Album Perdana JFK, Pembuktian Musikalitas Experimental Pop Muda Jakarta

JFK, kolektif indie Jakarta merilis album “All The Things That We Could Be”. Foto : dok. JFK

JFK, kolektif indie Jakarta merilis album “All The Things That We Could Be”. Foto : dok. JFK

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta – Pena itu sedang bergerak-gerak mencari kata untuk dituliskannya, sementara tangan lembut yang menggenggamnya terlihat lambat mengendalikan. Kata demi kata coba disusunnya menjadi uraian kalimat yang menjadi pewarna nada yang telah ditemukan sebelumnya. Lantas bergulirlah ia menjadi lagu yang menyibak angin pagi, menderai hawa siang dan menggandeng senja.

Barangkali penggalan adegan imajiner diatas mewakili bagaimana JFK, band muda usia yang terdiri para anggota keluarga berproses menemukan karyanya. Josh Risakotta (drum), Faye Risakotta (vokal/gitar), dan si bungsu Kaye Risakotta (keyboard) memadatkan keberaniannya dengan menampakan kebolehannya dalam bermusik. Memainkan Experimental Pop dengan referensi rock era 90’an, soul ala Amy Winehouse hingga gelora EDM yang banyak menghiasi soundtrack film-film bioskop. Referensi musik yang bersumber dari tiga anggota berbeda namun saling menguatkan.

Memulai perjalanan dengan kebiasaan sehari-hari di rumah, ketika Faye menulis banyak lirik dan nada lagu, lantas meminta Kaye mengiringi dan menemukan kord yang tepat untuk dasar aransemen lagu-lagu tersebut.

Ketika irama menampilkan beat cepat, Josh dengan sigap membantu mengiringi dengan Cajon. Begitu pula tautan musik temuan lainnya, mereka bertiga adalah penulis sekaligus composer untuk lagu-lagu mereka sendiri.

Hingga akhirnya meluncurkan album perdana mereka berjudul “All The Things That We Could Be”. Album bermuatan 7 lagu yang mereka rampungkan prosesnya pada Januari 2020. “Lost” adalah salah satu lagu yang diunggulkannya untuk disimak secara mendalam.

Sebuah proses panjang sejak terbentuk pada 15 September 2018 memperkenalkan karya-karyanya sebagai wujud ekspresi seniman muda remaja yang berkarya. Referensi musik mereka tumbuh dari mana-mana, sesuai minat masing-masing. Josh lebih cenderung menyukai musik rock era 90’an dan menempatkan nama Vinnie Colaiuta sebagai kiblatnya bermain drum. Sementara Faye yang tumbuh dengan pengantar soul british seperti Amy Winehouse, Adele dan lainnya. Sebaliknya, Kaye sangat dekat dengan musik modern saat-saat ini yang sarat variasi bunyi elektronik disamping musik-musik soundtrack movie yang suka dimainkan sejak kecil ketika selesai menonton film kesukaannya.

Sebelumnya single perdana, Running Late, sudah dirilis pada 21 Juni 2019 sliam, sebelum kesempatan memiliki album terbuka pada bulan Januari ini.

Masih memilih jalur indie sebagai cara mereka memperkenalkan ekspresi musik mereka dengan harapan disukai oleh pencinta musik di Indonesia dan berharap didengar di generasi mereka. Belajar dari berbagai intimate music showcase yang mereka jalani diberbagai komunitas musik, mereka mendewasaklan racikan musiknya agar mudah diterima .

Produksi album ini juga melibatkan Richard Benhard selaku produser diluar anggota JFK lainnya.

(Visited 32 times, 1 visits today)

1 thought on “Album Perdana JFK, Pembuktian Musikalitas Experimental Pop Muda Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *