Danilla menghayati permainan gitarnya. Musisi ini tampil sebagai penutup pada Gigs Fest 2019 di Bogor. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Artikel & Foto : Johanes Jenito

[HujanMusik!], Bogor – Hari ketiga adalah yang terakhir dari rangkaian festival ini. Sejak kelar jam makan siang sekitar 13 band papan tengah dari Bogor dan sekitarnya dipersilahkan unjuk gigi hingga maghrib menjelang. Sesi itu diisi oleh band-band seperti Svummerboys, Scarabius, Antartick, Brocut HC, STB Project, AKBP Project, Weft, ASS, Rooster Fight, Raw Tunes, SPRM, The Dramma dan Discri Discri.

Saya masuk venue saat Scarabius sedang menguasai panggung. Musiknya kencang menderu-deru dengan harmonisasi di sana-sini, khas band At The Gates dan The Black Dahlia Murder yang memutar melodic death metal. Kuintet ini punya tema lirik yang nyrempet ke masalah sosial-politik dan kritis pada pemerintah.

Setelah Scarabius, naiklah Antartick ke mimbar. Ini band Bogor yang punya jam terbang lumayan. Mereka mainin lagu-lagu rock-arena dengan bagus. Tak heran kalau vokalis band Monkey to Millionare Wisnu Adji mau bergabung di single “Kebas” pada 2017 lalu. Semangat kolaborasi itu terus mereka genjot dengan mengajak solois sekaligus vokalis band Hujan Noh Salleh dari Malaysia untuk single “Hujan” yang rilis Mei 2019.

Simak! : Tetesan Hujan Antartick dan Noh Salleh Yang Menyerap di Keabadian

Line-up medioker hari ini turut menampilkan band-band tetangga kota Bogor. Diantaranya adalah unit pengusung hardcore-punk dari Anyer bernama Brocut HC dan kolektif ska-punk dari Serang Discri Discri. Brocut HC meminkan lagu-lagu cepat bertenaga dari album rilisan perdana tahun 2017 “Generasi Terdegradasi”. Discri Discri lumayan sukses mengarak crowds bergoyang ska dengan lagu-lagu “Pesta”, “Bersatu di Kota Serang”, dan “Kita Tetap Sama”.

Discri Discri menutup sesi siang sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang.

Sesi malam terasa lebih padat dari sesi sebelumnya. Duo lelaki pembawa acara mengumumkan dua band medioker lainnya sepelum penampil puncak. Dua band itu adalah Vikri and My Magic Friend dan Sydera.

Adalah artis multi-talenta Vikri Rahmat yang mengkomandoi band Vikri and My Magic Friend. Vikri membawa bandnya mengarungi arus musik pop dengan ambience reggae yang ringan. Penampilan panggungnya membawakan sebagian besar materi lagu dari album “Sederhana” yang rileks beberapa bulan lalu. Setlist-nya adalah lagu-lagu catchy di kuping. Sekali dengar langsung nempel. Ritme lagunya berhasil membikin crowds yang santai duduk-duduk di pinggir lapangan ikut malu-malu menggoyang-goyangkan kepala. Lima-enam lagu mereka bawakan dengan baik.

Vikri permit mundur. Penggantinya adalah Sydera. Kuartet dengan vokalis cewek ini memainkan energetic rock ala band manca negara Paramore. Vokalis Sydera Verristie memang punya stamina kuda saat berlarian kesana-kemari di atas panggung sambil melengkingkan lagu-lagu rock dinamis. Sesekali Ve, demikian ia biasa disapa, melipir ke bibir panggung untuk ajak crowds sing along dan melompat-lompat. Usahanya ini terbilang sukses. Crowds barisan depan selalu menyambut ajakannya.

Sydera, yang konon adalah kependekan dari Super Young Dangerous Energetic Rockstar in Action, adalah salad satu band sukses besutan Bahaya Records Bandung yang punya enam buah single. Mereka memainkan beberapa diantaranya, termasuk “Rainbow” yang jadi single terbarunya.

Sal dan Danilla Membius

Jelang penampilan Sal Priadi kerumunan penonton terlihat makin padat. Pelan-pelan mereka beringsut mendekat ke depan panggung, tepat di garis batas pagar besi. Lelaki dan perempuan berdiri dengan tertib, tak berdesakan dan cukup ada ruang untuk bernafas lega.

Saat Cak Sal, sapaan yang saya pilih untuk Sal Priadi, setengah berlari ke tengah panggung, crowds langsung ribut. Tanpa basa-basi lagu-lagu kalem mengalun dari kerongkongannya. Peran band pengiring dan backing vocal-nya bikin penampilan tambah syahdu. Semua repertoarnya bertema cinta dan kepedihan, yang ditulis ke dalam lirik puitis, dan diaransemen dengan musik megah.

Yang paling menarik perhatian adalah keluwesan bahasa tubuh dan jokes-nya di atas panggung. Semuanya terasa segar tanpa dipaksakan harus menjadi lucu. Sungguh Cak Sal berbakat jadi entertainer tulen, bekal raja panggung.

Meski belum punya album, Cak Sal dengan enteng merapal “Ikat Aku Di Tulang Belikatmu”, Melebur Semesta”, “Jangan Bertengkar Lagi Ya? OK? OK!” dan seketika disambut koor massal crowds di bawah. Untuk membawakan lagu “Amin Paling Serius”, Cak Sal mengajak duet vokalis band Svummerdose Rinrin dan gitaris sekaligus produser lagu ini Lafa Pratomo. Belum lama ini lagu tersebut tercatat masuk dalam Chart Global Viral 50 milik platform penyedia musik daring Spotify. Konon sampai sejauh ini hampir lima juta pemilik akun Spotify mendengarkannya.

Penampilan Cak Sal ditutup dengan ajakannya kepada crowds untuk teriak memaki para pendusta di lagu “Kultusan”. Yang terjadi adalah koor lengkingan sumpah serapah membahana saat chorus lagu dinyanyikan.

Crowds asyik Sal Priadi dalam koor massal. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Cak Sal dan kolektifnya turun panggung saat crowds di bawah makin merangsek ke muka. Mereka ingin Danilla, line-up terakhir festival ini.

Menonton Danilla secara langsung adalah kesempatan kedua bagi saya. Yang pertama cuma dari kerumunan penonton. Kali ini kemewahan sedang berpihak karena ID Card media dari panitia. Sebagai utusan Hujanmusik!, saya naik ke panggung dan diberi tempat di sisi kanan.

Sejujurnya saya tidak begitu mengingat dengan lagu apa Danilla membuka pertunjukannya. Yang jelas ia masuk panggung dengan baju atas tertutup jaket gins dan bawahan rok hitam panjang berbelahan samping. Setelah menyambar microphone, ia bernyanyi dengan jemari tangannya yang sibuk memencet-mencet papan kibor synthesizer. Repertoar panggungnya mengalir rapi dari rilisan album“Telisik” (2014) dan “Lintasan Waktu” (2017).

Jemarinya tak cuma mahir di atas tuts, Jemari Danilla juga dididik jago main gitar elektrik maupun akustik. Jemari yang sama kadangkala terlihat menjepit rokok putih bila tak sibuk bermain alat musik. Cuek saja dia merokok sambil menyanyi riang.

Buatnya, Bogor adalah pengalaman menyenangkan. Sudah beberapa kesempatan ia dan band-nya jadi headliner festival di kota ini.

“Ke Bogor itu rasanya seperti pulang ke rumah,” akunya di atas panggung malam itu.

Selama hampir sejam Danilla mengaduk-aduk emosi crowds yang menggila terkontrol di bawah sana. Penampilannya ditutup dengan lagu “Ini Dan Itu” yang berkisah tentang peran manusia di tengah pusaran isu sosial-lingkungan akhir-akhir ini.

Turunnya Danilla dari panggung diikuti dengan naiknya duo pembawa acara. Mereka umumkan bahwa festival telah usai. Sementara di sudut kiri panggung tampak barisan panjang orang-orang pendaftar sesi photo berbayar bersama Danilla.

Pesta Sudah Usai

Setelah panggung gelap, kru peralatan musik dan sound system adalah orang tersibuk berikutnya. Semua aliran listrik dicabut, kabel-kabel digulung, perkakas berat dimasukkan kembali dalam kotak dan perabot-perabot dikembalikan pada keadaan semula. Mereka yang dibawah panggung, pemilik tenant dan penyewa booth, juga tak kalah sibuk membongkar. Waktunya untuk pulang

Bagi promotor, inilah waktunya untuk berhitung matematis. Menguji hitungan antara perkiraan dan kenyataan.

Memang, sekarang ini pergi ke festival sudah menjadi gaya hidup. Banyak orang datang berbondong-bondong. Promotor perlu melihat hal ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Karena menurut Ravel Junardy, yang memimpin Revision Live Entertainment menghelat Hammersonic festival selama tujuh tahun berturut-turut, cuma ada dua tipe orang di dunia festival. Mereka yang mau cari untung dan yang cuma ingin bersenang-senang. Kalau mau cari untung, jual-lah festival yang mainstream dengan produk disuka pasar. Kalau mau bersenang-senang, janganlah berharap untung.

Bagi saya, memasang Killing Me Inside, Kunto Aji, Pamungkas, Feel Koplo, Sal Priadi dan Danilla sebagai headliners rasanya adalah strategi jitu mengkapitalisasi pasar pop generasi milennial. Sementara menampilkan puluhan band medioker dari Bogor dan sekitarnya adalah cara bersenang-senang yang cukup asyik.

Di atas semua itu marilah kita mensukuri kemerdekaan RI ini. Tanpanya, kita tak mungkin menikmati kebebasan gigs dalam festival yang seru.

(Visited 26 times, 1 visits today)