Saya Yakin, Glenn Orang Baik

Glenn Fredly. Foto : dok.Glenn Fredly

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Bogor – Gerimis seketika turun dari langit, membasahi tanah meski masih meninggalkan pancaran cahaya. Air jatuh diantara teriknya matahari tengah hari, sesaat sebelum mendung suram mengambil alih. Seperti penghantar kabar sendu sore hari, tentang berpulangnya sosok musisi tanah air, Glenn Fredly dalam usia 44 tahun.

Pada sebuah akun Instagram, musikus Idang Rasjidi meyakinkan saya tentang kabar ini sebenar-benarnya. Kabar yang membuat saya menelisik lebih dalam dan mencari informasi lainnya.

Glenn menyudahi kisah cintanya di jendela dunia dengan meningitis yang di-idap-nya. Menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020, pukul 17.00 WIB di Rumah Sakit Setia Mitra Fatmawati, Jakarta Selatan.

Glenn adalah sosok penyanyi yang menyertai kekaguman saya setelah Franky Sahilatua, Leo Kristi, Iwan Fals dan Nugie. Kisah baiknya tak hanya berkutat talenta musiknya semata, namun juga menebar diluar jalur yang membesarkan namanya itu. Saya nyaris menyematkan label musisi sekaligus aktivis. Sesuatu yang ditolaknya kala itu.

Masih teringat sapaan semangat Glenn di Goethe Haus, April 2012 silam. Bawaannya yang sederhana dan tenang, menyapa saya dengan panggilan ‘bung’. Sesuatu hal yang wajar karena saya tengah berada di belakang panggung perayaan Hari Kebangkitan masyarakat Adat Nusantara (HKMAN), bersama puluhan penari dari Halmahera yang siap tampil.

“Bung” menjadi panggilannya kepada saya ketika kita berbincang singkat tentang gitar yang mengiringi tampilannya malam itu. Penampilan kedua tahun itu setelah saya melihatnya menyanyikan lagu “Suara Kemiskinan” pada acara penutupan South to sSouth Film Festival 2012 ditempat yang sama. Saya mengenangnya bagaimana lagu karya Frangky Salihatua yang menceritakan ironi kemiskinan masyarakat Indonesia Timur itu dinyanyikan dengan sangat emosional. Sesuatu yang menyiratkan kegelisahan Glenn mengenai kondisi Indonesia Timur.

Sikap yang kemudian membawanya mencetuskan sebuah gerakan kepedulian terhadap Indonesia Timur. Sebuah kepedulian yang menjadi gerakan budaya, mengakat persoalan nyata untuk membantu kondisi keterpurukan Indonesia Timur, namanya Voice for The East (Vote). Gerakan itu didukung oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat lokal maupun internasional seperti Kontras, Kiara, Migrant Care, ANBTI, Jatam,Walhi, ICW, serta Greenpeace.

“Voice From the East, sangat penting sekali buat saya,” cetus Glenn kala itu.

Begitulah Glenn Fredly, sosok bernama asli Glenn Fredly Deviano Latuihamallo. Dibalik popularitasnya yang terlihat silau, ia adalah manusia sederhana yang tak melupakan asal. Karya-karyanya berjalan dengan cipta rasa yang ia temukan.

Kekaguman saya kian berderak, sosok penynyi yang sering disambut histeria perempuan ketika lirik awal lagu romantisnya dilantunkan itu justru menenggelamkan dirinya dengan sikap tetap menyuarakan isu-isu sosial. Sesuatu yang tak banyak dilakukan penyanyi lainnya. Bersama sineas Angga Dwimas Sasongko, Glenn membesut produksi film “Cahaya Dari Timur : Beta Maluku”. Film yang memenangkan penghargaan film terbaik di Festival Film Indonesia 2014 dan film fitur terbaik pada gelaran Maya Awards 2014.

Merujuk pada karyanya yang dirilis pada 17 Agustus 2011, pada sebuah cinta tanah air bertajuk “Tanah Perjanjian”, hasil karya cipta bersama Ras Muhammad, Glenn bertutur kisah keprihatiannya terhadap permasalahan di Papua. Sebuah lagu seruan perdamaian yang secara nyata menggambarkan sikap dan pilihan seorang Glenn Fredly.

Pilihan isu yang dibawakannya di panggung megah Soundrenaline 2019 silam. Dimana puluhan ribu crowd yang memadati venue Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali, 8 September 2019, menyaksikan suara untuk Papua yang tak hanya dinyanyikan, namun juga ditampilkan. Glenn yang mengenakan penutup kepala khas Papua pun tak kuasa meneteskan air mata, sembari menyerukan untuk tak membedakan warna kulit dan hentikan perilaku rasis, utamanya kepada Papua.

Glenn Fredly dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu R&B Indonesia serta produser. Mengawali karirnya sebagai penyanyi pada tahun 1995, setelah memenangkan kontes menyanyi pada tahun 1995. Kemudian ia dikenal sebagai vokalis Funk Section dan tiga tahun kemudian ia mengeluarkan album solo bertajuk “Glenn”.

Lalu pada tahun 2000 mengeluarkan album kedua dengan judul “Kembali”. Album solo yang menjadi pembuktian Glenn sebagai salah satu penyanyi papan atas Indonesia. Dia pun diganjar penghargaan. Total ada 15 judul kumpulan karya musik yang ia hasilkan untuk pecinta musik Indonesia.Glenn juga dikenal karena menghasilkan artis-artis berbakat baru semacam Yura Yunita dan Gilbert Pohan. Selain film “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku”, ia juga terlibat produksi film “Tanda Tanya” (2011), “Filosofi Kopi” (2015), “Surat dari Praha” (2016), dan “Pretty Boys” (2019). Termasuk film dokumenter berjudul “Linimassa 2” (2012).

Pada satu waktu, ada kenangan tersendiri seorang Glenn dimata generasi musik Indonesia lainnya.

Dewo Iskandar, vokalis Saptarasa yang merupakan putra Jhonny Iskandar menuturkan dalam akun instagramnya, tentang bagaimana peran Glenn mendukung Jhonny Iskandar yang saat itu masih personil OM PMR, dan membantu OM PMR untuk bergabung dengan manajemennya. Disitu Glenn sempat menuturkan bahwa dia tahu bagaimana sulitnya mencari manajemen yang solid dan terpercaya. Sesuatu yang menjadi alasan sehingga Glenn mau membantu.

“Melihat antusiasme dia untuk membantu papa saat itu, saya yakin dia orang baik,” tulis Dewo.

Ya..saya sepakat dengan itu. Secuil kenangan saya tentang Glenn juga menyiratkan itu.

Selamat jalan Glenn, terimakasih atas semua karya yang engkau sajikan untuk orang banyak.

(Visited 137 times, 1 visits today)

1 thought on “Saya Yakin, Glenn Orang Baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *