Album “Mata Hati Jiwa” RapeMe dalam Format Rilisan Fisik

RapeMe, alternative rock Depok merilis album secara mandiri. Foto : dok.RapeMe

RapeMe, alternative rock Depok merilis album secara mandiri. Foto : dok.RapeMe

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Depok  – Pada suatu perlintasan saya selalu merasa kecil dan salut dengan pergerakan kolektif musik independen yang bergerak dengan caranya sendiri. Sepanjang mereka konsisten dengan sikap dan pilihan proses yang mereka jalani. Memilih jalan berbeda dengan niat menjaga asa, seperti limpasan air hujan di jalanan tanpa drainase. Bergerak menjadi penguasa atas pilihannya itu. Dan saya masih menemukannya pada unit alternative rock Depok, Rapeme.

Secara konsisten mereka terus melakukan gerilya panggung musik underground, sampai pada akhirnya menemukan ciri dan keunikan tersendiri hingga merilis album. Gerusan pasar industri digital tak membuat RapeMe silau dan tergugah untuk ikut-ikutan. Mereka memilih tetap berproses dengan apa yang mereka Bisa dan ketahui secara mandiri.

Memilih jalan berbeda, ketika banyak musisi memilih jalan rilisan musik digital, Rapeme tetap keras kepala merilis album “Mata Hati Jiwa” dengan menomor satukan kemasan fisik. Termasuk konsep handmade pada kemasan album perdana mereka. Sebuah pilihan sadar yang dilakukan demi memperkuat karakter, sekaligus bukti kreatifitas dan strategi menaikkan derajat rilisan fisik era sekarang.

Album “Mata Hati Jiwa” didengungkan Kiki Maulana (vokal/Gitar), Bobby Sandhy (Bass), Reza Nugroho (Drum) dan Alex Wallace (Gitar) sebagai pelepas keresahan, tentang beberapa persoalan kehidupan pada semua lapisan yang tak Bisa diungkapkan secara lugas. Lalu dengan gagah, per 14 Desember 2019 mereka memproklamirkan albumnya secara resmi kepada khalayak.

Pilihan sound ala 90s menjadi jembatan kenapa mereka menyebut dirinya alternative rock. Memilih memainkan musik dengan goresan lirik sarkastis, seturut isu yang mereka dengar dan lihat. Hingga konsistensi terjawab dengan keluarnya album mandiri berjuluk “Mata Hati Jiwa”.

“Mata Hati Jiwa” akan menjadi rilisan bersejarah musik berisik di Kota Depok lainnya. Modal 12 lagu yang disisipkan adalah bagian eksperimen aransemen kolektif ini. Materi 12 lagu yang diklaim mampu merubah kecenderungan sudut pandang musik tanah air. Direkam dengan peralatan terbatas namun pennuh daya kreativitas. Beberapa sound gitar, drum dan bass bahkan diselesaikan dengan cara menempatkan bebunyian dari barang yang tak lazim. Proses rekaman dilakukan di Play Record di Otista, Jakarta Timur.

Begitulah RapeMe, melalui musik mereka menyuarakan bahwa generasi muda itu harus berani bertindak dan berpikir tangkas sekalipun harus mendobrak dinding pembatas yang melemahkan kepercayaan diri dan ketergantungan terhadap sebuah sistem roda perekonomian.

Selamat atas rilis albumnya, selamat atas pilihan perjuangannya. Salam

(Visited 58 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *