14 Tahun Oncom Hideung ; Perayaan Pertemanan yang Paripurna

Oncom Hideung, pengusung folk-reggae-balada asal Bogor merayakan 14 tahun berkarya. Foto : Dadan Suhada

Oncom Hideung, pengusung folk-reggae-balada asal Bogor merayakan 14 tahun berkarya. Foto : Dadan Suhada

Artikel : Rizza Hujan

[HujanMusik!], Bogor  – Sabtu (21/12/19) itu saya punya dua agenda besar. Pertama berkunjung ke Rumah Berkawan, markas komunitas yang bergerak di bidang literasi dan yang kedua menghadiri konser Oncom Hideung di gedung Kemuning Gading. Setelah puas ber-haha-hihi di Rumah Berkawan yang terletak di Ciherang, saya dan Dendy bertolak menuju venue pesta ulang tahun band Kobek dan kolega.

Jalanan bogor cukup ramah hari itu, meski musim hujan tapi kami tidak bertemu keruwetan berarti di jalan hingga akhirnya sekitar pukul 17:00 kami tiba dengan selamat dan kering. Di gedung legendaris itu sudah ramai, hiruk pikuk suara dari berbagai sumber terdengar di telinga. Manusia-manusia berompi jeans dengan topi berbagai model asyik bercengkerama di atas vespa mereka yang terpakir rapi di halaman depan Kemuning Gading. Anak vespa adalah satu dari beberapa komunitas yang berteman dekat dengan Oncom Hideung. Selain mereka, banyak juga orang memakai kaus bertuliskan ‘Oncom Ranger’, garda utama kelompok penggemar band yang hari itu merayakan ulang tahun ke 14.

Memasuki ruang dimana panggung berada saya disambut asap rokok cukup pekat yang bisa membuat orang berpola hidup sehat seperti Anggit kepayahan. Saat itu Orkes Keroncong Merdeka sedang ‘ngamen’ di atas set karya Imajinakal dan panitia. Ornamen dekorasi panggung mewakili akar Oncom Hideung yaitu jalanan. Ada papan penunjuk jalan, lampu merah, dan awan-awan bergelantung di udara, seolah ingin menggambarkan jalanan yang cerah dan merepresentasikan Oncom Hideung sebagai kolektif jalanan yang sukses menggapai mimpinya. Saya tidak terlalu fokus menatap ke arah panggung karena harus menyalami Coim, Boenk, Encung, Brok, dan sahabat lama yang sulit ditemui yaitu Odoy, vokalis band senior, Karbit. Tidak lama kemudian acara dihentikan sementara karena memasuki waktu magrib.

Waktu menunjukkan pukul 19:30 saat perayaan dilanjutkan dengan penampilan Jeans Roek, band yang belakangan hampir selalu mengisi panggung tiap gig di Bogor. Panitia sepakat semua penampil malam itu harus membawakan satu lagu milik Oncom Hideung dengan gayanya masing-masing. Indra Koran bersama Jeans Roek memilih “Motor Tua” untuk dirombak jadi sebuah lagu Punk and Roll yang jadi identitas mereka. Selepas Jeans Roek waktunya Karbit unjuk gigi. Seperti biasa, mereka tampil nyeleneh dengan kostum lucu menggemaskan. Sayangnya Karbit hanya membawakan dua lagu, padahal saya ingin melihat mereka gila-gilaan lebih gila.

Hari kian malam udara dingin pun makin terasa menusuk tulang. Tapi di dalam venue tetap saja panas. Aroma alkohol yang bersenyawa dengan keringat manusia menyengat indera penciuman, asap rokok masih bergentayangan layaknya mahluk astral yang sedang berpesta. Diantara semua itu naiklah Ambarila, duo folk yang beberapa waktu lalu meramaikan panggung Java Jazz. Penampilan Amba dan Rila sedikit menurunkan tensi. Saya suka suara Rila yang tidak sekedar enak di telinga tapi juga menusuk perasaan. Di sela penampilan mereka Tio berkomentar “Gila, gw udah tau mereka kayak apa tapi tetep aja gw merinding,”. Memang seromantis dan semistis itu ambience yang dihadirkan Ambarila.

Tiap kali Coim dan kawan-kawan pentas selalu ada kelompok orang-orang paruh baya yang datang. Mereka didominasi ibu-ibu berkerudung bersama anak-anaknya yang masih kecil. Sisi menarik yang layak jadi perhatian. Selain itu perayaan kali ini juga membawa berkah untuk HujanMusik!. Secara kebetulan dan tanpa janjian para kru berkumpul, yang mana hal ini langka terjadi. Sekalian lah proyeksi.

Sementara kami proyeksi diselingi gosip kanan kiri, The Bokong dan Vikri and My Magic Friend menjajah panggung. Vikri Rasta yang juga seorang komika merupakan orang yang mesra dengan Oncom Hideung. Malah dia pernah jadi manajer. Meski hubungan profesiinal itu singkat tapi silaturahmi tetap terjaga dengan baik. Akhirnya Oncom Hideung pun menutup perayaan untuk mereka sendiri. Membawakan lima lagu, anak-anak ini selalu tampil prima. Entah apa rahasianya.

Malam kian gelap, satu persatu orang-orang itu berjalan pulang, meninggalkan perayaan pertemanan yang begitu paripurna. Penuh keakraban, senang-senang, dan tentu rasa syukur atas kemampuan bertahan sekumpulan manusia rendah hati yang bernaung di bawah panji Oncom Hideung. Selamat ulang tahun, selamat berbahagia, selamat berkarya, dan selamat kalian tidak lagi dikejar-kejar polisi pamong praja.

(Visited 69 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *