Salah satu personil band Antartick yang tengah getol mengisi kanal youtube pribadi. Ilustrasi : Graditio

 

Artikel : Rizza Hujan

 

HujanMusik!, Bogor – Rabu itu saya sukses menunaikan janji temu dengan Helvi untuk ‘ngoceh’ demi kepentingan konten kanal youtube HELVI RYNT / #diocehinhelvi. Medan baru ini cukup menantang sekaligus menebar endorfin dalam dosis tinggi. Dan saya menjalaninya sebagai pengalaman mendebarkan. Kami berbagi cerita tentang pengalaman di dunia musik dan tulis menulis. Tidak hanya bertanya, Helvi yang datang bersama Koran dan Anggi dari Jeansroek juga banyak berkisah tentang bagaimana awal serta lika liku perjalanan mereka terjun ke rimba hijau permusikan. Ternyata pengalaman mereka mumpuni sebagai musisi dan personil sebuah band yang kalau dijadikan sebuah artikel maka harus saling terpisah.

Terkait PSBB akibat pandemi yang melanda negeri, Koran mengaku sangat tertekan dan serasa mau mati. Diam berlama-lama memang bukan gaya hidup sang guru seni. Sementara Helvi si pemain bass kolektif pop rock, Antartick, memaparkan rencana band-nya yang akan merilis album penuh. Sayangnya dia sendiri belum tahu kapan rencana itu akan terealisasi. Lagi-lagi, disebabkan pandemi. Yang pasti, Antartick sudah mengeluarkan lima single dan tidak berencana berhenti sekarang.

Narasi mengejutkan datang dari Anggi, pencabik gitar Jeansroek. Selain nge-band, ternyata dia juga aktif sebagai seorang musisi yang memainkan Electronic Dance Music bergenre Dubstep layaknya Skrylex dan Virtual Riot. Darinya, saya baru tahu musik elektronik juga punya genre. Anggi yang memilih nama Erezoid sebagai alter rupanya masih kesulitan mendapat panggung di Bogor, bahkan di Indonesia akibat musiknya masih belum bisa diterima sebagaimana mestinya.
“Susah nyari panggung di Bogor untuk musik yang gua bawa. Tapi nggak apa-apa, karena gua suka dan seneng main musik ini”. Kata Anggi di sela tatapan matanya yang menerawang jauh. Erezoid sempat dilirik musisi se-genre dan label luar negeri, salah satunya Disciple. Dia pun mendapat tawaran berkompetisi di California, Amerika Serikat. Rasanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk Erezoid keluar dari pengasingan menuju pesta yang menjadi lahan bermainnya.

 

Simak di HujanMusik! : “Dear Rolling Stone Indonesia, Apa yang Kamu Lakukan Itu Jahat..”

 

Senja dan kopi ditambah bahan obrolan berisi memang jadi menu utama kami waktu itu. Tentu dengan sejumput bumbu ghibah terselip diantaranya. Tambahan sesendok teh harapan dan keinginan liar pun menjadikan senja tambah syahdu. Pekerjaan masing-masing di luar musik tidak luput dari pembahasan. Menarik, karena Helvi dan Koran berprofesi sebagai guru. Ini juga jadi bukti kalau senja tidak selalu identik dengan ‘Indie’. Atau malah mereka ini yang disebut guru Indie?.
Indie atau bukan tak jadi soal karena yang penting mereka selalu tampak bergerak dengan energi berlebih juga kesantunan yang menghangatkan.

Perbincangan malam itu nyata bergizi. Saat Helvi dan saya membahas bagaimana seharusnya membuat press release, Koran, langsung menyusun kata untuk dijadikan materi artikel tentang video klip terbaru Jeansroek. Bermanfaat. Kami pun sempat bermuram durja saat mendiskusikan band yang kami anggap bagus tapi tidak terlalu aktif. Apalagi soal adanya jarak antar musisi. Kami satu visi soal keinginan cairnya rasa. Hati kami berteriak di kesunyian, mengatakan sudahlah, sudahi saja keraguan untuk mengakui dan menerima bahwa waktu terus bergulir, masa berganti, dan mari saling menopang demi keberlangsungan ekosistem musik di Bogor. Karena sekecil apapun kontribusi akan berarti selama dikerjakan dengan bahagia. Penerimaan kolega serta pendengar dengan lapang pasti punya makna.
Tapi di lain sisi, saya bersyukur dengan jarak itu selama outputnya adalah persaingan kreatif nan sehat.

Langit sudah gelap, tak terasa waktu menunjukkan jam sembilan. Tiga sekawan itu pun pamit mundur meninggalkan segenggam kenangan dalam keranjang pertemanan. Sampai jumpa di lain kesempatan. Tetap berkarya supaya tidak terasing di keramaian.

 

(Visited 119 times, 1 visits today)

1 thought on “Bicara Tentang Musik dan Literasi di Senja yang Tidak Indie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *