Red Cherry, Indie Pop Samarinda. Merilis single dan video, suarakan keresahan lingkungan sekitar. Foto : dok. Red Cherry

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Samarinda – Pendar cahaya monitor menyala menyeruak dari sudut ruang kerja. Saat itu tidak sedang malam, bahkan menuju siang malah. Namun ruang kerja dengan sengaja mengurangi cahaya adalah salah satu cara berhemat energi secara nyata, meski hanya beberapa saat. Monitor sedang menampilkan gambar kepala negara yang tengah mengumumkan lokasi ibukota baru. Ramai-ramai pindah ibukota beberapa saat lalu telah mencuri segenap perhatian mata dan telinga. Teka-teki Kalimantan bagian mana pun terjawab sudah. Jawaban yang lantas membawa benak melayang pada ingatan festival rock terbesar Kalimantan, Rock in Borneo di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Menarik ingatan pada sekala yang lebih luas, Kalimantan Timur sedikit banyak mulai rutin mengirimkan wakilnya di kancah musik nasional. Hujanmusik! sendiri beberapa kali mendapat kabar perilisan karya dan capaian kolektif musik mandiri Kaltim, khususnya talenta dari ibukota Kalimantan Timur, Samarinda.

Salah satunya muncul adalah dari kolektif warna-warni Pop bernama Red Cherry. Mengusung perpaduan karakter pop dengan indie pop yang kental, Red Cherry lahir dengan semangat aura sungai Mahakam yang melegenda. Muncul perdana dengan debut single “I Called My Mom”, mereka meneruskan keresahan melalui music video sekaligus single terbaru mereka “Let Me”. Sound 80an yang mereka bawakan mengajak pendengar dan penyaksinya merenungkan kembali kondisi alam beserta isinya yang sedang dalam ancaman. Sebuah kekhawatiran wajar yang disuarakan para penghuni pulau resapan hujan seperti Kalimantan.

“Let Me” yang dirilis secara resmi per tanggal 21 Juni 2019 bak narasi protes atas perilaku manusia yang acap kali abai pada lingkungan. Bentuk keresahan pemilik karya terhadap perubahan iklim dan segala bentuk aktifitas yang berdampak buruk pada makhluk dan juga lingkungannya.

Siapa sangka, lirik santai yang ditulis dan dibawakan vokalis Rizvir ternyata memiliki pesan kuat, utamanya cara pandang mental yang hendak menjadikan tanah harapan kehidupan menjadi kubangan industri. Lirik protes yang diintepretasikan sebagai teguran, sebagaimana bagian bridge yang disisipkan lewat pertanyaan- pertanyaan seperti “when the sun is gone will the tears out?”.

Lantas visualisasi video diarahkan berlatar hutan, pantai dan hamparan ladang hijau. Pilihan visual yang tak hanya faktor estetik semata, namun menunjukkan upaya untuk menyatu dengan alam sekitar. Cerdas.

Memilih indie pop sebagai genre, Red Cherry sepertinya hendak menyerap nafas hidup keseharian. Nafas hidup tanpa asap kebakaran hutan tentunya. Sebagaimana keseharian yang dijumpai Rizvir (Vocal), Dennis (Guitar), Jaya (Drum), Sadat (Bass), dan Herryy (Keyboard). Video musik yang mereka tampilkan merupakan hasil kolaborasi Red Cherry dan Three AM studio.

Rilisnya Let Me juga menjadi penanda sedang dikerjakannya album yang rencananya akan dirilis pada tahun ini. Dalam pengerjaannya Red Cherry bekerja sama dengan studio lokal, Backstage Studio, dan seorang visual artist asal Bogor, “Fiyo” Favian Hiroshi Yokachda. Sosok yang berkarakter dibalik @komikobam.

Oke, untuk bagian ini sepertinya layak ditunggu.

(Visited 32 times, 1 visits today)