekelebatan. Maklum, tak banyak sebenarnya yang tahu seperti apa kiprah band ini. Barangkali jika disodorkan nama sosok Anggun Priambodo publik relatif marfum. Sepak terjangnya sebagai seniman visual dalam kolektif The Jadugar lebih mumpuni dibandingkan lagu “PDKT 6 Bulan”.

 

Simak! di HujanMusik! : “Arsipkan Karyamu!, Membaca Pergerakan Seni Visual Indonesia Melalui Arsip-Arsip The Jadugar”

 

Pun demikian halnya saya. Nama Anggun Priambodo menjadi satu-satunya warisan kuat yang bisa memaksa saya mengingatnya sebagai kolektif berkelas yang patut diketahui generasi kini. Para personil Bandempo yang terdiri dari Anggun Priambodo (vocal), Matheus Bondan (gitar), Jimmy (gitar), Wenceslaus de Rozari (bass), dan Ade Wahyu Pratama (drum) adalah mahasiswa IKJ angkatan 1996. Pengalaman menyaksikan penampilan Naif di panggung orientasi mahasiswa baru membawa motivasi dan inspiriasi untuk membuat racikan musik mereka sendiri.

Lantas mereka tumbuh sebagai salah satu eksponen “lulusan” IKJ yang dikenal dengan nama-nama besar seperti Naif, The Upstairs, hingga White Shoes and The Couples Company.

Sekelumit catatan album debutnya pernah menuai penobatan Album Terbaik Indonesia Dekade 2000-2010 versi Jakartabeat. Saya terkenang dengan uraian yang menyebut album ini sangat hangat. Mempunyai kandungan nostalgia. Tapi gagasan musiknya sangat maju. Satu-satunya rilisan CD album mereka yang dirilis pada 2003 memiliki kemasan unik menggunakan tiga cover berbeda.

 

 

Bandempo sangat berhasil meleburkan beragam pengaruh musik, bagaimana pop Indonesia era 1970an seperti Koes Plus dan Tetty Kady bercampur dengan indie rock, dan mengambil nama seorang pelawak Srimulat untuk nama band mereka.

Saya bersepakat dengan catatan non propaganda mereka. Bahwa musik Bandempo menjelma sebagai anomali dari berbagai sub genre rock yang merebak di Indonesia pada 1990an. Jalurnya tak mudah untuk dikategorikan dan dipadankan, namun layak digemari oleh mereka yang merayakan ekspresi pop yang “baru”. Sesuatu di antara picisan dan maju.

Juni 2000, adalah waktu keramat Bandempo yang merilis albumnya dalam format kaset dengan kemasan yang menyerupai mainan robot-robotan. Tiga tahun kemudian mereka merilisnya dalam format CD dengan tiga varian sampul album, masing-masing berupa foto Polaroid lima orang berdiri berjejer di mana tak seorang pun dari kelima orang tersebut adalah personil Bandempo. Pada 2016, album Bandempo kembali dirilis ulang, kali ini dalam format piringan hitam; menghadirkan pelawak Tesi dari Srimulat sebagai sampul albumnya.

Lalu, setelah meracuni antah berantah musik alternative/indie rock nyaris 20 tahun sejak pertama kali dirilis, album self-titled Bandempo di-remaster oleh Levi dari the Fly untuk dirilis di berbagai digital platform: iTunes, Spotify, Joox, Deezer, Tiktok, Langit Musik, Shazam, iheartradio, Amazon mp3, dan Apple Music.

Memilih dirilis secara digital sejak Jumat, 14 Agustus 2020. Rilisan yang membuat saya merasa senang sekaligus iri dengan generasi kini. Paling tidak ada cara jauh lebih mudah untuk mendengarkan debut album Bandempo, sebuah album “asing” yang pada masa pertama beredarnya hanya dicetak 150 kaset saja.

(Visited 131 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *