Unit pop Bandung ikkubaru resmi merilis album kedua secara digital. Foto : dok.ikkubaru

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bandung – Dalam beberapa waktu terakhir, pikiran amatiran saya sedang tunduk pada analisa sederhana bahwa tak ada kekang yang mampu menahan laju ide kreatif seorang seniman kecuali rezim. Kekangan atas nama norma dan aturan tak semudah tapak membabat kekuatan pikiran sang seniman.

Seperti kebutuhan pokok yang menuntut pemenuhan rutin, gelontoran karya cipta seni selalu saja menemukan jalan. Sudah barang tentu ada perjuangan keras dibelakangnya. Titik lemahnya hanya pada persoalan kemauan mewujudkan.

Dari sini saya mulai memahami bahwa aneka chords dan melody yang dicipta musisi seperti menambahkan keyakinan, apapun itu harus diperjuangkan hadir atau lantak sia-sia. Seperti deretan karya kuartet pop asal Bandung, ikkubaru.

Berjarak 6 tahun pasca melepas debut album Amusement Park (2014), kuartet pop asal Bandung, itu akhirnya resmi melepas album terbaru sekaligus kedua yang diberi judul “Chords & Melodies”. Album yang sejatinya sudah digadang-gadang tampil setelah jejak perilisan single “Memories”, “Let It Swing,” “Silent” dan “Street Walkin”.

Sophomore dari Muhammad Iqbal (vokal, keyboard dan gitar), Rizki Firdausahlan (vokal dan gitar), Muhammad Fauzi Rahman (bas) dan Banon Gilang (drum) yang dilepas secara mandiri di pelbagai layanan musik digital terhitung Jumat, 14 Februari 2020 lalu. Format digital dipilih sembari menunggu format fisiknya yang akan menyusul kemudian dalam kemasan cakram padat. Berbeda dengan digital, format fisik CD “Chords & Melodies” akan ada penambahan jumlah lagu menjadi 12 tracks

ikkubaru adalah satu nama kuartet pop pergerakan musik independen asal Bandung yang menyiarkan karyanya hingga ke tanah Jepang. Sejak berdiri pada 2011, ikkubaru telah merilis album penuh, album mini dan single-single lepasan, sebuat saja; “Hope You Smile “[EP] – Maltine Records (2013), “Amusement Park” [Album] – Hope You Smile Records (2014), “Brighter” [EP] – Hope You Smile Records (2015) dan “Amusement Park [Exclusively in Indonesia]” – Monolite Records dan Misashi Records (2017).

Mengikuti jejak album pertama mereka, rencananya album kedua ikkubaru ini pun akan dirilis tidak hanya di Indonesia, melainkan akan dirilis juga di Jepang.

Merujuk pada jarak yang bisa dibilang tidak sebentar dari debut Amusement Park, ikkubaru memilih menemukan pijakan musik dan lirik yang tergolong signifikan. Referensi sana-sini banyak mereka serap demi mewujudkan ramuan musik yang mumpuni. Mereka berani menurunkan citra yang kadung melekat sebagai unit city-pop dengan bermain di muara-muara pop dreamy yang lebih sintetis. Sedang untuk urusan lirik, tema tentang cinta dirajut ulang dengan cerita yang lebih mengarah pada kegelisan-kegelisahan manusia.

“Belakangan ini begitu banyak jenis lagu yang kami dengar. Hal ini juga menghasilkan dorongan yang membuat kami ingin menciptakan sesuatu yang belum pernah kami buat sebelumnya. Termasuk menulis lagu dengan pendekatan lirik Bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak di banding rilisan-rilisan kami terdahulu,” beber Muhammad Iqbal dalam rilis yang diterima HujanMusik!.

Secara lirikal, musik yang kini diarungi ikkubaru sangat cocok berbalut dengan tema kegelisahan, dan atau tentang manusia lainnya. “Bisa dibilang kami terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulu dari tanah Britania. Usungan genre macam “Dream Pop”, “Shoegaze” dan sebagainya sangat sering mereka leburkan dengan tema manusia, kegelisahannya dan lainnya, dan tidak ada salahnya kami bermain di pusaran itu,” ujar Muhammad Iqbal.

“Chords & Melodies” bisa dibilang kumpulan karya (berisi 10 lagu) dengan serapan banyak latar belakang musik. Sebuah manifestasi bebunyian dreamy bergaya vibe, funk, sophisticated-pop hingga layer-layer synthesizer yang mengiris kadar new jack swing dengan pijakan-pijakan lantai dansa era 80-an. Tentunya dengan konsepsi tekstual yang lebih luas.

Sebuah palet yang juga bisa menjawab kenapa nama album ini diberi nama Chords & Melodies. Album yang sarat makna kekaryaan yang kontemplatif dan spiritual. Setali tiga uang dengan judulnya “Chords & Melodies” yang bila diartikan bagaikan Jiwa dan Raga.

Sama seperti 4 single terdahulunya, album “Chords & Melodies” ini pun dirilis secara digital oleh net-label asal California, Amerika, Circulate Music. Sedangkan untuk divisi cover artwork “Chords & Melodies” ini dibuat oleh M.M Hadi (STRGZ), salah satu illustrator asal Bandung yang juga mengerjakan cover album pertama ikkubaru, “Amusement Park”.

Dengan jumlah lagu berbahasa Indonesia yang jauh lebih banyak daripada album sebelumnya, harapannya album kedua ikkubaru ini bisa lebih diterima oleh penikmat musik di Indonesia.

Memulai karir bermusiknya pada tahun 2011 di Bandung. ikkubaru awalnya hanyalah sebuah bedroom project milik Muhammad Iqbal yang kemudian berkembang bersama Rizki Firdausahlan, Banon Gilang, dan Fauzi Rahman. Kebersamaan mereka lantas menghasilkan racikan materi-materi easy listening penuh melodi catchy dengan pendekatan lirik ragam bahasa (Indonesia, Inggris dan Jepang).

Musik yang ditampilkan ikkubaru, merupakan hasil kegemaran mereka kepada solois Jepang seperti Tatsuro Yamashita, Kadomatsu Toshiki serta band-band Inggris macam Tears For Fears, Prefab Sprout, dan Pet Shop Boys. Nama ikkubaru sendiri diambil dari nama belakang Muhammad Iqbal yang diterjemahkan ke bentuk Katakana.

(Visited 11 times, 1 visits today)