Buku “THE JADUGAR: 15 Tahun Mengiobrak-abrik Video Musik Indonesia” resmi terbit 20 Januari 2020. Foto : dok.Gramedia

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta  – Rock n roll masih menggelinding mengiringi perjalanan saya dari timur ke barat. Saat itu The Brandals sedang ugal-ugalnya meluncur dengan “Lingkar Labirin”, sementara “Yang Terdalam” Peterpan sambung-menyambung dengan koor Cmon Lennon di layar kaca. Ya saat itu saya sedang berada dalam bus dengan fasilitas monitor televisi yang menampilkan MTV.

Untuk generasi pasca MTV, tentu tak banyak memiliki kenangan serunya menanti video klip musik favorit. Meski tampilan visual VJ-nya menarik dan menjadi materi infotainment, video musik band yang ditampilkan setelahnya kerap menjadi andalan rating anak muda. Dari beberapa video musik lokal yang tampil, ada satu brand pembuat video yang selalu unik. Kebaruan yang dibawanya membius dan mampu menterjemahkan musik independen yang tengah divisualkannya. Nama itu adalah The Jadugar.

Sebuah nama yang lekat dengan munculnya kolektif musik independen populer dengan teknik yang tidak biasa. Umumnya muncul dengan kolase, stop motion hingga eksperimen video visual art.

The Jadugar adalah nama sematan dari kolektif kreatif yang berisi duo Anggun Priambodo dan Henry “Betmen” Irawan. Keduanya dikenal melalui karya video musik mereka yang merajai dekade pertama tahun 2000-an. Seperti yang saya narasikan di awal, pada era keemasan MTV Indonesia saat itu, nama The Jadugar turut melambung berkat video yang mereka buat untuk grup band The Brandals, NAIF hingga Peterpan. Pendekatan The Jadugar yang lekat dengan kultur Do It Yourself (DIY) ketika itu memberikan nafas segar di sejarah visual lokal.

Tak hanya popular, karya visual dari tangan terampil mereka juga mudah mendapat ganjaran penghargaan. Misalnya tanyangan The Brandals “Lingkar Labirin” yang saya saksikan di perjalanan. Video yang diproduksi The Jadugar pada 2003 itu meraih Best Indie Music Video MTV Award Indonesia 2004.

Nyaris dua dekade setelahnya, kondisi telah banyak berubah. Video klip memang masih bersliweran dan dibutuhkan, meski kini Berjaya diplatform baru. MTV Indonesia digantikan Youtube, juga Instagram dan platform media sosial lainnya. Pendeknya, pendekatan DIY yang diangkat oleh The Jadugar kini dihidupi oleh jutaan anak muda Indonesia dengan caranya sendiri.

Menariknya, alih-alih merasa tersaingi dengan landscape yang semakin menantang ini, The Jadugar justru datang pada akhir dekade kedua tahun 2000-an dengan buku arsip videografi mereka. Sebuah buku semacam catatan proses yang menguliti bagaimana cara berkarya The Jadugar dari kacamata personal Anggun dan Betmen. Juga dari berbagai sosok yang pernah bekerja sama dengan mereka. Mulai dari produser, editor hingga para musisi yang telah berkolaborasi.

Hasilnya adalah buku berisi testimoni teman, bedah visual hingga bocoran-bocoran penting dari perjalanan karir The Jadugar. Dalam buku ini mereka juga mulai terbuka untuk urusan “orang ketiga” di The Jadugar. Termasuk kritik terhadap praktek kerja Anggun dan Betmen, hingga cerita di balik layar dari puluhan videoklip yang telah mereka kerjakan.

Dalam pengantarnya, Anggun Priambodo berkata bahwa misi utama dalam penerbitan buku ini adalah demi dokumentasi.

“Dari kebiasaan membeli buku dan membaca, lalu berpikir betapa pentingnya sebuah kerja pendokumentasian. Maka cita-cita untuk membukukan dokumentasi dari apa yang pernah dikerjakan bersama The Jadugar adalah yang selanjutnya kami bayangkan untuk direalisasikan setelah lima belas tahun semua itu menumpuk,” tulis Anggun Priambodo dalam rilis yang diterima HujanMusiak!.

Dikumpulkan sejak tahun 2016, buku ini akhirnya rilis di awal tahun 2020 melalui penerbit Gramedia. Disusun oleh The Jadugar bersama tim pengolah arisp The Youngrr, penulis M. Hilmi dari Whiteboardjournal.com dan pengolah grafis Mata Studio, buku ini juga berisi tulisan dari Arian Arifin (Seringai), testimoni dari Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) hingga Xandega Tahajuansya (Polka Wars, Studiorama).

Buku dengan judul provokatif “THE JADUGAR: 15 Tahun Mengiobrak-abrik Video Musik Indonesia”, meluncur dengan 274 halaman. Buku ini sudah bisa diburu di Gramedia mulai 20 Januari 2020 dengan harga rilis Rp. 135.000.

Secara khusus tim produksi buku ini juga membuka pre-order terbatas 100 buku bertanda tangan The Jadugar plus Exclusive Postcard, Stickers & Mini Notes. Harga pre-order dipatok Rp. 120.000, khusus tanggal 7 sampai 20 Januari 2020 melalui jalur distribusi Kios Ojo Keos. Pembelian Pre order hanya berlaku melalui WhatsApp ke 087874476164 dengan format pemesanan sebagai berikut: Nama Buku: The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-Abrik Video Musik Indonesia, Jumlah: (), Nama Lengkap:(), Alamat:(), Kode Pos:(), Nomer Telpon:().

Jika anda adalah insan musik yang berniat memahami musik dari berbagai sisi, buku ini layak dimiliki. Dan saya adalah salah satu peminatnya.

(Visited 48 times, 1 visits today)