“Rape the Traitor” Single Sindiran Lingkar Pertemanan The Broto

Artwork single “Rape the Traitor” milik The Broto.

Artwork single “Rape the Traitor” milik The Broto.

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta – Seperti terjangan banjir yang menyeruak tiba-taba, hempasan rock n roll tidaklah mudah dikendalikan apalagi dihentikan. Derasnya letupan semangat yang ditimbulkannya seperti mengajak siapapun yang memainkannya akan larut. Bergerak mengikuti arus rock yang menggelinding meratap segala usia.

The Broto dengan hempasan single barunya menjadi satu diantara pengusung rock n roll lokal Jakarta yang terus bergerak. Setelah merilis dua buah single, “Doom Rock’n Roll” dan “Vereenigde Oostindische Chaos”, di tahun 2019, kolektif yang semula menyebut dirinya Kartoadisoebroto itu mengeluarkan single terbarunya yang berjudul “Rape the Traitor”. Single yang lagi-lagi menjadi materi pembuka album debut mereka, yang direncanakan rilis akhir tahun ini.

“Rape the Traitor” bertutur kisah yang dekat dengan minat The Broto yang terbentuk dari sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia. Single refleksi sebuah band yang banyak mendekam di studio dan bergonta-ganti personel. Tentang keluh kesah pelaku seni, terutama seni musik, dalam pergulatannya dengan komunitasnya sendiri.

Dalam rilis yang diterima HujanMusik!, single “Rape the Traitor” dibuat sebagai cerminan maraknya nepotisme dalam acara kolektif, label rekaman yang hanya mengorbitkan musisi-musisi “temen gue” tanpa mengkurasi kualitasnya dan tidak terbuka dengan orang baru. Sebuah lingkar pertemanan skena yang eksklusif dan cenderung “dia-dia lagi”.

Pola yang menjadi sorotan utama “Rape the Traitor” dikemas dalam lirik berbahasa Inggris penuh sindir dan kiasan yang dibalut dengan musik keras sebagai representasi kejengahan itu sendiri.

The Broto pun merasakan hal yang sama, setelah akhirnya UI Music Fair 2016 menjadi panggung pertama bagi mereka. Beberapa tour ke kota-kota besar lain seperti Bandung, Malang, dan Bali telah mereka lalui demi menambah pengalaman panggung.

The Broto juga mengalami beberapa kali ditolak saat mencoba peruntungan di beberapa independent record label untuk sekedar merilis karya, dengan alasan yang tak begitu transparan. Situasi yang mendorong mereka dalam kebingungan, kebebasan berekspresi yang tak seindah kenyataan. Terlalu banyak dalih yang menutupinya.

Bekal pengalaman sebagai korban arogansi mendorong Boby Bramantyo Yurismono (gitar), Erdino Mahardian Kartosoebroto (gitar), Rianto Bagus Dwimakara Adibroto (bass), athur Ichwan Satya Wirabrata (drum) dan Syabika Muhammad Kartosoebroto (vokal). Melawan dan bertahan dengan karya-karyanya. Mereka percayaan bangkitnya musik keras nusantara akan menjadi kekuatan mereka untuk tetap struggle dalam gejolak musik yang fluktuatif.

Single yang dirilis pada 31 Januari 2020 ini ditujukan sebagai pembuka lembar baru di tahun ini dan bukti kembali aktifnya mereka, setelah sempat vakum sejak Juli 2019 karena beberapa personil harus menempuh pendidikan di luar negeri.

Pada beberapa bagian “Rape the Traitor” sengaja diselipkan text-to-speech gamblang dan cuplikan samples dari beberapa interview bertajuk “Rock and roll is dead”. Seluruh instrumen dalam karya ini direkam di Sams Studio BSD yang dibantu oleh Dimas Sufi. Untuk rekam vokal dilakukan terpisah di Studio Peggy 88 (Amsterdam, Belanda) oleh Michel Vermeulen, sebelum akhirnya masuk ke proses mixing/mastering oleh Nadif Firza Rahman. Single ini sengaja dikemas dalam seni visual kasar oleh Difraksi Phrenia dan komposisi pewarnaan digital oleh Doomystoner.

Secara khusus Lifemocker Records menjadi publisher “Rape the Traitor” yang merilis musik The Broto dalam berbagai platform musik digital semacam Spotify, iTunes, Deezer, Saavn, Amazon, Tidal, Pandora, Napster, iHeartRadio, ClaroMusica, MediaNet, Apple Music, dan 150 media lainnya.

Begitulah The Broto, selamat menikmati musik mereka.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *