Pesan Tak Nyata dari Epigraph

Epigraph, unit metalcore asal Bandung merilis single "Unreal".

Epigraph, unit metalcore asal Bandung merilis single "Unreal". Foto : dok.Epigraph

 

Artikel : Johanes Jenito

 

[HujanMusik!], Bandung – Untuk apa hidup ini? Untuk apa hidup ini? Untuk apa hidup ini?.

Rangkaian pertanyaan di atas adalah sedemikian ikonik bagi para pegiat berbagai literatur nihilisme dan eksistensialisme sejak lama. Sementara sebagian penikmat skena indie-underground justru baru mengenalnya lewat lagu “Rasa Takut Adalah Seni” karya Koil, kuartet industrial-rock kugiran dari Bandung, yang rilis 2001 silam. Koil menampilkannya sebagai sampling di pembuka lagu.

Bila boleh dianggap serius, pertanyaan itu sungguhlah menggelitik nurani dan akalbudi kita. Jawabnya bisa jadi sebuah refleksi manusia untuk tetap hidup dalam jati dirinya.

Sembilan belas tahun tahun kemudian setelah Koil, Epigraph, kuintet pengusung metalcore asal Cileunyi Bandung, kembali mengumandangkan tema yang serupa dengan pendekatan musik yang lebih masa kini dalam single terakhirnya yang berjudul “Unreal”.

“Unreal” rilis pada 12 April 2020 lalu lewat kanal YouTube. Formasi yang berisi Iweng (vokal), Hilmi Imiw (guitar), Raka Acil (drum) Hap-hap (guitar) dan Ozan Felix (bass) melaju dalam rel musik yang senada dengan band-band seperti Lamb Of God, As i lay dying, Chimaira dan Sepultura.

 

Simak di HujanMusik! : “Doktrin Stoner dan Hardcore Punk Spud yang Melibas Sebelum Album”

 

Ide penulisan lagu ini berasal dari Hap Hap berdasarkan pengalaman pribadinya. Saat itu ia gelisah bila suatu saat dirinya terhasut pada realita buruk pergaulan di skena musik yang identik dengan beraneka-ragam kenakalan masa muda. Sekuat tenaga dilawannya dengan beragam dinamika yang terjadi.

Narasi Hap Hap diterjemahkan Iweng dalam menyusun lirik lagu. Tanpa basa-basi dan tegas. Ia ingin mengungkapkannya dengan jujur.

Secara musikal lagu ini masih taat pakem. Iweng meneriakkan kalimat lagu. Duo Hap Hap dan Hilmi bermain pada duet riff gitar yang keras dan tebal karena teknik drop-tuning. Sesekali Hap Hap memainkan solo gitar di bagian tengah ke akhir lagu. Sementara Raka menggebuk drum dengan dentuman punk-hardcore ber-beat cepat.

Mereka berlima setuju bila materi ini memiliki struktur lagu yang harmonis, beralur dinamis dan tetap mampu memberikan hentakan.

Epigraph terbentuk pada tanggal 27 Januari 2013. Band ini kerap bongkar-pasang personil, khususnya di seksi gitar dan bass. Hanya Iweng, Raka dan Hilmi adalah para pendiri. Hap Hap datang pada 2017 dan Ozan di 2018. Mereka memiliki EP album berjudul “Aggresive Ressurection” yang rilis saat perayaan eksistensi Epigraph yang ke-5.

Bagi kolektif ini, single “Unreal” adalah pemanasan bagi terbitnya album baru. Sementara bagi kaum nihilis dan eksistensialis, pesan dalam “Unreal” mungkin bisa berarti terjemahan atas “Apa yang aku sayangi antara Tuhan, Setan dan diriku sendiri”.

(Visited 45 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *