JFK, eksperimental pop bersaudara yang siap meluncur dengan album perdana. Foto : dok.JFK

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta – Diantara dedauan kering dan musim memburu angin, sekelompok pelancong terlihat asyik memperbincangkan sebuah destinasi. Cengkrama mereka membahana memenuhi gerbong kereta yang tak seberapa padat. Tema kekonyolan dan tingkah laku bodoh diantara mereka menjadi bahasan gelak tawa, tak terdengar upaya menelisik lebih dalam destinasi perlancongan mereka. Begitulah generasi selepas 21 tahun reformasi, cara pandang mereka memang khas, dan saya tak ada masalah dengan itu. Seperti halnya ketika pilihan playlist pemutar musik masih bersama karya Liam dan Noel Gallagher dari tanah britania. Sementara dunia maya memperbincangkan karir Agnes Monica dan Rich Brian di Amerika.

Angin berhembus menyibak muka saat pintu kereta terbuka. Langkah bergegas terdengar berbaur dengan pengeras suara stasiun yang memberitahukan lokasi tujuan. Kereta menurunkan kelompok pelancong tadi, sementara benak saya bereksplorasi menandai karya musik yang diusung band remaja yang beranggotakan satu keluarga.

Keberadaan kakak beradik dalam satu band memang bisa menjadi satu daya tarik tersendiri. Industri dalam negeri pernah ada Koes Bersaudara, Bimbo atau Panbers. Atau sedikit lebih muda, industri musik kita pernah dibuai bersama karya Bragi, lalu ada Rif/, The Overtunes, Letto hingga The Sidhartas.

Ingatan saya tertambat pada nama JFK, band muda usia yang keterangannya singgah di surel Hujanmusik!. Barangkali ketertarikan yang sama dengan band remaja yang beranggotakan Josh Risakotta (drum), Faye Risakotta (vokal/gitar), dan si bungsu Kaye Risakotta. Keberanian mereka menampakan kebolehannya bermusik patut diapresiasi. Apalagi mereka konsisten berkarya bersama hingga album perdana. Kaye Risakotta berperan sebagai keyboardist sekaligus arranger dari album perdana JFK.

Terhitung baru memasuki kancah musik nasional sebagai band, JFK yang resmi dibentuk pada tanggal 15 September 2018 memang terbiasa memainkan alat musik dengan dukungan penuh dari orang tua mereka. Satu kemewahan yang tak dimiliki peminat band generasi saya.

Mereka memainkan Experimental Pop dengan referensi rock era 90’an, soul ala Amy Winehouse hingga gelora EDM yang banyak menghiasi soundtrack film-film bioskop. Referensi musik yang bersumber dari tiga anggota berbeda namun saling menguatkan.

Salah satu lagu dari album mereka adalah “Running Late” yang di tunjuk sebagai single perdana. Resmi rilis pada 21 Juni 2019 melalui Locker Media, “Running Late” bercerita tentang apa yang mereka bertiga alami sehari-hari. Tema sederhana yang cenderung menertawakan kelemahan sekaligus mengingatkan perubahan lewat lagu. Semisal ‘suka telat’ atau malas gerak (mager). Lirik lagu ini ditulis oleh Faye bersama dengan Kaye membuat nada dan chord serta bantuan Josh untuk urusan dalam aransemen musik.

JFK kini memilih jalur indie semata karena masih belajar mengisi ruang kebebasan berekspresi tanpa intervensi apapun atau siapapun. Dibantu oleh Richard Benhard selaku produser yang menyediakan fasilitas LR Studio untuk rekaman, mixing hingga mastering. Untuk urusan sound JFK didukung musisi muda berbakat Daniel Clift sebagai sound editor.

Begitulah, eksperimen JFK pada akhirnya menargetkan orang-orang muda yang memiliki motivasi, passion serta karakter yang menyukai dan menghargai karya mereka. Mereka tengah berusaha memenuhi klaim tujuan untuk terus berkarya, mengembangkan diri dan bukan mencari ketenaran semata.

Kini “Running Late” sudah bisa dinikmati di seluruh digital musik platform mulai 21 Juni 2019.

(Visited 13 times, 1 visits today)