Gumpalan Kejenuhan Fox Fort

Foxfort, kolektif alternative rock/grunge Jakarta-Bandung ini merilis single dengan formasi anyar.

Foxfort, kolektif alternative rock/grunge Jakarta-Bandung ini merilis single dengan formasi anyar. Foto : dok.Foxfort

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Jakarta – Derak industri menekan buruh kelas pekerja, membawa asa pada sebauah rutinitas yang mengekang. Tak ada pilihan, suka tak suka beban kerja yang memperbudak haruslah kita terima lapang dada. Pun manakala ketidakpedulian perusahaan mengemuka dari keluhan menjadi pemberitaan. Memang terdengar sumbang dan tidak menyenangkan. Semua itu akan lebih menyebalkan ketika ditambah dengan adanya atasan yang bersikap buruk plus gila kerja yang destruktif. Begitulah, semacam gumpalan kejenuhan yang berakhir dalam sebuah single berdarah grunge “Hilang Masa” oleh Fox Fort.

Fox Fort merupakan kuintet alternative rock/grunge asal Jakarta yang mulai memperkenalkan musiknya sejak 2015. Muncul pertama di Bandung dengan memperkenalkan single “ The Antonym” yang kemudian berlanjut debut Extended Play (EP) Fox Fort bertajuk “World EP”.

“Hilang Masa” merupakan single terbaru mereka yang dirilis pada 10 April 2020 lalu pada berbagai layanan musik digital. Lagu yang sudah ditulis sejak 2018 ini menjadi rilisan pertama Fox Fort dengan formasi anyar setelah bergabungnya Dewandra Danishwara (vokal/gitar) dan Adhiwira Gautama (vokal/gitar).

 

Simak di HujanMusik! : “Tutur Kecemasan Hidup Remissa”

 

“Hilang Masa” menandai kembalinya Fox Fort dengan personel baru ini diawali oleh riff dan lirik dari eks-vokalis/gitaris mereka, Arga Arkadhia Yusuf, yang mundur di tahun 2019. Kini formasi Lukman Kosasih (bass), Adhiwara Gautama (gitar/vokal), Dewandra Danishwara (gitar/vokal), Yuananda Bayu (drum) dan Valdyan Putra (gitar/vokal).

“Hilang Masa” merupakan tutur tentang kejenuhan dan ketidaksukaan terhadap atasan yang memiliki sikap buruk plus gila kerja yang negatif. Situasi titik awal penulisan lirik lagu ini yang berdampak pada lingkungan toxic yang membuat manusia di dalamnya saling sikut-menyikut, membuat proses dehumanisasi semakin sempurna.

“Ada kejadian yang membuat gue nulis lirik ini. Gue udah bener-bener geram sama culture di korporasi yang benar-benar kaku. Gue sebel karena manajemen perusahaan cuma mikirin revenue dan revenue. Enggak ada berpikir tentang manusia yang di dalamnya. Jadi perusahaan itu memanusiakan manusia atau merobotkan manusia?” jelas Arga, former vokal/gotar yang menulis lirik “Hilang Masa”.

Valdian Putra, gitaris/vokalis dari Fox Fort lainnya juga menyatakan bahwa “Hilang Masa” mencerminkan bagaimana mereka merasakan apa yang dirasakan banyak orang dan semua hal tersebut dituturkan menjadi sesuatu yang bermakna.

Bukan cuma itu, proses peluapan emosi menjadi hal yang sangat jelas terdengar saja dari lagu ini. Melalui “Hilang Masa” mereka seperti melepas penat dari segala kesibukan aktifitas sehari-hari. Ada rasa puas untuk meluapkan emosi sesaat pada lagu ini.

“Hilang Masa” mulai dikerjakan sejak 2018, merupakan materi salah satu demo yang dibuat di tahun tersebut dan akan termuat dalam debut album yang rencananya akan rilis akhir tahun ini. Satu dari 20 bagian materi yang akan dikurasi menjadi sepuluh untuk album tersebut. “Single ini merupakan proses awal pendewasaan Fox Fort dalam bermusik. Sejak awal terbentuknya materi hingga proses pascaproduksi, semua terjadi secara organik tanpa menjauhkan karakter musik Fox Fort sekaligus memenuhi emosi dari isi lagunya sendiri,” tambah Yuananda Bayu (Anyu), penggebuk drum Fox Fort.
Pada akhirnya “Hilang Masa” justru menjadi awal kebangkitan lima anak muda yang memiliki filosofi musik beranekaragam yang berusaha menampilkan musik berkualitas untuk dapat membangkitkan musik rock di Tanah Air.

Kira-kira begitu.

 

(Visited 118 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *