Hell or High Water Tour 2020, Konser Metal Intim Sebelum Pandemi Datang

Deadly Weapon gelar tur konser di Bogor

Meskipun nampak lelah, Jay (vokal) tetap menggeram maksimal saat Deadly Weapon merapal lagu-lagu pendek-cepat dari EP Hell or High Water. Foto : Johanes Jenito

 

Artikel : Johanes Jenito

 

[HujanMusik!], Bogor – Sebelum pandemi corona mengharu biru, pada sore sebelum maghrib hari Sabtu 07 Maret 2020, saya dengan tenangnya menunggang angkotan umum (angkot) dari Taman Peranginan Kota Bogor ke bilangan Karedenan di pinggiran Cibinong, Kabupaten Bogor. Kira-kira sejam lamanya perjalanan dengan duakali pergantian naik-turun angkot.

Saat itu tujuan saya cuma satu, nonton konser metal Deadly Weapon, band idola dari Jogjakarta. Mereka ditemani Cloudburst, yang juga dari Jogjakarta, mengahajar panggung Bogor saat itu.

Deadly Weapon sedang tur keliling beberapa kota di Jawa dan Bali yang dijuduli “Hell or High Water Tour 2020”. Mereka memulai tur pada 28 Februari 2020 di Tulungagung, Jawa Timur. Lanjutlah ke timur menuju panggung di Kota Batu, Denpasar dan Kuta. Lalu mereka balik ke barat di panggung Semarang, Jakarta dan Bogor. Penutupnya adalah Bandung di Minggu 8 Maret 2020.

Deadly Weapon adalah unit pengusung grindcore yang terbentuk pada 2008 berisikan Nikodemus Jay (vokal), Made Dharma (gitar), Sandra Davul (bass) dan J. Arya (drums). Kuartet ini punya satu album berjudul “Dissiluiional Blurs” (2013) dan EP Hell or High Water (2018).

Bagi saya bertemu Deadly Weapon dan Cloudburst adalah kali kedua paska pertunjukan mereka sebagai opening act Eyehategod Indonesia Tour di Auditorium Lembaga Indonesia-Prancis Jogjakarta pada Jumat, 22 November 2019 lalu. Bukan anak metal kalau tak kenal Eyehategod. Unit ini adalah pioneer doom-hardcore “sludge metal” asal New Orleans USA. Mereka berkibar sejak 1988. Secara generik musiknya adalah campuran Black Flag dengan Black Sabbath.

Saya sih penasaran, apakah energi Deadly Weapon dan Cloudburst tetap sama besarnya seperti perjumpaan kami yang pertama, meskipun kini mereka tampil di panggung kecil dengan pemain lokal?

Ternyata tak ada yang berubah. Energi tetap sama

Simak di HujanMusik!: “Cloudburst Rilis Album Kedua Edisi Tur Mereka”

Tapi saya menangkap ada kelelahan di sana. Setidaknya dari performa Jay Deadly Weapon. Dia nampak keteteran mendaki geraman metal dari kerongkongannya. Raut mukanya serasa menahan lelah yang panjang saat ber-screamo. Aksi panggungnya pun terlihat biasa. Padahal çivisi gitar, bass dan drums telah maksimal menderu-deru dengan warna sound nan tebal khas metal tensi tinggi.

Akhirnya saya maklum takkala di jeda lagu Jay sedikit curhat tentang ketatnya jadwal tur dari satu kota ke kota lainnya yang mereka tempuh dengan bermobil. Tiap panggung hanya bertenggat 1-2 hari saja. Istirahat hanya dilakukan dalam mobil yang berjalan. Saya bisa membayangkan betaya lelahnya mereka.

“Bahkan kami tak sadar ada satu kotak besar berisi marchendise, CD/Kaset yang jatuh di tol saat menuju ke Jawa timur. (jatuhnya) itu karena bagasi belakang tak tertutup rapat. Kami baru sadari saat sampai di kota tujuan”, tutur Jay dari panggung

Deadly Weapon memang penampil utama dalam Hell or High Water Tour 2020

Secara resmi panggung dimana Deadly Weapon tampil di Bogor adalah event RUMBLE ASSAULT Vol 3 yang dihelat event organizer local Safe N Sound bersama Minortive. Lokasi pertunjukan di Studio Safe N Sound, Keradenan, Cibinong. Penonton perlu menempatkan kontribusi Rp 25.000 per orang dalam bentuk ticket on the spot. Beberapa hari sebelumnya dijual tiket pre-sale seharga Rp 20.000 per orang di Eternal Store.

Penampil pertama adalah Baby Frog. Unit pengusung Grindcore dari Bogor ini naik panggung sekitar pukul 19.00. Mereka memperkenalkan vokalis baru di sini. Setelah tiga lagu, giliran Krack yang naik pentas. Sekitar 3-4 lagu metal dibawakan tanpa jeda.

Krack turun panggung, naiklah Cloudburst. Tanpa basa-basi, kuartet pengusung metallic-hardcore dari Kota Gudeg ini merapal 4-5 lagu cepat ber-oktan tinggi. Mereka memainkan lagu dari album “Crying of Broken Beauty” (2016) dan “Cloudburst” (2019). Kedua album itu diganjar review baik dari The Metal Rebel Swedia dan Metal Hammer Inggris. Band ini bergabung dalam HELL or HIGH WATER TOUR 2020 sejak dari panggung Rossi Music di Jakarta pada 06 Maret 2020 sampai panggung terakhir di Bandung 08 Maret 2020.

Cloudburst beraksi. Okta (vokal) dan Yogi (gitar) tampil paling atraktif. Foto : Johanes Jenito

Bubar Cloudburst, naiklah Deadly Weapon. Tanpa basa-basi, kuartet ini berhasil memekakkan telinga semua orang dengan repertoarnya. Menurut saya, sisi musikualitas band ini terasa memepertahankan grindcore ala Misery Index, Nasum dan Rotten Sound yang agresif, tanpa basa-basi dan menyulut langsung adrenalin crowds untuk bikin moshpit. Lagunya pendek-pendek. Semuanya diselesaikan di bawah 120 detik. Tajuk Hell or High Water Tour 2020 merujuk pada judul EP mereka di tahun 2018 silam. Rilisan ini dibidani label Disaster Records, Bandung.

Setelah hampir 45 menit-an Deadly Weapon beraksi, panggung diisi bergantian oleh dua band metal lokal. Mereka adalah Belantara dan World Domination.

Saya berdiri di tepi panggung sampai band terakhir menggebar habis lagu-lagunya. Jarum jam pendek menujuk angka 10 dan yang panjang ke angka 3. Sudah malam. Tiada lagi angkutan umum. Kocek harus dirogoh lebih dalam untuk menumpang GrabCar kembali ke tengah kota.Tak mengapa. Saya tak merasa rugi untuk berada di tengah konser metal yang intim dari para pendekar idola

Seminggu setelah konser ini, pandemi corona menyebar cepat. Kerumunan dilarang. Jaga jarak diumumkan berulang-ulang.

Semoga kita semua tetap sehat

(Visited 141 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *