Kolaborasi kebudayaan Sunda, India dan Tionghoa dalam Sundaland Ethnomusic Festival 2019.

Artikel & Foto : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor – Surya beringsut perlahan meninggalkan posisinya semula. Ia beranjak tinggi menepikan fajar merekah yang sedang menuju siang. Ingatan saya masih belum bulat bersepakat, menerawang dan mengambil alih keharuan yang belum paripurna. Pada suatu hari di bulan baik, pertemuan indera pendengaran saya dengan bebunyian seni sunda klasik seperti dipertemukan oleh sang penguasa kehidupan. Imajinasi berkelebatan di bumi Pajajaran yang menebar wewangian alam, menyambut kidung-kidung adiluhung yang berkumandang bersahutan. Segera semuanya saya temukan pada perhelatan jejak kedua, festival musik sunda dalam “Sundaland Ethnomusic Festival 2019”.

Sebuah festival fundamental yang memanggungkan karya-karya penting maestro seni Sunda yang jarang kita jumpai pada konser-konser musik akhir pekan. Sebuah kemewahan bisa menyaksikan pentas utuh mereka di Kawasan Kampung Wisata Rumah Joglo, Ciampea, Kabupaten Bogor, 23 sampai 24 Agustus 2019.

Rangkaian “Sundaland Ethnomusic Festival 2019” dibuka dengan ritual Babakti, sesi persimpuhan hening, menghadap Tuhan yang tunggal, memohon melalui suara kacapi dan suling yang indah agar seluruh rangkaian acara memberikan kebaikan bagi setiap insan yang hadir.

Tema “Nagarawangi” menjadi penyambung yang dirangkai indah sebagai sebuah harapan agar Indonesia segera menjadi negara yang sanggup memberikan kesejahteraan sebesar-besarnya bagi setiap anak bangsa, percaya diri untuk bersama dengan bangsa-bangsa lain membangun sebuah dunia yang lebih baik. Bangsa yang namanya semerbak penuh keharuman.

Sungguh sebuah simbol dengan makna filosofi yang mendalam.

Sundaland Ethnomusic Festival melengkapi rangkaian acara dengan diskusi dalam format talkshow. Diskusi yang diniatkan untuk membangun kesadaran jati diri sebagai bangsa besar. Sementara tampilan utama berupa pagelaran musik yang memperlihatkan keluhuran rasa leluhur nusantara, namun yang kini tidak lagi menemukan kepedulian yang cukup untuk tetap lestari.

Sesi Jum’at siang, 23 Agustus 2019, Dicky Zainal Arifin, Anand Krishna, Dhani Irwanto, dan Ahmad Y. Samantho tampil untuk mengkaji peradaban- peradaban sangat maju yang diduga pernah berkembang di tatar Sunda.

Beranjak malam pertunjukan kesenian Gondang Sabangunan dari tanah Batak dan kesenian Tarawangsa asli dari Rancakalong, Sumedang ditampilkan. Paduan konten menarik, selaras dan harmoni dengan konteks kekinian.

Tarawangsa merupakan salah satu kesenian tua Sunda yang masih bertahan hingga kini. Kesenian yang lahir sebagai ungkapan syukur masyarakat Sunda yang agraris kepada Tuhan Yang Esa atas hasil panen bumi yang berlimpah.

Sebuah kebahagiaan bisa menyimak sedikit ulasan Prof. Jakob Sumardjo dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, yang memaparkan seni Pantun Sunda pada Sabtu, 24 Agustus 2019. Berikut bincang-bincang tentang wangsit Siliwangi dalam konteks masa depan Indonesia bersama Dr. H. Iwan Dharmasetiawan Natapradja (Yayasan Sawala Kandaga Kalang-Bandung), A. Ruli Bahtirudin, S.H (kabuyutan Giri Tresna Wangi-Sukabumi, H. Karyawan Faturahman (Sunda Langgeng Wisesa-Bogor), dan E. Rokajat Asura, penulis buku “Tafsir Wangsit Siliwangi dan Kebangkitan Nusantara”.

