Duo Feel Koplo memborbardir panggung dengan dangdut rekayasa digital di Gigs Fest 2019. Foto : Jeniti/Hujanmusik!

Artikel & Foto : Johanes Jenito

[HujanMusik!], Bogor – Hari kedua event tepat terjadi saat hari perayaan kemerdekaan RI yang ke-74. Pintu gerbang venue sebenarnya sudah dibuka sejak pagi hari. Tapi kerumunan orang masih terasa sepi hingga matahari meninggi. Mungkin sebagian dari mereka masih di lapangan bola untuk upacara bendera atau sedang berkompetisi memenangi lomba balap karung, makan krupuk, panjat pinang, tarik tambang dan sederet lomba lainnya khas perayaan 17-an.

Tapi pasangan pembawa acara tak kenal menyerah. Mereka tetap berusaha membangun suasana meriah dengan jokes segar dan interview kecil tenant-tenant penyewa booth. Panggung yang kosong dialihkan dengan memperdengarkan lagu-lagu perayaan HUT Kemerdekaan RI dari kepingan CD.

Hingga lewat jam makan siang barulah satu demi satu band penampil papan tengah, mengisi panggung. Mereka yang naik ke mimbar adalah WGSGB, BRTWB, Sovereign, First Kiss, Dressed To Kill, Kraken, Take One Step, Kausa, Not For Child dan The Panturas.

Penampil Lokal

Salah satu rombongan lokal sesi siang yang menarik perhatian gue adalah Kraken. Kolektif pegiat metalcore ini menggeram saat matahari terik. Yang beginian gampang menyulut adrenalin dan memompa semangat biar mata tak mengantuk tertikam karbohidrat, Mereka meminkan lagu cepat, musik berat, modern dan agresif. Aroma death metal era 90-an bercampur hardcore-punk kental di seluruh repertoarnya.

Sementara Kausa mencuri perhatian karena ada Lukman Laksamana  a.k.a Buluk, pentolan band Superglad yang jadi frotman-nya. Lengkap dengan kostum serba hitam, Buluk dan ketiga koleganya menggeber lagu-lagu berirama heavyrock dengan semangat punk. Mereka menyanyikan sebagian besar materi dari album perdana “Corvus Corvidae”.

Kausa mundur, datanglah Not For Child, kolektif Ska lawas yang menyisakan Teddy Iskandar dan Denny Priawan sebagai personil asli. Sore itu mereka tampil dengan dukungan musisi dari band Tomskate, The Partikelir dan Bombomcar. Sesi ska yang lumayan bertenaga untuk band ska legendaris kota Bogor.

Setelahnya masuklah The Panturas. Barudak Jatinangor Sumedang ini menggenjot surf rock buat khalayak ramai. Crowds makin menggila. Lupakan asosiasi goyang pantura dengan isi musik mereka karena yang ini lebih asyik menikmatinya dengan crowds surfing.

Tapi saya jadi bertanya, kok anak gunung mainin musik pantai? “Sekarang kan udah zaman internet kan jadi musik itu udah nggak berdasarkan geografis gitu loh. Jadi nggak selalu di gunung ada band folk atau di dataran rendah selalu ada band surf rock,” jelas mereka saat diwawancara Provoke! pada lain kesempatan.

Jelang pukul 19.00 pasangan pembawa acara kembali menyambar microphone. Mereka membakar lagi pesta yang mendingin karena istirahat sholat dan makan malam. Kali ini penonton sudah menyemut. Ada empat band medioker lainnya sebelum dua headliners di penghujung malam. Keempatnya adalah band pop-punk Hidden Message, band post-hardcore A Curious Voynich, band indie-pop Sousade dan band NIL.

Dari keempatnya, saya merasa paling jatuh hati sama Sousade. Musik yang enteng, distorsi tipis-tipis dan vokalis cewek yang berhijab. Grup asli Bogor yang baru setahun berdiri ini diisi Nanda (vokalis), Nabil (gitar), Tegar (gitar), Alif (bass), Aldi (dums) dan Rama (kibor).

