Aroma Lini Masa Indie Rock The Buitenboy

The Buitenboy rilis album perdana "Lini Masa"

The Buitenboy, indie rock Bogor rilis album perdana "Lini Masa". Artworks : dok. The Buitenboy

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Bogor – Sekelumit rock n roll menghampiri pendengaran, hempasannya seperti mengundang untuk menyimak sekilas. Maklum saja, saya tengah dalam perjalanan melintas jalur diantara pembatasan sosial yang sedang berlangsung. Pendengaran sekilas yang lantas meggiring saya untuk menepi dan menyimak lebih dalam.

Rock n roll bercampur buliran Indie rock yang meringkuk dengan aroma garage rock itu tengah dinarasikan kolektif yang menamakan dirinya The Buitenboy. Pembawaan yang secara musik terdengar santai dan ringan, kolaborasi Ibrahim Jordan (vokal/gitar), Sunami Pytra (gitar) dan Achmad Bima Fadillah (bass/vokal) dalam album perdana mereka, “Lini Masa”.

“Lini Masa” seperti pintasan jalan musik setelah dua single “Gastro Oesophageal Reflux” dan “Kriminal Cinta” beredar dua tahun silam. Hingga saya merasa tak ada kendala berarti saat menyimak materi “Lini Masa”. Tetap bergulat dengan raungan gitar yang tampak familiar, juga harmoni bass dan drum yang berkejaran. Termasuk teriakan vokal yang merapat distorsi, menjelaskan bahwa mereka masih menjaga jiwa muda sejak berjuma di Sekolah Menengah Pertama, 2014 yang silam.

 

Simak di HujanMusik! : “The Buitenboy Rock n Roll Kalangan Remaja

 

Seperti Buitenzorg, penamaan era kolonial untuk Bogor, The Buitenboy bak mewarisi semangat lokal yang tetap santai namun bergairah dalam menjalani aktivitas. Dalam berkarya pun mereka seperti tak mau terjebak dalam notasi rumit. Cukup dengan mengamati dan menjahitnya menjadi musik. Seperti “Lini Masa” yang bercerita tentang pergulatan batin dan kenyataan yang mereka temui saat ini. Tumpahan keluh kesah, curahan romansa pergaulan remaja, tentang susah bangun pagi hingga soal sistem new world order yang mengganggu penjual talas panggul untuk bayar listrik karena harus menggunakan uang digital.

“Lini Masa” seperti menjadi penanda zaman yang telah berubah. Tak ada buku harian, semua menjadi keterbukaan yang lantang disuarakan. Mengaum dari balik layar dengan nama social media.

Sudah satu dekade lebih media sosial akrab ditengah-tengah kehidupan kita. Disana ada rasa wajib juga gengsi yang bahkan menjadi pelarian untuk beberapa orang. Banyak dari kita yang tumbuh dewasa bersama media sosial. Gambar, video, narasi stories yang kemudian berpadu dengan status lini masa. Semacam fase kehidupan yang seringkali telanjang menampilkan siapa dan bagaimana kita.

Pengamatan semacam inilah yang membawa The Buitenboy bertemu dengan konsep ruang dan waktu yang mereka wujudkan dalam “Lini Masa”. Sebelas lagu didalamnya mereka ramu sebagai postingan kategori tertentu, kesemuanya aman disimak untuk usia anak, remaja hingga dewasa. “Pagi dan Roti”, “Akhir Pekan”, “Masa SMA”, “Yang Mereka Katakan Tentang Cinta”, “Seiring Waktu”, “Kriminal Cinta”, “Gastro Oesophageal Reflux”, “Anak Setan (Sialan!)”, “The Ballad of Vampire”, “Klandestin”, dan “Lepas Kendali”, adalah kumpulan karakter yang coba mereka sampaikan.

Album “Lini Masa” rilis secara digital melalui Amplop Records sejak 4 April 2020 lalu di platform musik digital semacam Spotify, Joox, Deezer, Amazon Music, dan Bandcamp.

Sebuah tanggal perilisan yang menandai 7 tahun mereka bermusik dibawah nama The Buitenboy.

(Visited 121 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *