Ruts and Rude, rock n roll muda Bogor yang muncul dengan album tanpa teori. Foto : dok.rutsnrude

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor – Pemandangan gitar berikut aneka aksesorisnya terlihat familiar. Juntaian kabel, tumpukan senar, bongkaran efek dan turunannya dengan mudahnya ditemui. Itupun berhimpitan dengan hardcase penuh tempelan stiker band dan hal-hal berbau musik. Saya tidak sedang berada disebuah studio musik, markas band atau menejemen artis sekalipun. Saya tengah berada dilantai 3 salah satu ruko yang berdagang oleh-oleh Bogor. Anjangsana menemui kolega bernama Norman Ahya dan bercerita tentang proyek musiknya.

Menariknya, di lokasi yang sama ada 3 pemuda yang tengah sibuk mendengar ulang rekaman lagu-lagunya. Norman bercerita bahwa ketiganya adalah kawanan satu sekolah yang bersiap melempar album. Sebagian sudut ruangan ‘kantor’-nya memang sengaja dilengkapi fasilitas rekaman dan dapur audio. Buliran audio rock and roll kasar terdengar menghentak dari perangkat suara. Berbulan kemudian barulah saya sadar bahwa kawanan pemuda tersebut diatas adalah unit rock Ruts and Rude, kolektif musik yang baru saja melepas album 6 track bertajuk “No Theory”.

Buah menggelinding memang tak pernah jauh dari pohonnya. Saya memang mengenal Normanos dan Elda and The Triggers sebagai persinggahan musik seorang Norman Ahya selain The Safari. Barangkali Ruts and Rude adalah hasil persilangan diantaranya. Qugga, frontman sekaligus pemain gitar utama adalah anak muda yang bercita-cita membesarkan gagasan bermusik sebagaimana sang ayah dengan Normanos-nya.

Imajinasinya pecah dan ia tuangkan menjadi sebuah lagu, seperti yang ia ceritakan dalam “Berlagu”. Berbalut Rock n roll dengan reggae sekenanya menunjukkan bahwa ia tengah dalam suasana tenang dan berimajinasi. Beruntung ada sahabat-sahabatnya yang peka dan mengingi kekosongan instrument lainnya. Ray (Drum) dan Davala (Bass) membawa peran penting hingga “No Theory” lahir dan rilis dibawah bendera Name Record.

“No Theory” banyak terinspirasi dari keseharian mereka bertiga. “Almamater” misalnya. Lagu ini bercerita petualangan mereka dengan teman satu sekolahnya yang berseru menghabiskan waktu di luar sekolah dengan berbagi canda tawa, susah, senang hingga datangnya perpisahan. Tempo agak lambat sengaja diterapkan demi mendalami kesedihan karena mereka harus berpisah karena masa bersama satu sekolah telah usai.

Sementara lagu berjudul “Si Gankster” terinspirasi dari peran drummer Ray yang pernah tmengalami masa-masa sebagai pelaku kerusuhan yang membuat resah warga setempat layaknya gankster. Meski berimana punk, lagu ini juga menuturkan proses kesadaran bahwa semua itu tidak ada gunanya.

Untuk pemuda sekaliber mereka, album “No Theory” adalah sebuah pencapaian. Warna generasi rock and roll yang segera mengambil alih panggung musik kota. Diluar “Berlagu”, “Si Gankster” dan “Almamater”, “Jalan Berdua”, “Sepulang Sekolah” dan “Politik Tak Bertitik” merupakan modal yang cukup.

Selamat bertualang Ruts and Rude.

(Visited 46 times, 1 visits today)