Tantra Marie Fredriksson Sebagai Manusia

Mendiang Marie Fredriksson. Foto : Roxette-documentary/Swedish TV

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Bogor  – Denting gerimis jatuh perlahan di atas atap rumah saya seharian ini, sementara tanah menggemburkan langkah-langkah kaki seperti sedang mengentaskan luka lama yang tertinggal di punggung seolah luka-luka itu meminjam tubuh saya untuk berpijak. Setelah terhantam sakit sekian lama, tidak pernah saya kira bisa menulis kembali di HujanMusik!. Namun ternyata riuh kata-kata di otak minta dibuatkan satu ruang untuk saya jadikan satu karya disini. Setelah selesai merenda kata untuk proyek musik bersama sahabat lama dari Karinding Attack, Karinding Militan (Karmila), Katjie & Piering juga Tigapagi, saya diminta oleh Rizza Hujan untuk menulis lagi. Menorehkan kisah sederhana yang tidak berjarak untuk dinikmati.

KawanHujan tahu, betapa hebatnya badai kehidupan dan kematian di semesta? Keduanya satu adanya, karena tantra adalah penanda klimaks dari kehidupan manusia. Sementara ilusi waktu yang memisahkan keduanya sebagai satu cara mengidentifikasi adanya perubahan. Seperti berapa banyak kerutan di wajah sebagai tanda bahwa usia akan padam di titiknya dan kematian adalah pencapaian tertinggi dari hidup disaat degup melambaikan tangan tanda berpisah dari tubuh.

Demikian pula degup yang dimiliki oleh Marie Fredriksson. Mau tak mau, harus ia serahkan kepada pemiliknya setelah terhantam kanker selama 17 tahun lamanya. Roxette dan Marie Fredriksson adalah satu dari banyak elemen yang sudah begitu melekat. Lagu-lagu patah hatinya sudah sangat saya kenal sejak ayah saya memutar lagunya untuk pertama kali dulu sekali. Gumaman kecil dari lagu “It Must Have Been Love” di mulut kecil saya adalah awal perkenalan itu. Ketika mulai mengerti siapa itu Roxette, gelombang lain dari lagu-lagunya seperti “Anyone” dan “Milk and Toast and Honey” mengajak saya mabuk.

Bersama Per Gessle, koleganya di Roxette Marie mencipta banyak lagu sejak 1986. Hibridasi lagu dan kisahnya telah benar-benar membuat keciri-khasan Roxette begitu dikenal, dimana perjalanan panjangnya bisa menginspirasi bagi para musisi muda untuk memperjuangkan karyanya.

Sebelum menjadi vokalis Roxette, Marie Fredriksson sempat bergabung dengan beberapa band. Ia juga sempat merintis karier solo setelah karier bandnya tidak berjalan mulus. Kemudian setelah itu, ia pun bertemu dengan Gessle dan membentuk band duo yang ternyata berdampak cukup baik pada keduanya hingga menjadi titik balik perjalanan musik mereka. Lagu lagu mereka telah melahirkan bintang-bintang setelah meraih masa keemasannya saat album “Joyride!” mendapatkan respon baik dari penikmat musik internasional hingga menembus US Hot 100 dan UK Top Hits.

Gemuruh rintik-rintik yang gemas dari lagu mereka tidak hanya saling bercermin dalam kedalaman maknanya, namun ternyata membuat kita berkontemplasi mulai dari wajah terluar yang mereka tuangkan dalam karyanya. Seperti pintu yang terbuka setelah kita ketuk berkali kali untuk mengenal pemiliknya. Membuat kita sadar bahwa lewat karya-karya Marie dan Gessle kita diizinkan berkomunikasi untuk menghilangkan pembatas, melebur bersamanya kemudian meresapi maknanya. Hingga tidak ada seorang pun yang tidak terbawa gelombang ombak yang sudah mereka ciptakan sekian lama.

Bagi saya, lagu “Spending My Time” menjadi riuh yang berbisik di kedua telinga, dimana kombinasi antara pemilihan diksi dan musik mampu merangsang visual walaupun liriknya membuat saya sedih. Seperti mencium aroma hujan dan kopi, yang keduanya bisa membawa saya pada bayangan yang merayap di dinding ingatan. Seolah menemukan sejumlah rahasia yang tersembunyi dalam kepalan tangan yang selalu urung saya lepaskan. Nada-nada lagu itu menyambut saya dalam pelukannya yang hangat, sedangkan liriknya seperti tengah menyapu wajah saya yang ragu sementara koper-koper rasa terlipat rapi dalam mata saya yang terpejam. Lagu itu seolah memberi-tahu saya barangkali ada masa dimana kita ditakdirkan untuk mengeringkan air mata kita sendiri namun semuanya akan tetap baik-baik saja.

“Perpisahan tidak menyakitkan, karena jika kamu terus merasa sedih akan sebuah perpisahan sebetulnya kamu sedang menikmatinya. Karena jika tidak, sudah lama kamu sudah membuangnya. Dan ketahuilah, Hidup adalah masalah!”. Sebuah kalimat bijak yang pernah disampaikan Pidi Baiq kepada saya ketika curhat pada beliau di tahun 2010. Perlu bertahun-tahun untuk bisa mencerna maksudnya. Namun akhirnya saya mengerti bahwa segalanya memiliki akhir sebagai awalan. Dan kita berada diantara kedua batasnya, tak bisa sejengkalpun lari dari wilayahnya. Seperti itu pula yang di alami Marie Fredriksson, ia tak menyerah pada sakitnya namun hidup memang selalu menentukan akhir untuk menjadi awal. Dan ia telah menentukan titik awal itu. Dan saya berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk mendengar setiap melodinya. Dan mungkin benar, bahwa akhirnya yang tertinggal adalah rasa. Bahwa setiap rasa memiliki bahasa tersendiri, dan perpisahan bukanlah akhir. Seperti pahit kopi yang saya sesap malam ini. Semoga kopi mengajarkan kita tentang pahit yang indah. Selamat untuk hidup yang ada di tiada Marie. “It must have been love, but its over now…”.

[penulis adalah warga Taman yang Paling Indah dan penyuka sastra]

(Visited 45 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *