Single Baru dan Metamorfosis Lima Personil Magnesence

Magnesence, pop-rock Jakarta yang kini memiliki single baru. Foto : dok.Magnesence

Magnesence, pop-rock Jakarta yang kini memiliki single baru. Foto : dok.Magnesence

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta – Layu saat itu tengah menguasai keadaan, menghempas masa dimana tak banyak sapa dan canda yang mengemuka. Hidupnya sepi ditikam kegetiran, sebalum akhirnya ia kembali ceria dengan segudang cahaya hidup yang baru. Kisah klise dalam sudut pandang kebosanan yang rasa-rasanya terus menerpa makhluk hidup berakal. Bak cerita almarhum Chrisye dalam nomor legendarisnya, “Badai Pasti Berlalu”.

Bahasa badai yang sama dengan “Languange of Thunder” yang dibesut Magnesence, pop rock Jakarta yang belum lama rilis. Lagu yang bercerita tentang keberhasilan seseorang mengatasi masalah hidupnya. Sebuah ajakan untuk semua orang agar senantiasa mengisi hidupnya dengan optimisme positif saat menjumpai masalah. Optimisme untuk menghadapi, bukan menghindari.

“Language of Thunder” seperti pesan konkrit Magnesence kepada kita semua untuk pantang menyerah menghadapi masalah. Ada kalanya, titik terang muncul di saat-saat tidak terduga. Pesan yang mudah ditemukan di layanan audio streaming seperti Spotify dan platform video streaming YouTube.

Dibalut dalam gaya pop-rock 90-an, kekuatan lagu ini ditonjolkan di rhythm section yang Kokoh dan dalam tempo yang cukup moderat. Landasan ritmis terbangun dari drum yang padat dan soulful serta tone bass dengan sentuhan growl yang halus. Nuansa khasnya juga bisa ditemukan pada kombinasi ambience gitar listrik dan gitar akustik yang crunchy-nya konsisten. Sementara emosi “Language of Thunder” disampaikan melalui vokal mid-low yang mencapai puncaknya di overtone paruh akhir lagu.

“Language of Thunder” sejatinya sudah disiapkan Magnesence sejak Juli 2019, tetapi rilis resminya baru terjadi enam bulan kemudian. Embrio “Language of Thunder” sejatinya diajukan sebagai materi pribadi salah satu personil. Materi tersebut kemudian didiskusikan dalam sesi workshop agar sesuai konsep dan visi Magnesence. Setelah itu, secara kolektif mereka menyempurnakan aransemennya.

“Makanya pengerjaan lagu ini agak makan waktu. Ada sejumlah perubahan. Kami ingin pesan moral lagu ini bisa ditangkap pendengar dengan baik,” ungkap Rio, bassist Magnesence dalam event Launching Single Language of Thunder di Kedai Simple Jatiwaringin Pondok Gede (27/12), silam.

“Language of Thunder” menjadi single baru yang menandai momentum breakthrough Magnesence dengan formasi lima orang personil. Bak metamorfosis, perubahan formasi turut memberi inspirasi baru dalam menggarap musik Magnesence. Proses bongkar pasang personil berkali-kali dalam tujuh tahun perjalanannya. Hingga akhirnya Magnesence jalan lurus dengan lima personil.

Sejak Juni 2019, musik Magnesence diisi oleh Rio (bass), Irhas (drum), Cahyo (gitar elektrik), Ifad (vokal), dan Reno (gitar akustik).

Setelah rilis single Language of Thunder, Magnesence kini sibuk memastikan sejumlah materi segera terkumpul, guna menyempurnakan materi untuk menggenapkan proyek mini album kedua mereka.

(Visited 43 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *