Arsipkan Karyamu!, Membaca Pergerakan Seni Visual Indonesia Melalui Arsip-Arsip The Jadugar

The Jadugar, kolektif pembuat video klip kekinian merilis buku sebagai dokumentasi proses berkarya. Foto : Jenito

 

Artikel & Foto : Jenito

 

[HujanMusik!], Jakarta – Sabtu (26/01) sore ruangan Kios Ojo Keos, yang juga markas kolektif Efek Rumah Kaca, penuh sesak. Puluhan orang memadati tiap sudut dengan duduk di kursi, berdiri, bahkan selonjoran di lantai. Baik lelaki maupun perempuan bebas dengan gaya masing-masing. Semuanya tertib, tak bikin suara sendiri dan terfokus menatap empat lelaki yang duduk di baris sebelah depan. Dua diantara mereka berdialog dengan microphone masing-masing di tangan.

Adalah M. Hilmi Khoirul dari Whiteboard Journal yang memimpin dialog ngobrol-ngobrol ini. Hilmi menacing tanya dan memperoleh jawab dari Anggun Priambodo, Henry “Betmen” Foundation dan Mikael Aldo.

Anggun dan Betmen adalah duo kolektif video maker kawakan The Jadugar. Sementara Aldo mewakili rumah produksi Sun Eater yang lebih kekinian.

Ngobrol-ngobrol santai tersebut adalah salah satu rangkaian pesta perayaan peluncuran buku The Jadugar : 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia.

Dalam rilis pers yang dikeluarkan oleh Gramedia selaku penerbit disebutkan bahwa pada awal 2000-an The Jadugar terbentuk sebagai hasil dari pengaruh MTV, organisasi seni rupa kontemporer RuangRupa dan perkembangan teknologi video/kamera digital. Saat sebagian besar video musik di masa itu bercorak naratif dan bertutur, karya-karya The Jadugar justru menggambarkan permainan visual di luar kelaziman. Itulah bentuk cinta mereka pada seni rupa

Anggun dan Betmen bertemu saat masa perkuliahan di Institut Kesenian Jakarta. Anggun yang mahasiswa Design Interior adalah adik kelas Betmen yang mahasiswa Seni Murni. Saat itu mereka dan teman-temannya, salah satunya adalah Jimi Multazam (The Upstairs/Morfem), aktif membuat pameran karya di galeri seni milik kampus. Dari situ Anggun dan Betmen makin akrab dan cocok bekerja sama.

Dalam salah satu obrolan-nya, Hilmi bertanya pada Aldo tentang perlu tidaknya muncul The Jadugar-The Jadugar baru di era ini.

“Yang tak tergantikan dari The Jadugar adalah ide-idenya,” terang Aldo

The Jadugar ada pada zamannya, tambah Aldo, dan hal ini bisa menjadi referensi kepada orang-orang pada zaman sekarang. Yang telah dilakukan The Jadugar pada masanya adalah pengingat bagi mereka di masa kini bahwa musik video pernah sangat sekeren itu.

Vidoe klip Musik dari band indie Bandung LAIN (2002) dan band jebolan IKJ NAIF (2003) adalah dua diantara puluhan karya mereka yang ikonik.

LAIN dalam lagu Train Song dideskripsikan dengan seperangakat kereta mainan, lengkap dengan relnya, yang dibeli Anggun seharga 75 ribu di Plaza Senayan. Karya ini diganjar penghargaan Best Director MTV Movie Award 2003.

Sementara itu video musik NAIF pada lagu Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia digambarkan secara detail sesuai dengan lirik lagunya. Pendekatan pembuatannya adalah kolase berbasis foto-foto. Konon mereka berdua rela memotret dan mengguntingi satu demi satu foto tersebut selama satu bulan. Maklum, belum ada cukup teknologi yang memadai saat itu. Hasilnya sungguh memuaskan, MTV mengganjar sebagai musik video yang mendapat highlight special selama satu bulan penuh.

Tak cuma band indie yang menggunakan jasa The Jadugar. Proyek profesional bersma band besar kala itu juga mereka kerjakan. Band-band itu, diantarnaya, adalah Peterpan, Project Pop, Slank, Nidji, Kunto Aji dan Dipha Barus dalam rentang waktu 2003-2018.

Hilmi kembali bertanya pada The Jadugar

“Bagaiman regeransi video musik sekarang ini?”

Betmen menjawab bahwa ia sangat mengapresiasi perkembangan para cretor saat ini yang sedemikian inten idan sering mem-publish dalam berbagai medium yang ada. Salah satunya adalah Kolibri yang bergerak di berbagai macam ranah media, dari label rekaman, video musik, manajemen artis dan berbagai kegiatan lainnya.

Bagi Anggun, perubahan akan selalu terjadi dalam kurun waktu per 5-10 tahun. Regenerasi pasti akan terjadi. Yang perlu diperiksa apakah perubahan tersebut relevan atau tidak dengan perkembangan zaman.

Harlan Boer, salah satu peserta ngobrol yang juga artis Indie, menambahkan bahwa perbedaannya adalah audiens. Di masa lalu, audiens mendapatkan medium melalui MTV. Tapi kini audiens ada di sosial media. Maka strategi merengkuhnya pun juga berbeda. para creator video musik perlu menghadapi tuntutan zaman.

Buku ini berisi tiga bagian utama. Bagian pertama adalah Tulisan dari Teman-Teman yang ditulis rekan, pengamat musik, penggemar dan penikmat karya The Jadugar. Bagian kedua adalah Kata Mereka tentang The Jadugar, yang isinya adalah bermacam pendapat dari teman-teman dekat. Lalu yang tecrakhir adalah Narasi dari Lokasi berisi kumpulan arsip gambar, catatan, coretan, potongan klip video dan kasah di balik layar dari 48 video musik yang mereka produksi.

Baik Anggun dan Betmen berharap buku ini ada gunanya.

Perwakilan penerbit Gramedia serahkan plakat secara simbolis kepada The Jadugar sebagai tanda peluncuran buku

Anggun jujur sampaikan bahwa buku ini hanya dicetak 1000 eksemplar saja oleh pihak penerbit .Jumlah yang kecil bagi Sang Penerbit bila dibandingkan buku bertema lainnya. Namun jumlah itu bernilai besar bagi The Jadugar. Ia adalah buku yang mendokumentasikan karya.

Betmen pun mengiyakan Anggun. Nilai besar pada buku ini adalah isinya yang menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia. Harapannya, agar di kemudian hari, isi buku ini menjadi referensi bagi generasi mendatang.

“Jangan lupa arsipkanlah setiap karyamu!” tambah Betmen berpesan pada para kreator seni.

Kebiasaan menyimpan apapun sebagai dokumentasi dari proses berkarya, kerja mencatat, yang dikemudian hari akan berguna, juga temuan pengalaman saat sedang ingin mencari tahu sebuah informasi dan sulit mengkaksesnya, adalah dorongon lain The Jadugar untuk mewujudkan buku ini.

Betmen nylethuk

“Bagus juga kalau buku ini difilmkan. The Jadugar : The Movie. Casting-nya Kunto Aji jadi Anggun dan Ardhito Pramono jadi gue,”

Lalu pecahlah tawa puluhan orang yang memadati Kios Ojo Keos

Di akhir sesi perayaan tampillah sejumlah solois musisi indie yang berbekal gitar bolong secara berurutan. Mereka diawali oleh Haikal Aziz yang dikenal dengan nama panggung Bin Idris, Wahyu yang diakrabi dengan panggilan Acum dari band indie Bangkutaman, Harlan Boer dibantu Betmen pada bebunyian elektronik dan ditutup oleh Sir Dandy.

(Visited 107 times, 1 visits today)

1 thought on “Arsipkan Karyamu!, Membaca Pergerakan Seni Visual Indonesia Melalui Arsip-Arsip The Jadugar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *