Pejamkan Matamu Pusakata

Pusakata, penyanyi solo. Ia merilis single proyek Sisir Kota Pesisir berjudul "Pejamkan Matamu"

Pusakata merilis single proyek Sisir Kota Pesisir berjudul "Pejamkan Matamu". Foto : dok.Pusakata

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Jakarta – Saya masih mendengarkan musiknya, menyimak bait-bait lirik yang dilagukannya. Tak ada yang berubah. Cara dia menyapa crowd masih intim, memperpendek jarak meski keseringan menjejak panggung besar telah banyak dilaluinya bersama kolektif folk sebelumnya. Kini dengan entitas barunya bernama Pusakata, Mohammad Istiqamah Djamad melirihkan energi, memejamkan mata dan terciptalah single “Pejamkan Matamu”, persis dari ketinggian danau Tolire Ternate.

Begitulah, Pusakata menembus keraguan dengan memilih asupan energi, mencipta karya hasil serapan alam sekitar setelah sebelumnya pungkas merilis album “Dua Buku”.

“Pejamkan Matamu” menjadi permulaan proyek Sisir Kota Pesisir yang digagasnya. Bentuk ramuan momentum penyadaran diri, bahwa alam sudah memberi banyak kepada kita dan sudah banyak menjaga kita, sehingga sudah sepatutnya kita juga menjaga alam sekitar. Momentum penyadaran yang membuka mata fisik dan batin, bahwa alam juga selalu memberi tanda bila akan terjadi sesuatu, namun terkadang kita lupa membaca tanda bahkan tidak menghiraukan tanda tersebut.

Dari Sisir Kota Pesisir Vol. 1 telah tercipta 3 buah lagu, dan “Pejamkan Matamu” merupakan salah satu single yang rilis pada 3 April 2020 melalui digital store. Secara khusus Pusakata menuliskan bahwa lagu itu tercipta tepat diketinggian Danau Tolire Ternate. Sebelum dirilis versi digital audio, single “Pejamkan Matamu” sudah rilis melalui akun Youtube Pusakata Official pada 25 Maret 2020 dan menuai respon sangat baik.

 

Simak di HujanMusik! : “Meniti Jalan Pulang Senin Malam”

 

Semua bermula pada 2015 silam, ketika Pusakata melihat betapa Indonesia begitu indah, kaya, dan sangat luas. Terpikat dalam rona daerah pesisir yang garis pantainya terbentang kurang lebih 100.000 km panjangnya. Kondisi demografi, sumber daya dan keadaan masyarakat pesisir menggugah Pusakata untuk menangkap dan merangkum potensi wilayah pesisir di Indonesia ke dalam sebuah karya. Lantas ide awal Sisir Kota Pesisir pun lahir.

Tak hanya terpikat dengan keindahan dan potensinya, kehidupan di kawasan pesisir juga menyisakan problema, salah satunya ketersediaan air bersih yang terbatas. Oleh sebab itu Pusakata bertekad untuk menyisihkan sebagian hasil penjualan lagu-lagu ciptaannya pada Sisir Kota Pesisir ini untuk membangun sarana penyediaan air bersih di pesisir, sebab air merupakan kebutuhan dasar bagi manusia.

“Air mata jatuh, kita selalu merasa jatuh dan dinding pertahanan kita runtuh.
Lupa kalau air yang jatuh itu meresap ke tanah tempat hidup dan kehidupan kita berdiri dengan akarnya. Senyuman dan tawa lebar kerap menghiasi hari-hari, yang tanpa kita sadari, telah jauh larut. Tanpa sempat sejenak mengingat problematika dan masa sulit yang sebenarnya selalu ada mendampingi. Runtuh atap pertahanan kita oleh selebrasi dan perayaan gembira yang sangat singkat namun hampa,” tulis Pusakata dalam pesan yang diterima HujanMusik!.

 

 

Penggalan makna yang dia tajamkan bahwa : Semua suka adalah duka, semua duka adalah suka. Hidup adalah duka yang selalu riuh dalam suka. Semua sama.

“Pejamkan Matamu” seperti sebuah teladan, sekaligus catatan pengingat tentang hari-hari depan. Bahwa kita sebagai manusia diminta untuk tetap peka dan sadar pada hidup dan segala jalan ceritanya. Ikuti ritmenya, biar tenang hati melangkah. Biar lelap di malam-malam yang harusnya menjadi tempat bersandar, ketika lelah tiba setelah mengarungi kehidupan.
Semoga merdunya membisikkan kisah yang indah dan hangat liriknya dapat memeluk mesra. Saat lelah datang, pejamkan matamu.

Seperti yang saya singgung dimuka, Pusakata tetap tampil dengan lirik puitis yang disajikan dalam musik sederhana. Istimewanya lagu ini direkam secara langsung dari lokasi penuh air alami, membuat “Pejamkan Matamu” semakin mengokohkan citra musik Pusakata dengan dukungan permaian bass Adhitya Pratama, terdengar syahdu dan menenangkan.

Baiklah, kini saatnya mengingat dan melihat alam, menabur harapan baik dan cita masa depan.

Ya…cukup dengan pejamkan matamu.

 

(Visited 114 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *