Karsha, chamber pop asal Yogyakarta yang merilis 2 single. Foto : dok.Karsa

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Yogyakarta – Gerbong terakhir Taksaka Jogja-Jakarta masih terlihat bergerak perlahan, membawa para penumpang menembus harapan dan tujuan. Sesosok tubuh beringsut pelan, melangkah menjauhi bangku kosong yang segera menertawakan kesepian. Kekosongan menyergap dengan cepat, pilar-pilar stasiun pun seolah tertawa sumir. Kesepian yang seperti disengaja, karena perpisahan tetap harus dilakukan. Chamber pop menambah bangsal perih yang meyayat.

Sosok dan peristiwa diatas adalah ekspetasi imajiner yang coba saya paksakan, demi menemani menyimak kolektif Chamber Pop lokal bernama Karsha yang merilis dua single secara digital dalam waktu terpisah.

“0/10” adalah nada kedua yang hendak disampaikan Agustina Lestari (Vokal), Alfin (Gitar/Vokal), Yusdhy Prakoso (Gitar), Ari Armanda (Gitar), Yuri Ramadan (Bass), Syarif Hidayattulah (Keyboard) dan Yordannata Rindhi (Drum). Setelah sebelumnya “Shield” meluncur secara digital mengawali debut.

Karsha, band asal Yogyakarta yang terbentuk awal 2017 itu memilih mengagumi serial televisi Game of Thrones sebagai pijakan inspirasi berkarya. Kisah-kisah ras non manusia yang misterius. Untuk sesaat seperti mengantarkan saya untuk mengingat nadakolektif Of Monsters and Men.

Ibarat permainan game, 0/10 adalah identitas level skill seseorang dalam menghadaapi tantangan, terendah adalah 0 dan tertinggi adalah 10. 0 menyimbolkan kodisi seseorang pada titik terendah dalam hidupnya.

Saya mencoba memahaminya sedikit demi sedikit klaim tema yang dirilis Karsha. Secara implisit, ini bercerita tentang perasaan gelap seseorang yang mengalami depresi. Di mana hanya ada kesengsaraan dan kecemasan di pikirannya. Perasaan depresi yang hanya terkubur di dalam hati dan menjadi semakin tak terkendali menjelma sosok entitas yang akan selalu menghantui. Dia ada di sana untuk selalu menyesatkan, menenggelamkan, dan membakar harapan tanpa akhir, secara fisik dan mental. Dan dia adalah diri manusia sendiri.

Manusia dapat membunuh harapan, dapat pula mengembalikannya. Harapan selalu ada untuk diserap di mana saja. Tetapi kita orang yang pertama-tama harus membuka pintu harapan akan datang. cahaya akan datang dalam gelap dan kemudian membawa kita kembali ke kebahagiaan.

“Yang harus dilakukan adalah percaya. Percayalah bahwa harapan akan datang, bahkan pada tingkat pikiran terendah dalam hidup kita. Percayalah pada tangan Tuhan selalu meberi kita pintu keluar untuk semua masalah yang kita hadapi” tulis Tari, vocalis Karsha, kepada Hujanmusik!.

“Kami berharap, bersama dengan lagu 0/10 yang memiliki cerita yang bermakna mendalam dan musik yang disajikan untuk dirasakan bersama setidaknya dapat menenangkan dan perlahan-lahan akan menyembuhkan rasa sakit siapa pun yang berada dalam titik terendah atau meraka yang sedang memulai perjuanganya kembali” tambahnya.

Sementara “Shield” bercerita tentang betapa pentingnya menjaga alam sejak dini, tanpa harus menunggu alam yang menjadi rusak lalu memperbaikinya kembali. Lirik yang digulirkan seolah-olah mengajak berfantasi dalam fiksi.
Tidak hanya memiliki tujuan dan lirik yang dalam, secara musik, 2 karya ini dikemas dengan sangat apik oleh Yusdhy Prakoso ( gitaris ) dan Sasi kirono selaku music director & produser. Balutan music chamber pop khas Karsha yang di padu sentuhan shoegaze benar – benar mampu mengantarkan kita dari titik 0 menuju 10. Sasi Kirono adalah gitaris Tashoora, yang dipercaya untuk menjadi produser “Shield”.

***

Senja berlagak lupa, menutup hari dengan menghadirkan petang, meski kita berharap malam segera datang dan cepat berlalu.

Karya Karsha menjadi bukti Yogyakarta seperti tengah meraih talenta-talentanya untuk terus bersuara.

(Visited 36 times, 1 visits today)