Ode untuk Glenn

Glenn Fredly pada panggung Synchronize Fest 2019. Foto : Johanes Jenito

 

Artikel : Johanes Jenito

 

[HujanMusik!], Bogor – Sejak awal menginjakkan kaki di bilangan Gambir Expo, Jumat 04 Oktober 2019 lalu, Glenn Freddly adalah salah satu artis penampil yang masuk dalam daftar pantauan saya. Glenn akan tampil pada sesi malam Synchronize Festival. Sebuah agenda musik dengan panggung utama yang bisa menampung ribuan crowds, kira-kira seluas lapangan bola.

Glenn dan band-nya dijadwalkan tampil setelah Isya, sekitar pukul 19.30-an. Lepas maghrib, crowds sudah memenuhi lapangan depan panggung. Tua-muda, laki-perempuan. Saling menyempil, cari celah nyaman untuk menonton. Dari yang tadinya cuma puluhan, lama kelamaan menyemut jadi ratusan. Dekat-dekat jam pertunjukan, rasanya ribuan jumlahnya. Berdesakan dan nyaris tak ada ruang kosong.

Dulu, saya bukan penggemar fanatiknya. Saya tak suka karyanya. Terlalu cengeng, khas menu industri musik pop tanah air yang disetir label-label besar demi menjangkau pasar melayu yang suka mendayu-dayu.

Celakanya, ketidaksukaan itu berbalik di tahun 2011. Gara-gara satu lagu, “Tanah Perjanjian”.

Glenn merilis lagu itu secara eksklusif pada Rabu, 17 Agustus 2011 jam 10.00 sebagai single yang bebas unduh pada laman Rolling Stone Indonesia. Ia mengajak pendekar reggae dalam negeri Ras Muhamad untuk turut mencipta dan menyanyikannya.

Simak di HujanMusik! : “Saya Yakin, Glenn Orang Baik”

Saat mengunduh lagu itu melalui komputer pinjaman, saya tak punya pretensi apapun. Saya klik tombol unduh karena lagu gratis. Niat besar saya cuma bagaimana punya tambahan lagu di playlist Mp3 tanpa bayar. Se-receh itu bayangan saya.

Ternyata saat klik tombol play setelah unduh, saya kaget setengah mati.

“Kok Glenn jadi gini? Berani banget!”

Karena penasaran, saya Googling lagu ini. Ketemulah jawabannya di laman Rolling Stone Indonesia dan Kompas edisi hari itu.

Iya, Glenn sungguh berani! Keberanian itu ditunjukkannya dalam dua hal.

Pertama, lirik lagu. Meski dinyanyikan dengan gaya pop dan cengkok jazzy sana-sini, lagu itu lantang menantang pemiskinan Papua yang kaya sumberdaya alam dan manusia. Dalam wawancara dengan Rolling Stone Indonesia, Glenn secara terbuka menyebut Freeport sebagai contoh. Semenjak Freeport masuk hingga hari ini, mungkin pemerintah sudah dapat yang diinginkan. Tapi masyarakat Papua sendiri tidak mendapatkan porsi yang semestinya.

Kedua, waktu perilisan lagu itu. Benar, hari itu adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Lagi-lagi saya sungguh mengapresiasi argumentasinya. Sungguh politis. Saya mencupliknya dari laman Rolling Stone Indonesia saat itu.

“Kami sengaja. Karena kalau bicara kemerdekaan ternyata masyarakat Papua masih belum merdeka. Kalau mau benahi Indonesia, benahi dari timur dulu. Karena Papua telah memberikan banyak buat Indonesia. Masa depan Indonesia ada di timur,” katanya.

Di Synchronize Festival 2019 cuman satu yang saya tunggu, Glenn menyanyikan lagu itu.

Dan terjadilah!

Lagu itu dibawakannya di tengah-tengah durasi penampilannya. Sebelum intro lagu, Glenn berpidato. Pendek tapi menohok. Saya mencatatnya.

“Jangan pernah percaya propaganda bahwa orang papua itu jahat-jahat semua. Saya kenal dan hidup bersama saudara Papua, bahwa propaganda terhadap saudara di Papua dilakukan oleh orang-orang jahat. Orang-orang yang ingin memecah belah persatuan, itulah orang jahat teman-teman,” serunya.

Lalu melantunlah lagu itu dalam ritme mid-tempo. Sesekali berseling dengan “Yako Rambe Yamko”, lagu daerah Papua. Kali ini tanpa kehadiran Ras Muhamad. Namun tetap membius.

“Tanpa Papua tidak ada Indonesia,” kata Glenn usai menyanyikannya.

Pidatonya, sekali lagi, menggetarkan hati saya sepanjang sisa pertunjukkan. Saya tak terlalu peduli Glenn melantunkan repertoar pop lainya, seperti “Terserah”, Selamat pagi Dunia”, “Akhir Cerita Cinta” dan banyak lagi yang tak saya tahu judulnya.

Ternyata panggung Synchronize Festival 2019 adalah pertemuan pertama dan terakhir saya dengan Glenn. Saya sebagai penonton di tengah ribuan crowds dan Glenn sebagai artis di depan sana. Sungguh, kami berjarak jauh. Saya tak seberuntung Anggitane, kolega di portal HujanMusik!, yang sempat bertatap fisk langsung nyaris tak berjarak di belakang panggung pada April 2012 silam.

Glenn memang sudah pergi, sehari sebelum artikel ini saya tulis. Pada akhirnya ia dikenang sebagai pegiat kemanusiaan oleh mereka yang masih tinggal di dunia. Sementara di atas sana, panggung surgawi telah menantinya.

Terima kasih, Glenn!

(Visited 42 times, 1 visits today)

1 thought on “Ode untuk Glenn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *