Distansia, Proyek Musik Manusia Seutuhnya

Distansia, proyek musik Ryan Regiatna dan Nanda Rahmadya. Mereka merilis "Manusia Seutuhnya".

Distansia, proyek musik Ryan Regiatna dan Nanda Rahmadya. Mereka merilis "Manusia Seutuhnya". Foto : dok.Distansia

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Bogor – Sebuah pesan langsung menghampiri gawai saat jeda periode kedua Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) beberapa waktu lalu. Pesan yang masuk dan singgah pada sebuah aplikasi media sosial daring pribadi saya. Tak panjang, ia hanya berisi tautan link dengan sekelumit sapa dan tinjauan atas karya yang disertakan. Sebuah karya musik segar yang singgah disela-sela tugas mengikuti webinar yang tengah menjalar. Berselancar dan menikmatinya membuat nalar berhenti mengutuk, menerima keadaan seperti cara Distansia menunjukan tanda-tanda “Manusia Seutuhnya”.

Menyimak sejak musik pembuka seperti menyadarkan bahwa “Manusia Seutuhnya” merupakan proyek kreativitas pertemanan para penciptanya. Bermusik secara indi, berteman akrab dengan jalan punk rock yang sama. Layaknya persaudaraan rock yang tuntas menentukan identitas punk macam apa mereka. Sesuatu yang bisa dibilang tak mudah.

Distansia adalah project musik sampingan duo musisi lokal Bogor yang akrab dengan pergaulan punk di kota hujan. Keduanya memiliki latar belakang kolektif musik yang masing-masing punya tanda-tanda khusus, bisa jadi itu sebuah tanda sejak meraka kanak-kanak dan bertahan hingga keduanya bapak-bapak. Mereka adalah Nanda Rahmadya (Indoriot) dan Ryan Regiatna (Outstep).

 

Simak di HujanMusik! : ““Kita Indonesia”, Pesan Keberagaman dari Kota Hujan”

 

Guliran musiknya mengingatkan saya pada gaya musik sekolah menengah pertama, saat pop punk asal Berkeley bernama Green Day meraimaikan hari-hari dengan kumpulan karya dalam album pop punk-nya, Dookie.

Sementara bacaan lirik yang terdengar seperti mahasiswa matang yang berada dipersimpangan, pilihan antara prestasi akademik atau demonstrasi atas nama keadilan sosial. Menyuarakan keresahan yang dekat terhadap maraknya aksi intoleransi, khususnya agama yang terjadi dibanyak pelosok negeri.

“Proses terciptanya lagu “Manusia Seutuhnya” awalnya terjadi dari keresahan-keresahan kami terhadap maraknya intoleransi, kemudian Nanda tuangkan dalam bentuk lirik dan di-aransemen oleh Ryan,” tulis pihak Distansia dalam narasi keterangan lagu mereka.

Distansia dan “Manusia Seutuhnya” tercipta ditengah situasi dan kondisi PSBB yang membatasi. Namun Ryan dan Nanda tak habis akal, apalagi mati gaya dan berhenti mencipta. Keduanya memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan saling berkirim file audio melalui jalur maya demi menghapus jarak Bogor-Jakarta. Sementara nama Distansia diciptakan oleh Noorlintang Suminar (Nori) yang pada lagu ini juga mereka percayakan sebagai penyunting lirik.

Selain lirik/vokal yang ditulis/diisi Nanda Rahmadya, seseluruhan musik dibuat oleh Ryan Regiatna, baik gitar, bass dan drum yang pada project ini juga merangkap editor dan mixing engineer. Perekaman dilakukan di Studio KADAL di Bogor.

“Dengan segala kekurangan teknis, kami cukup bangga bisa mempresentasikan karya ini walaupun sementara hanya via digital. Semoga ketika kelak semua normal (bukan new normal), kami bisa memperkaya kekaryaan kami dan menyuguhkannya di gigs-gigs yang sudah dinantikan,” tulis Ryan, menutup narasi tentang karyanya itu.

Salam Sehat! Salam Toleransi!

(Visited 37 times, 1 visits today)

1 thought on “Distansia, Proyek Musik Manusia Seutuhnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *