The Kuda, salah satu penampil pada Distorsi Akhir Pekan Vol.1. Foto : @agungllyn

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor – Petang baru saja turun menyambung malam, udara seputaran tak beranjak dari suhu tengah hari tadi. Saya merasakan udara terpanggang dengan gerah sana-sini tak berkesudahan. Sempat meruntuk untuk sejenak, menyalahkan kostum anjangsana yang sepertinya salah tempat. Malam itu saya berada di D’Glock Café di Kawasan Jl. A. Yani Bogor untuk menyimak tampilan gahar kolektif local dalam gelaran Indistorsia Musik Akhir Pekan Vol.1, Minggu (16/5/2019) lalu. Sesi musik yang seharusnya dinikmati dengan kostum kasual tanpa jaket berlebihan. Saya salah..

Panggung tengah meneriakkan distorsi musik cepat ala punk rock, sementara Deff Tattoo tengah melancarkan aksinya menggambar tubuh rekannya. Memasuki bagian dalam venue yang tak begitu luas, saya saksikan Superiots tengah menjalankan tugas music tanpa gitaris Bime yang tengah memadu bulan kasihnya. Aroma pekat asap rokok berpadu kuat dengan pengapnya ruangan sejak Bonet, Epang dan Kidoy mengawali atraksinya hingga pungkas.

Diluar venue tak kalah ramai, mereka yang tak kebagian ruang untuk berdesak-desakan di arena musik memilih menepi disekitar pintu masuk dengan nuansa persaudaraan. Banyak diantaranya yang berjumpa kembali dengan kawan lamanya, maklum momen lebaran masih menampaknya ujungnya.

Jujur, malam itu sejatinya niatan utama saya adalah menyaksikan penampilan Not For Child (NFC), unit ska yang melegenda di Kota Bogor. Cukup lama saya tak menyaksikan aksi panggung penuh mereka, selain unggahan kerinduan panggung ala vokalis Teddy dan gitaris Yudhi di social media. Selebihnya saya sekedar menduga-duga.

Mengambil alih panggung sebagai penampil kedua, Teddy, Yudhy, basis Deni dan kibordis Iqbal tampil dengan bantuan dua pemain gitar dari Tom Skate dan Partikelir. Sementara Toro dari Bombomcar mendukung kekosongan pemain drum. Meski tampil tidak dengan formasi yang saya harapkan, nyatanya penampilan NFC malam itu memunculkan harapan baru perbaikan animo ska di Bogor. Soal crowd ? jangan ditanya, saya tak kebagian tempat untuk menikmati aksi mereka dari depan panggung. Sebagai legenda memang sudah sepantasnya mereka memberi arahan bagaimana menikmati ska hari ini. Bisa jadi setelah ini mereka tergerak merekam dan meluncurkan rilisan sebagai panduan.

Distorsi Akhir Pekan pertama ini sepertinya tak memberikan jeda sedikit mengatur nafas. Belum reda derai keringat dan hempasan udara segar luar ruangan, MC Akbar dan Gestra sudah memperkenalkan The Kuda sebagai penampil berikutnya. Kolektif punk kenamaan yang sudah sering bergerilya ini tampil dengan formasi asyik dan konsisten. Vokalis Pati terlihat leluasa menyusun agitasi dalam setiap nomor The Kuda. Gitaris Idam tampak sumringah berkutat dengan settingan gitarnya yang khas, sementara drummer Ahonk tak bisa menyembunyikan rona bahagia meski bermain cepat dengan kekuatan tersisa. Untungnya mereka ditemani pemain bass Ebel yang sesekali mau bertukar posisi dengan Ahonk. Seperti biasa, saya kesulitan menghitung dan menghafal nomor-nomor yang mereka gulirkan. Saya terlalu sibuk terpikat dengan atraksi panggung mereka.

Melanjutkan “kekerasan” suasana malam, unit Nu Metal Bogor SPRM melanjutkan tampilan dengan menggeber karya-karya independent mereka. Buyung, Etet, Shihab, Ade dan Sandy mempertontonkan energi penuh distorsi. Tak ada raut lelah meski berjarak pendek dari tampilan mereka di Jakarta Fair Kemayoran beberapa hari sebelumnya. Sound power full mereka bak curahan energi berbalut kemarahan dan keresahan sosial yang terbungkus koyak dalam sajian musik.

Menjuju babak akhir Distorsi Akhir Pekan sesi pertama, Belantara didaulat sebagai pemungkas tampilan. Sebagai penutup, aksi gitaris Renaldi A. Rimbatara dan kolega memang layak dinantikan. Sebagai duta metal Bogor yang akan meramaikan 10 besar W:O:A Metal Battle Indonesia 2019 dan akan tampil secara live di FINAL SHOW pada 22 Juni 2019 di Bandung, Belantara memang mengundang penasaran. Barangkali malam ini menjadi pemanasan sekaligus perayaan Belantara atas kembalinya vokalis Septian Maulana ke formasi. Sayangnya drummer Supriono tak berhasil tiba di venue, sehingga Belantara terpaksa menyerahkan penjagaan tempo pada pemutar musik digital. Meski begitu tak mengurangi penampilan gahar mereka di atas panggung.

Distorsi Akhir Pekan adalah gigs yang digagas Indistorsia dan direncanakan akan diadakan 1 bulan sekali di kota Bogor. Gigs yang akan diperuntukan untuk band-band yang memiliki spirit independen. Semacam gigs silaturahmi penggiat musik lokal dalam satu freakuensi, ajang promosi karya original dan menambah jaringan. Sebuah gigs yang didesain sebagai spot dimana tidak ada batasan antara musisi, media, pelaku industri kreatif, dan penikmat musik. Selain band, Distorsi Akhir Pekan juga menampilkan aspek lain yang mendukung musik antara lain artwork, clothing, workshop atau atraksi apapun yang berkaitan dengan semangat Indiestorsia Distorsi Akhir Pekan. Termasuk penjualan CD, kaset atau digital album dan merch bagi band yang tampil.

Sampai jumpa pada Distorsi Akhir Pekan kedua.

(Visited 24 times, 1 visits today)