Terra Firma The Partikelir dalam Klip Kolaborasi “Never Give Up”

The Partikelir, unit ska-reggae-rocksteady Bogor yang merilis video musik awal tahun. Foto : dok.The Partikelir

The Partikelir, unit ska-reggae-rocksteady Bogor yang merilis video musik awal tahun. Foto : dok.The Partikelir

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Bogor  – HujanMusik!, Bogor – Di pusat kota, malam tahun baru dirayakan dengan gegap gempita. Terompet menyalak di sudut-sudut gang. Kembang api dan petasan meledak meleraikan cahaya warna-warni yang kemudian digantikan oleh hujan yang berderai-derai semalaman. Air bah sampai di hulu sungai, banjir tidak bisa dikendalikan lagi oleh tangan-tangan manusia. Di malam yang sama ketika wangi tanah basah bercampur rumput yang sama basah, dengan rintik yang masih hadir perlahan seolah sedang menyambut tahun 2020 dengan pelukan erat, The Partikelir telah berhasil melahirkan single baru mereka ke langit-langit kelabu di bulan Januari.

Bicara soal waktu, bagi saya detik, menit dan jam adalah selaput halus yang tidak lebih dari persamaan persepsi waktu milik dunia dimana keduanya bersama-sama saling menyesuaikan ritme dengan kehidupan di setiap lipatan waktu. Dan The Partikelir telah berhasil meleburkan keterpisahan diantara dua semesta untuk menyebrangi lapis demi lapis kulit dan daging yang membatasi setiap orang untuk berkarya. Selayaknya Terra Firma, karya perdana mereka yang bertajuk “Never Give Up” ini digarap secara kolaboratif dalam sebuah film pendek berjudul “Wa’as” (Juni 2019) yang disutradai dan diproduksi oleh sineas kreatif dari kota Bogor Andi Abdul Ghani (Rockmountain Studio), ditulis oleh Aan Handayani (Bunga Bintang Studio) dengan penata kamera Hendro Hendrawan (Rockmountain Studio). Dan akhirnya, mau tak mau membuat saya melihat sisi lain dari dua dunia itu dan karya mereka datang dengan segala kegenapannya.

Beranggotakan 5 pemusik veteran Bogor yaitu Anggitane (Keyboard – Cocktails), Didi Saeful Mahdi (Gitar – Cocktails), Chandrabondz (Bass – Rooster Fight), Suryana ‘Ncunk’ Ramdhan (Gitar/Vokal – Cokctails/Bombomcar) dan Dely Tambunan (Drum – Sireum Ateul/Cause/Nil) yang tidak akan bisa saya debat lagi bagaimana inventivitas dan kapabilitas mereka dalam meramu musik yang bernuansa Ska-Reggae itu. Sejenak, sesuatu tengah bertunas di pikiran saya ketika pertama kali mendengar lagu “Never Give Up” pasca Rizza Hujan mengirimkan tautan video dan lagu mereka lewat pesan singkat di telepon genggam saya. Seolah sedang menengok kisah di belakang langkah yang tengah bergegas dalam limbik dimana saya melihat diri sendiri dalam versi anak berumur 3 tahun yang sedang mendengarkan lagu lawas milik Muchsin Alatas dan Titik Sandora berjudul “Dunia Belum Kiamat” (1970) lewat pemutar piringan hitam tua Ayah saya. Ada pola irama dari lagu tersebut yang sekilas terdengar mirip, namun tetap saja kekhasan mengolah lagu band yang terbilang baru ini tidak dapat dipungkiri, hingga akhirnya lagu mereka menjadi sebuah hibrida yang bertumbuh dengan besar dan menjadi satu paket sempurna yang harus dibagikan dan dirasakan. Orisinalitas karya ini begitu mencuat di tengah lansekap skena musik yang mudah tertebak dan cenderung ikut-ikutan namun merasa paling eksklusif ketika bicara tentang musik. Sedangkan lagu “Never Give Up” adalah kombinasi dari visi yang konsisten, bakat yang unik dan kerja keras yang tumbuh dari keras kasar sebuah kerutan.

Mendengarkan berarti menangkap hal penting di balik suara-suara. Suara adalah medium bagi cinta, telinga adalah antena untuk menangkap cinta yang dikirim pemilik hidup agar maknanya menjadi pijar yang membuat hidup kita bercahaya. Definisi inilah yang ingin saya jabarkan ketika mendengarkan karya mereka karena saya mampu menangkap keseluruhan musiknya. Dengan tempo moderato, diimbangi dengan petikan gitar yang bergelombang, dan hentakan drumnya yang menderap ditambah dominasi permainan keyboard yang cukup kentara dari mulai intro sampai akhir lagu. Meskipun gumaman ‘Ncunk’ sang Vokalis The Partikelir yang terdengar begitu samar melagukan lirik bahasa Inggris,namun hentakan biramanya tidak membuat ingin beranjak dari ruang pikir walau pemutar digital saya sudah sampai di nada kosong dan sudah tidak menyisakan apa-apa lagi untuk dinikmati. Hingga akhirnya saya ulangi dan ulangi lagi sebagai tanda lagu tersebut sudah merekat kuat dalam hippocampus di otak saya.

Paul Tillich, seorang teolog dan filsuf kenamaan asal Amerika pernah berkata ‘the first duty of love is to listen’. Karena mendengarkan artinya mampu menangkap suara yang esensinya berarti melihat dan mengangkap realitas sekitar dan merefleksikannya ke dalam diri menjadi semacam pemandu untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan atau keputusan yang akan diambil. Hingga kita tidak akan menjadi gagap menangkap hal-hal penting di balik suara dan bebunyian. Dan saya mampu mendengarkan pesan-pesan itu lewat lagu “Never Give Up”. Karenanya saya seperti berhenti mengupas tepian lensa yang membatasi kenyataan, lebih mengapresiasi perbedaan dan lebih memaknai hidup hingga terus berevolusi dengan arus kehidupan. Karenanya mari kita menuju dunia mendengar dan jangan menyerah!.

 

(Visited 83 times, 1 visits today)

1 thought on “Terra Firma The Partikelir dalam Klip Kolaborasi “Never Give Up”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *