Kolektif lokal Bogor Diskoteq saat meramaikan panggung Gigs Fest “Independence Day 2019”. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Artikel & Foto : Johanes Jenito

[HujanMusik!], Bogor – Saya seharusnya memilih tajuk “Mengapa Harus Datang ke Festival?”. Takut editor salah menangkap maksud tulisan ini, saya memilih membebaskan penyertaan  judul seperti diatas. Ya…saya memang akan menulis ulasan personal saya hadir dan menyaksikan Gigs Fest di Bogor. Terlibat diantara keramaian milenial yang sering saya saksikan di konser-konser festival lainnya.

Apa sih yang bikin generasi milenial pada mau merogoh dompetnya lebih dalam dan menyeretkan langkahnya menuju venue festival? Bukan cuma promotor festival yang deg-degan menjawabnya, demikian halnya saya.

Promotor wajib berdebar-debar bila festival yang digelarnya jauh dari ramai, tiket sisa masih banyak, sponsor cuma berderma sedikit dan jumlah generasi milenial bisa dihitung pakai jari. Dugaan kenapa generasi milenial menjadi penting saya temukan dalam artikel tirto.id yang menyitir laporan Nielsen.com “Listen Up : Music & The Multicultural Consumer”. Laporan tersebut menyebut bahwa milenial lebih mungkin menghabiskan USD 50 per tahunnya untuk dating ke konser dan festival musik

Secara acak dan kasak-kusuk suka-suka, pertanyaan itu mendapat jawaban beragam dari berbagai kalangan yang saya temuin. Kelompok musisi bilang bahwa yang milenial suka datang karena menggemari musik mereka dengan militan. Para pemilik clothing tenant sebut faktor diskon produk sebagai hal penting. Yang penjaja kopi dan makanan bilang bila ada booth-booth kuliner pop yang sedang hits. Sementara remaja-remaja itu ternyata lebih suka kalau artisnya kece nan popüler, produk fashion-nya keren tapi murah dan ada es kopi susu yang sedap dengan seporsi ayam geprek yang nendang pedesnya. Sementara promotor festival adalah pihak yang paling yakin akan kesuksesan acaranya.

Benarkah demikian?

Pada 16-18 Agustus 2019 lalu dua event organizer (EO), Rock Addict Organizer dan Wes Fest Conspiracy, menggelar event Gigs Fest Indonesia 2019 di GOR Padjajaran Bogor. Pilihan tanggal festival disesuaikan dengan kemeriahan perayaan HUT RI ke-74. Temanya pun dihelat sebagai “Independence Day 2019″.

Kabarnya pihak EO memang sengaja memilihnya dengan alasan bahwa spirit kemerdekaan merupakan inspirasi kaum muda Bogor berjiwa indie yang mandiri, bebas dan merdeka.

Festival tersebut menghadirkan konser music dipanggung utama. Sementara area venue lainnya diramaikan  photo-spot, clothing dengan diskon besar-besaran, komunitas motor klasik Bogor, both tenant semodel produk otomotif Royal Enfield, kuliner masa kini dan minuman yang berbasis kopi maupun susu.

Music director festival ini telah memilih sejumlah musisi indie skala nasional. Mereka adalah Danilla, Kunto Aji, Feel Koplo, Sal Priadi, Pamungkas, Killing Me Inside dan The Panturas yang tampil secara merata selama tiga hari. Selain itu juga ada puluhan musisi Bogor yang unjuk penampilan sebelum musisi nasional naik panggung.

Penampil Lokal

Sejak MC Laura dan Rama mengumumkan dibukanya festival, sekitar pukul 13.30-an, pengunjung masih bisa dihitung dengan jari. Saya termasuk golongan pengunjung pertama. Di sana-sini para tenant penyewa booth masih berbenah-benah, siapkan ini dan itu. Beberapa booth bahkan masih rapi tertutup plastik dan belum diullik sama sekali.

Di tengah suasana lengang para penampil tetap naik panggung. Panggung hanya satu dan digunakan bergantian antar musisi, baik yang lokal maupun yang skala nasional. Dari rundown yang saya dapat secara berantai dari pesan pendek WhatsApp, ada 14 band Bogor yang dijadwalkan mengisi panggung acara dari pukul 13.30-20.00. Masing-masing band berdurasi antara 20-25 menit.

Dua belas band menghajar panggung untuk sesi siang sampai menjelang maghrib. Mereka adalah The Ads, The Bokong, Baby Frog, Human Error, Suicide For Man, Orbarus, My Beloved Enemy, First Class, Trytowakeup, Goodenough, Private Number dan Pesta Rakyat. Setelah maghrib ada Diskoteq dan Mery Celeste.

Baby Frog menarik perhatian gue. Siang-siang yang panas mereka menggeber death metal yang pekak. Lagu-lagunya punya durasi pendek, nyaris tanpa basa-basi menggedor gendang telinga. Di tengah pergantian antar-lagu vokalisnya suka cerita tentang pencapaian band ini, diantaranya tentang konser mereka di Malaysia, memproduksi dua album rekaman dan rencana tampil dalam acara Indonesian Death Fest Bulungan Outdoor pada 18 Agustus 2019.

Agak sorean dikit, Trytowakeup bikin saya ingat trio pop-punk asal Jogja, Endank Soekamti. Semangat warna musiknya sebangun. Meski tidak sama persis, vokalis sekaligus bassist Trytowakeup berpenampilan beda tipis sama Erick Soekamti. Paling tidak mereka punya proporsi tubuh yang cenderung mirip.

