“The Muddy Banks of Kaligrunge” Kompilasi Pengikat Persaudaraan

“The Muddy Banks of Kaligrunge”, sebuah kompilasi berisi 23 unit grunge Semarang

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Jakarta – Tak ada yang bisa menyatukan visi dan prinsip selain perasaan senasib sepenanggungan. Paling tidak, jika belum bisa mencapai itu, perasaan resah bersama atas suatu keadaan. Maka bermufakatnya keresahan-keresahan itu dalam distorsi yang mempersatukan.

Adalah “The Muddy Banks of Kaligrunge”, sebuah kompilasi narasi yang berisi rentetan suara generasi dari satu generasi dengan lainnya. Kumpulan kebisingan dari satu dengan lainnya yang seharusnya memang beragam.

Resah telah mempersatukan mereka dengan distorsi sebagai pusat imannya. Mendekonstruksi pergerakan anak muda pada penanda zamannya dengan musik diputar silih berganti. Lantas berubah pada pencariannya, mencampur identitas, memodifikasi punk, hippies, musik heavy metal dalam eksplorasi yang lainnya.

Muncul seperti tempelan kolase yang menjejal disepanjang lorong kumuh kota. Menyandarkan kekuatan pada 23 band lintas Semarang, mulai dari Screaming School, Distorsi Akustik, Neverbleach, Demesius, Siti N Urbaya, Redam, Glasstrick, Myur and The Bastards, The Joints, Bruug, Biorre, Octopuz, Doh, Too Lighter, Anomali, Chip Chip Monkey, Big Bomb Beers, Terasku, R.A.T, MTN, Jambu Aer, Mellodika, dan Moralkita. Semuanya bersuara dalam 90 menit putaran pita kaset yang diproduksi dalam jumlah terbatas.

 

Simak di HujanMusik! : ““PUAN”, Rilisan Distorsi Akustik untuk Keperpihakan Sosial dan Kemanusiaan”

 

Begitulah cara Kolektif Bising Semarang yang berkongsi dengan Stonedzombies Semarang menampilkan grunge kota mereka.

Ini bukan tentang kultus idola dengan sederet foto kopi tentang Seattle sound. Grunge bermutasi pada hal yang lebih kompleks, menyentuh pada sikap personal dan mereka meresponnya pada rasa yang sama, namun raga yang beragam. Semarang pada lintas yang lebih luas.

“Grunge adalah sesuatu yang kabur, yang tidak perlu dipaksakan memiliki definisi tertentu,” tulis mereka dalam rilis yang diterima HujanMusik!.

Cukup menarik cara kolektif ini menghumpulkan amunisi bak belulang yang terserak terpendam di sepanjang lumpur Kaligarang. Kali atau sungai yang memisahkan barat dan timur kota semarang. Sungai yang menjadi penyambung kedua sisi kota yang saling mengisi satu dengan lainnya.

Dikerjakan secara kolektif karena do it your self is dead, together can be fun!!. Rilisan ini mereka dedikasikan untuk segenap penikmat nada sebagai pengikat persaudaraan.

Kompilasi tersebut dirilis pada tanggal 15 Maret 2020, sebagai usaha mempersatukan kembali skena grunge kota Semarang, dan memberi jejak bagi kolektif agar berkelanjutan kemudian hari.

Untuk info dan pemesanan silahkan berkontak dengan COME STORE sebuah Record Store dan distribusi musik. Kontaknya 085879680633 ( WA only )

(Visited 43 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *