Kerinduan Fajar Sandy yang Tertuang dalam “Surat Untuk Mallieh”

Mallieh, sahabat yang menginspirasi seorang Fajar Sandy

 

Artikel : Sekar Puspitasari

 

HujanMusik!, Malang – Ada dua jenis rasa rindu yang bersemayam dalam diri. Kerinduan yang pertama adalah sebuah rindu yang tidak mengada namun kita begitu keras untuk menunggu dengan setia dalam penantian yang lugu. Kerinduan kedua adalah bentuk kausa dari apa yang telah kita rasakan dan menjadikannya sebuah gelombang kesadaran membawa dunia menuju arus integral sehingga membentuk cerita dalam relevansi  rahasia sebuah perjalanan rasa. Dan pada saat menuliskan kerinduan itu, jiwa ikut terbakar oleh harapan bahwa perubahan besar itu pasti akan datang dan mengakhiri Kali Yuga demi membangunkan jiwa yang sudah siap landas ke atas semesta ekstase. “Surat Untuk Mallieh” yang dituliskan oleh Fajar Sandy adalah langkah rindu yang berayun menyimpan haru waktu untuk menyumbang secercah riak di atas gelombang samudera yang tak terbatas ini untuk menyingkap tabir hingga tidak ada lagi keterpisahan.

Nama Memey begitu lirih tertulis dalam dinding semesta seorang Fajar Sandy. Dimana nama itu bukan sekedar nama biasa, namun nama itu pula lah sebab dari sebuah pelepasan rasa yang kemudian bertumbuh dimana segala tempat telah kehabisan ruang, hingga akhirnya mengubah sesosok perempuan tersebut menjadi sebuah lagu adalah cara untuk keluar dari petak sempit itu.

“Awalnya kaget mendapatkan hadiah berupa lagu, kenal mas Fajar Sandy hanya lewat rekan crew internal kami yang memang sebelumnya kenal dengan beliau, turut senang dan bahagia mendapatkan perhatian jauh dari Kota Malang, semoga ini menjadi ‘sangu’ untuk seluruh tim kami berbenah dan lebih kreatif kedepannya”, ungkap Memey, hingga akhirnya keduanya pun saling membentuk sempena hati dan saling membagi perjalanan untuk mengalahkan waktu.

 

Simak di HujanMusik! : “Pejamkan Matamu Pusakata”

 

Lagu berdurasi singkat ini semacam persembahan tersendiri untuk ‘Mallieh’ yang telah menghabiskan waktunya menjadi seorang narator di kehidupan sang Fajar seraya menjadi seorang tokoh yang tersentuh dalam layar kanal bernama ‘Emak Tapai’. Bak mengantongi berlian mungil yang sesekali ia intip untuk melihat cahayanya, kebanggaan melihat sisi lain dari lansekap sebuah kota di lensa seorang perempuan yang berbalut dalam tenunan budaya Madura kental telah melenggang dengan tenang ketika Fajar mencipta lagunya tersebut di sebuah studio pribadi miliknya di kota Malang. Menggaet Ilham Nurul Rahman dalam pengisian Saxophone dan irama piano yang dimainkan oleh Amy Yuviantono dari Ruang Raya untuk ia percayakan dalam proses mixing juga mastering-nya membuat seluruh ruangan bergetar oleh suara balada lagu tersebut.

Setelah sekian lama berkecimpung di dunia musik dimana Fajar Sandy lebih dikenal sebagai gitaris KOS ATOS yang telah memiliki 4 Album. Dan ‘Surat Untuk Mallieh’ adalah kelahiran baru baginya di industri ini sebagai seorang pemusik solo. Ia menyanyikan juga mencipta komposisi lagu secara singular hingga mampu menerbitkan 2 single di tahun 2020 ini.

 

Mallieh dan Fajar Sandy

Setiap karya selalu membangkitkan makna harapan, sementara harapan bagi Fajar adalah dapat menjadi ‘semangat’ tersendiri untuk Mallieh agar selalu konsisten memperkenalkan Madura lewat komedi yang ia bawakan selama ini. Lagu ini pun telah menjelma seperti udara pagi nan dingin dan dipayungi kabut yang akan selalu menceritakan bermacam kisah dengan apa adanya. Dan semua kisah itu sudah terbungkus menjadi satu hingga bisa kita nikmati lewat kanal youtube ‘Emak Tapai’ juga  melalui pemutar digital seperti Spotify, Itunes, Apple Music pun aplikasi pemusik lagu lainnya.

Entah bagaimana rasanya jika kita melupakan rasa rindu lalu menjelma menjadi kebisuan yang tidak bisa kita ungkap, namun ketika mendengarkan lagu ini memberikan saya pengalaman emosional yang beragam dalam satu trip. Balutan suara Saxophone  begitu menonjol terdengar di tiap ceruk lagu dan nada-nadanya seolah mengingatkan kita bahwa hidup sepenuhnya adalah sebuah perayaan kecil dimana yang akan tertinggal di akhir cerita adalah bahasa rindu yang diam tapi bergerak.

Akan selalu ada rasa tenang di sela-sela gelisah ketika rasa takut pada lara akan menghilang  kemudian menguat pada inti rindu. Semuanya terangkum apa adanya pada setiap kata-kata dalam lirik lagu “Surat Untuk Mallieh”. Lariknya seolah-olah sedang menceritakan segenap rasa yang tercipta dan akan selalu terhenti di langkah rindu itu. Seperti segala hal yang telah kita lupakan akan kembali mengingatkan dalam suasana tertentu hingga  percikan rindu itu mampu membawamu jatuh dan melabung dalam waktu bersamaan.

Ini surat ku kirimkan
Untukmu sebagai obat rindu,
Hei-hei engkau, Malliehku,
Lagu ini hanya untukmu

Ini lah surat untukmu Mallieh! semoga dari setiap kerinduan ini tidak melahirkan kesendirian yang panjang. Semoga kalian tidak saling lupa. Sementara itu rengkuhlah rindu, karena segala rindu  adalah untuk dinikmati bukan untuk dimengerti.

(Visited 35 times, 1 visits today)

1 thought on “Kerinduan Fajar Sandy yang Tertuang dalam “Surat Untuk Mallieh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *