DISKOTEQ, kolektif post-punk Bogor, menghentak dengan album pendek bertajuk “Grayscale”. Foto : Pramedya Nataprawira

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor – Cahaya seputaran halaman parkir Stadion Pajajaran tengah menuju muram. Petang dengan sisa langit basah yang masih segar membekas. Hujan sekejap dengan intensitas rapat menggiring badan ini untuk menepi pada kedai combi. Ditemani kolega dan segelas teh panas hangat dengan pemanis gula batu, kami menikmati suasana petang meski panggung musik tampaknya sedang berjibaku memastikan tampias hujan tidak mengganggu acara. Petang itu saya sedang berada diantara keriuhan pengunjung, booth tenant, panggung dan musisi-musisi pengisi acara hari pertama rangkaian Gigs Fest 2019, 16 Agustus 2019.

Sekelumit rundown lebih menarik perhatian, mengimbangi suara mezzo menuju sopran pembawa acara yang terdengar pekak. Nanar mata ini menemukan nama kolektif post-punk anyar yang tengah hit-hit-nya menyambangi panggung musik Bogor – Jakarta, DISKOTEQ. Terus terang meski mengenal sebagian besar personilnya, pertunjukan kali ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan penampilan meraka. Beberapa penampilan independen mereka selalu terlewatkan atas nama kesibukan.

Bahkan undangan untuk terlibat mendukung dan menyaksikan rangkaian tur mereka saya iyakan dalam keadaan badan sedang tidak ditempat. Juli hingga Agustus lalu mereka telah menggelar tur konser berdikari bertajuk “Grayscale Tour” di Jabodetabek. “Grayscale Tour” berjalan dengan menyambangi enam titik dimulai dari Bogor (14 Juli), Bekasi (19 Juli), Jakarta (20 Juli), Tangerang (21 Juli), Cileungsi (27 Juli), dan berakhir kembali di Bogor (4 Agustus). Tur ini dijalankan dalam rangka memperkenalkan album pendek perdana bertajuk “Grayscale”.

Sepertinya DISKOTEQ hendak mempertontonkan mederasi post-punk lokal Bogor setelah panggung banyak dimanjakan sound berkarakter The Safari dan Pink Glove. Musik mereka terdiri dari notasi ketukan dansa yang bergumul dengan agresivitas punk rock. Diskoteq terdiri dari Bayu Ramadhan Dwi Azni (vokal), Melly Aprianty (gitar), Dhani Ramdhani (bas/vokal), Ahmad Fauzan (synthesizer), dan Prayoga Setiawan (drum). Mereka berikrar dalam satu kolektif DISKOTEQ sejak 2018 dengan formulasi musik rujukan seperti Gang of Four, Public Image Ltd, Grup Pop, Wire, The Rapture, Au Pairs, NWA, hingga Wu-tang Clan.

Sebelum merilis Grayscale secara utuh, DISKOTEQ pertama kali memperkenalkan identitas musiknya lewat single bertajuk “Graph”. Lagu berdurasi genap satu menit ini diunggah di laman Instagram @diskoteq_ dan mendapat banyak sambutan positif.

“Dari suasana musik, kebetulan memang kami senang dengan lagu-lagu seperti “White Mice” dari Mo-Dettes, “Available” dari Moving Units, “Out of the Races and onto the Tracks” dari The Rapture, sampai “To Hell with Proverty” dari Gang of Four. Sisanya, masing-masing dari kami ketika itu lagi dengar lagu apa, kita masukkan saja,” tulis vokalis Bayu dalam rilisnya kepada Hujanmusik! Beberapa waktu lalu.

Dari bawah panggung, set list operator sound terlihat Deni Noviandi dan Abah Patti Nanbo yang tengah bersiap. Sementara lighting panggung sengaja diburamkan sembari menunggu personil band tuntas bersiap diri. Dari kejauhan postur tinggi menjulang pemain bas Dhani Ramdhani (The Kuda, Pink Glove, The Luxitania), didepannya ada vokalis Bayu Azni. Sementara Melly Aprianty (Pink Glove, Sex Sux) memilih stand by disisi kiri panggung. Saya mengenal Dhani a.k.a Ahonk sebagai pemain drum untuk The Kuda dan gitar di The Luxitania. Sedangkan Bayu untuk beberapa saat menjadi rekan belajar dan terhubung karena pekerjaan membuat website. Sementara Melly, saya mengenalnya sebagai ruh gitar untuk post-punk pink glove dan indie pop Sex Sux. Bisa jadi, perjumpaan post-punk Melly dan Dhani adalah kali kedua setelah sebelumnya dalam posisi yang sama untuk Pink Glove.

Diskoteq saat meramaikan panggung Gigs Fest “Independence Day 2019”. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Memulai pertunjukannya dengan datar tanpa basa-basi, DISKOTEQ perlahan langsung ramai begitu notasi musik mereka terjalin utuh. Vokalis Bayu Azni seperti remaja kelebihan bahan bakar yang bergerak kesana-kemari. Seturut dengan hentakan drum Prayoga yang padat dan konstan. Namun yang menarik perhatian saya justru pemain synthesizer Ahmad Fauzan, perangkat padat didepannya tak menghalangi daya jelajah musisi muda yang juga bergiat seni visual itu. Bahkan agitasi massa terdorong karena propaganda dansa yang disuarakannya. Berbeda dengan Melly dan Dhani yang cenderung aman diposisinya.

Begitulah, pada akhirnya DISKOTEQ mampu memberikan tontonan post-punk yang merepresentasikan semangat mereka. Bukan tak mungkin suatu saat akan ada panduan visual menikmati dancepunk DISKOTEQ.

(Visited 20 times, 1 visits today)