Irine Sugiarto, beberkan “Samar dan Asam” dalam bentuk video. Foto : dok.Irine Sugiarto

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Samarinda – Temaram lampu mendominasi malam. Syahdu mendekap ditingkahi udara dingin nir teman bicara. Hanya pikiran menerawang dengan sajian kopi yang menuju dingin. Saya seperti sempalan pasangan muda-mudi yang sedang rindu, rindu terdampar pada canda-tawa saat gembira dan sesenggukan dikala lara. Rindu masa muda dengan tipu muslihat demi menarik perhatian. Seperti cermin dan cahaya, saling mengundang untuk menemukan pantulan. Suasana yang semakin liris dengan pop/folk Sugiato Irine yang mengiring.

Terjebak dalam suasana kesendirian malam dengan “Samar dan Asam” mengudara bukanlah hal yang nyaman untuk penikmat keramaian. Suasananya akan menampar jatuh imajinasi semu jika tak ada usaha menemukan riang. Irine Sugiarto, singer-songwriter asal Kalimantan Timur, pemilik nada “Samar dan Asam” memang menghipnotis.

Memasuki awal bulan Oktober 2019, ia menyapa publik dengan video musik berjudul “Samar dan Asam” yang dirilis di kanal YouTube, per 3 Oktober 2019. Single kedua yang dirilis setelah single pertama “Besok-Besok” pada Februari tahun 2018 dan masuk dalam EP Altokumulus Kelabu. Jika pada single pertama dirilis menggunakan platform audio, single “Samar dan Asam” dirilis dalam bentuk video.

“Samar dan Asam” lahir dari kerinduan untuk mengajak siapa saja tak sungkan bercerita, memaki dengan lembut kepada mereka yang kurang bersyukur dengan kehadiran orang-orang ditempatkan di sekitarnya. Disini Irine menekankan kontradiksi ‘memaki dengan lembut’ melalui lantunan lirik yang terkesan mengancam sekaligus menegur “Jangan sampai cahayapun bosan! Dan kehilangan bayangannya.” Pun halnya “Jangan sampai kopi menjadi dingin! Dan dibiarkan hingga asam.”

Lirik tajam dengan balutan irama bossa nova yang lembut dan jelas tak membuat saya percaya begitu saja, meski memancing tubuh bergoyang, kalimat teguran terus memenuhi ingatan.

Penggarapan video musik genre retro-pop dan jazz minimalis ini dilakukan sendiri oleh Irine Sugiarto sebagai sutradara. Didukung penangkap dan penyunting gambar Anis Alimah Shalihah.

Menyentuh langsung proses pembuatan karya dalam bentuk visual dari awal hingga selesai, diakuinya menjadi kelegaan dan keintiman tersendiri untuk menyampaikan pesan dan harapan untuk setiap yang mendengar dan melihat nantinya. Ditayangkan dengan nuansa hitam putih dan konsep pengambilan gambar yang sederhana, “Samar dan Asam” diharapkan menjadi warna interpretasi tentang seseorang dengan segala keluh kesah, kemarahan yang akan meledak tanpa diketahui dan kesendirian karena perannya menjadi angin lalu.

“Samar dan Asam” akan menjadi salam pembuka Irine menuju akhir tahun 2019, dengan membocorkan sedikit kisi-kisi bahwa akan ada rilisan video musik lainnya yang masih berada dalam rangkaian EP Altokumulus Kelabu.

Teruslah bikin sejuk

(Visited 9 times, 1 visits today)