Goodenough tampil berikutnya dengan pesona power-pop yang sedikit ingin menjadi Weezer. Penampilan vokalis Goodenough yang berkacamata tak pelak bikin ingin menyamakannya dengan Rivers Cuomo.

Sebelum maghrib datang, adalah kolektif Pesta Rakyat yang memimpin panggung dengan mengusung konsep berkaraoke lagu-lagu dari band-band emo mancanegara. Mereka memasang layar tambahan di panggung dengan proyektor yang menyorotkan lirik-lirik lagu dari laptop. Semua orang diajak karaoke-ria bersama.

Sesaat sebelum Pesta Rakyat mengakhiri proyek karaokenya, hujan turun. Awalnya rintik-rintik lalu berubah lebat saat memasuki break adzan maghrib. Kru sound-system berlarian melindungi segala peralatan dari basahnya air hujan. Untungnya, hujan berhenti sejam kemudian.

Sesi pertunjukan malam diawali oleh Diskoteq. Kuintet pengusung dance-punk ini menghangatkan venue yang basah. Vokalisnya sangat atraktif, berlarian kesana kemari di atas panggung. Mereka membawakan lagu-lagu dalam bahasa Inggris dari mini album “Greyscale”.

Kelar lima lagu dari Diskoteq, naiklah Mery Celeste ke giliran selanjutnya. Melalui sebuah pengumuman pendek sebelum lagu pertama, vokalis band ini mengabarkan musibah yang terjadi sesaat sebelum mereka naik panggung. Katanya, Sang Gitaris mengalami kecelakaan di sekitar Jalan Baru, Bogor saat sedang menuju GOR Padjajaran. Namun musibah itu tak mengurungkan niat band indie rock ini untuk tampil. Dengan berbekal guitaris pengganti mereka memainkan lagu-lagu dari koleksi mini album “Sensum” yang berlirik berbahasa Inggris.

Penampil Utama

Sesaat setelah Mery Celeste beringsut mundur dari panggung, satu persatu personil Killing Me Inside (KILMS) menempati posisinya dan musik dimainkan. Saya cuma melihat empat orang KILMS, minus kibordis Rudye Nugraha Putra. Dua dari empat saya kenal dengan baik, gitaris Josaphat Klemens dan vokalis Joe Tirta. Yang bassist, kata Joe dari atas panggung, adalah anak lelakinya bassist band GIGI Thomas Ramadhan. Emang sih band modern-metal yang aktif sejak 2005 ini dikenal beberapa kali bongkar pasang personel. Cuma Josaphat yang personel asli sekaligus pendiri.

KILMS tetap energik walaupun penonton relatif pada adem. Jumlahnya pun hanya hanya lebih sedikit dari 100-an orang. Tapi rata-rata ini adalah penggemar garis keras KILMS. Mereka merangsek ke depen pagar pembatas panggung dan berteriak mengikuti geraman Joe di atas panggung. Tentu saja, lagu balada “Biarlah” menjadi ajang sing a long Joe bersama mereka. Keseruan ala anak metal sukses dibawakan lewat “Torment” yang sekaligus jadi encore pertunjukan KILMS.

Penggemar fanatik KILMS menyanyi bersama Joe Tirta di lagu “Torment”. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Mundurnya KILMS membuat panggung jadi gelap. Lampu sorot cuma menyala di kerumunan penonton. Pelan-pelan, kelompok penggemar KILMS beringsut diganti rombongan besar perempuan-lelaki muda milenial. Merekalah penggemar setia Mas Kun, sapaan akrab Kunto Aji, penampil puncak malam itu.

Lamat-lamat intro lagu “Sulung” mengawang-awang membuka pertunjukan. Penonton bersorak riuh saat melihat Mas Kun berlari kecil menuju tengah panggung dengan gitar siap dipetik. Usai lagu pembuka, sambil membetulkan posisi topi yang menutup rambut semi-kribo-nya, Mas Kun melanjutkan penampilannya dengan membawakan “Rancang Rencana”, “Mercusuar”, “Saudade”, “Pilu Membiru” dan “Jakarta Jakarta”.

Setelah melepas jaket merahnya, menanggalkan gitar dan membuka topi. Mas Kun menyapa penonton.

“Selamat datang dan menikmati ‘Mantra Mantra’ dari saya,”

Seketika dari barisan penonton perempuan terdengar teriakan melengking “Mas Kun, I love you!

Lalu ia melantunkan intro lagu “Estetika”. Baru satu kata, koor kompak ratusan penonton yang mayoritas kaum hawa langsung menyambar mengikuti rima lagu sampai menjelang verse. Mas Kun takjub dan menaik-turunkan tangannya seperti dirigen paduan suara. Saat chorus koor kompak kembali menggema. Mas Kun langsung merogoh saku celana, ambil telpon genggam dan merekam keseruan di depannya.

Seolah-olah dirigen, Mas Kun sedang pimpin koor massal di lagu “Estetika”. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Sayangnya lagu “Terlalu Lama Sendiri” tak dinyanyikannya. Mas Kun memilih “Konon Katanya” sebagai encore. Lantas panggung hari pertama pun berakhir

(Visited 63 times, 1 visits today)