Rapeme, unit Grunge Depok rilis album perdana dalam bentuk fisik. Foto : dok.Rapeme

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Depok – Rel memanjang memenuhi pandangan, desing material besi terdengar beradu konstan, sesekali ritmik sesekali tak beraturan. Sekeliling tak ada lagi pemandangan pedagang lalu lalang, berganti muda-mudi dan penjelajah kota yang tampak terlalu sibuk dengan gawainya. Sekelebat terdengar suara sound 90an dari earphone seorang pemudi dengan tampilan yang mengingatkan saya pada era Nirvana awal-awal bersuara. Suara kerasnya nyaris mengalihkan perhatian saya dari pengumuman petugas Stasiun Depok yang memberitahukan kedatangan kereta.

Nama Depok mengingatkan saya pada beberapa kolega penggiat skena Bogor yang terlahir dan beralamat disana. Selain pengalaman pernah menjadi salah satu penghuni rumah kontrakan di Pancoran Mas, Depok.

Seperti pertanda, sepulang dari sebuah urusan, secara tak sengaja terdengar single “Koruptor” milik unit grunge Depok Rapeme dari laptop yang tengah menjelajah kanal Youtube Ripstore.Asia. Single perdana bagian dari album Ripstore Live Compilation yang rilis pada Netlabel day 2017.

Berjarak dua tahun setelahnya band yang terdiri dari Kiki Maulana (vokal/Gitar), Bobby Sandhy (Bass), Reza Nugroho (Drum) dan Alex Wallace (Gitar) itu kini sudah memamerkan album.

Pilihan sound ala 90s menjadi jembatan kenapa mereka menyebut dirinya alternative rock. Memilih memainkan musik dengan goresan lirik sarkastis, seturut isu yang mereka dengar dan lihat. Hingga konsistensi terjawab dengan keluarnya album mandiri berjuluk “Mata Hati Jiwa”.

Memilih jalan berbeda, ketika banyak musisi memilih jalan rilisan musik digital, Rapeme merilis album “Mata Hati Jiwa” dengan menomor satukan kemasan fisik. Termasuk konsep handmade pada cover album perdana mereka. Dalam keterangan karya yang mampir di halaman surat elektronik HujanMusik!, pilihan ini dilakukan demi memperkuat karakter, sekaligus bukti kreatifitas dan strategi menaikkan derajat rilisan fisik era sekarang.

“Mata Hati Jiwa” akan menjadi rilisan bersejarah grunge Depok lainnya. 12 lagu yang disisipkan adalah bagian eksperimen aransemen kolektif ini. Materi 12 lagu yang diklaim mampu merubah kecenderungan sudut pandang musik tanah air.

Selain karya yang sudah terpublikasi dan cuplikan lagu dalam akun media sosialnya, terus terang penasaran dengan bentuk fisiknya. Imajinasi saya sudah berjalan dan mengharapkan nuansa berbeda akan tampil begitu pemutar musik memindai cakram padat, kaset atau apapun yang bisa dikenang.

Ya…kita tunggu saja.

(Visited 43 times, 1 visits today)