Penampilan mereka yang pop-ish mendinginkan atmosfer penonton yang terpacu adrenalinnya oleh aksi panggung band-band sebelumnya. Dengan kalem, penonton di depan panggung menikmati timbre tipis Nanda yang lancar mendaki nada-nada sedang, meski ia tak banyak menggerakkan tubuhnya. Lima hingga enam lagu sukses diselesaikan dengan baik.

Penampil Utama

Bagi sebagian besar generasi milenial malam itu, menikmati Pamungkas secara langsung adalah kebanggan terkini yang harus diekspresikan dengan insta-story dan selfie bersama bila ada kesempatan. Untunglah panitia festival penuh pengertian. Mereka megumumkan sesi foto bersama Sang Artis sesaat setelah ia turun dari panggung. Tentulah “tak ada makan siang gratis”. Per orang dipatok Rp 20 ribu untuk berpose dengan idola. Panitia membuka pendaftaran di muka gerbang venue festival sejak sore hari.

Terus terang, saya baru mendengarkan lagu-lagu Pamungkas sehari sebelum dia naik panggung GigsFest 2019. Kuping ini masuk dengan nada dan lirik yang dibuatnya. Sayanganya saya lupa judul lagu pembukanya malam itu. Yang teringat hanya ramainya crowds kawula muda milenials. Mereka ikut bernyanyi dan goyang-goyang kepala di hampir semua lagu.

Penonton mengabadikan aksi Pamungkas. Foto : Jenito/Hujanmusik!

Selain ramainya crowds, beberapa kata yang diucap Pamungkas sebagai pengantar ke lagu selanjutnya, tak mudah saya lupakan. Diantaranya adalah yang begini.

“Lagu ini buat cowok-cowok yang harus selalu minta maaf ke pacarnya, meski ia merasa tak punya salah apapun,” lalu meluncurlah lagu “Sorry”

“Yang terkasih itu cuma satu,” dan mengalunlah lagu “Only One”

“Kalau mencintainya, bebaskanlah dia,” katanya sambil duduk di depan kibor dan bersiap melantunkan “I Love You but I’m Letting Go”.

Pertunjukan Pamungkas dan band pengiringnya berakhir mendekati pukul 21.00. Penggemarnya beringsut mundur dari depan panggung. Sebagian dari mereka mengantre di pintu masuk backstage untuk sesi berfoto bersama Pamungkas.

Sejurus kemudian lapangan depan panggung digantikan oleh serombongan besar anak muda urban yang komposisi gendernya merata antara lelaki dan perempuan. Sementara di atas sana beberapa orang kru mondar-mandir menyiapkan laptop dan alat-alat elektronik pendukungnya. Tak lama kemudian masuklah Tendi Ahmad, bertopi dan berkacamata merah, ke balik laptop di tengah panggung. Ia memainkan intro lagu “Peradaban” karya band indie-rock .feast dengan musik dangdut koplo. Sekejap kemudian Maulfi Ikhsan, berkacamata hitam, muncul ke bibir panggung. Ia pegang microphone di tangan kanan dan tamborin putih yang digoyang-goyang di tangan kiri.

“Ayo goyaaaaang!” serunya kepada crowds yang mulai menggila di bawah sana.

Duo Feel Koplo ini memborbardir panggung dengan dangdut rekayasa digital (remix) koplo selama kurang lebih sejam. Sebagian besar lagu-lagu aslinya adalah milik band-band indie dari dalam dan luar negeri. Mereka berfokus untuk me-remix lagu-lagu itu menjadi dangdut.

Di bawah panggung adalah kerumunan padat korban bombardir Feel Koplo. Crowds tak henti-hentinya bergoyang sambil bernyanyi di bawah aba-aba Ikhsan. Pagar pembatas turut bergoyang keras menahan kegemuruhan massa. Untunglah tak sampai roboh.

Pukul 22.00 lebih sedikit Feel Koplo sudahi pertunjukannya. Lalu pembawa acara mengucapkan selamat malam

(Visited 26 times, 1 visits today)