***

Panggung megah berlatar belakang set gamelan mencuri perhatian saya sejak tiba di Kampung Wisata Rumah Joglo. Sebelum bertemu panggung, instalasi seni dengan bahan dasar bambu bahkan menyambut sejuk, seperti ibu memanggil pulang anak-anaknya untuk berkumpul lantas mendengarkan tutur cerita. Pun demikian halnya instalasi pameran yang berkutat sekat tanpa penutup.

Pendar resonansi gong mengaum membius perhatian. Getaran frekuensinya memberi rasa keseimbangan, pananda dimulainya perjamuan karya-karya luhur. Dalang Drajat Iskandar mengantarkan perjalanan pertunjukan melalui karakter wayangnya. Bahar Eksotica membuka dengan sajian dawai biola lagu Indonesia Raya. Menyambung Romo Danang dan koleganya memainkan gamelan warisan koleksi Rumah Joglo. Saya tak dapat menyembunyikan kerinduan menikmati barisan irama pentatonik yang ditimbulkannya.

Biusan berikutnya adalah Kacapi Pantun yang dibawakan duet seniman asal Subang yang memilih dikenal sebagai Mang Ayi dan Wa Itok. Penampilan yang menunjukkan rasa hormat pada tradisi lisan seni Pantun Sunda. Termasuk halnya berbagi ajar pikukuh sunda yang disampaikan Abah Lucky Hendrawan.

Duet Anes Guo dan Eni Agustien yang akan mengusung keindahan alat musik Guzheng menggetarkan kalbu, petikan nada yang melantunkan “Tanah Air” itu begitu syahdu, mempertebal rasa cinta pada bumi pertiwi. Simbol pertunjukan tentang pluralisme tionghoa yang datang sebagai saudara tua di kebudayaan Sunda.

Lalu ada Partha Pratim Mukharjee dari Pusat Kebudayaan India di Jakarta yang mempertontonkan kelincahan tepakan pada gendang India Tabla. Juga kisah ronggeng Gunung yang di lakoni oleh Dewi rengganis, dipresentasikan Nyi Raspih sebagai Maestro ronggeng Gunung yang hampir tak terdengar lagi.

Nyi Raspih , sang penjaga terakhir kesenian Ronggeng Gunung dari Ciamis menjadi asa hingga kita bisa menikmati sajian tarian buhun (kuno) yang pada prakteknya dihelat secara keliling itu. Jelas kenapa tarian yang penyajiannya sangat minimalis ini memiliki kesan magis, paling tidak bagi saya. Lahirnya kesenian yang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kerajaan di daerah Galuh/Ciamis.

Ronggeng Gunung Ciamis

Seniman kendang Sunda Jalu Pratadina dan pemain suling Saat Syah, tampil menggelontorkan nomor-nomor spontanitas. Lalu mempersilahkan sahabat musisi dari India untuk bermain bersama, juga mengundang permainan Guzheng untuk bergabung dalam kolaborasi kebudayaan.

Dalam kegembiraan ini, “Sundaland Ethnomusic Festival 2019” juga menghadirkan sesepuh budaya Ciampea, Abah Amin. Sang maestro itu membawakan tradisi tua tanah sunda yakni Pepeling.

Sebagai penutup, panggung diserahkan pada permainan kacapi pantun Sunda oleh Ki Dai dan Ki Akim dari Ciptagelar, Sukabumi. Kacapi pantun yang lagi-lagi tak sekedar bertutur, namun penuh petuah dan nilai-nilai kehidupan.

Pilihan Talataki dan Rockmountain menggelar “Sundaland Ethnomusic Festival 2019” di Ciampea bak mengirim pesan kepada masyarakat luas. Mengajak untuk mengingat kembali betapa penting Ciampea di masa lampau. Masa ketika sungai-sungainya yang besar dan berkelok indah menjadi jalan yang membawa peradaban di bumi Parahyangan. Tempat para leluhur meninggalkan arca- arca penghormatan bagi sang pemilik sejarah buana, dimana mereka meletakan prasasti-prasasti kejayaan diri.

Sampai bertemu di Sundaland Ethnomusic Festival tahun berikutnya.

(Visited 38 times, 1 visits today)