Tetesan Hujan Antartick dan Noh Salleh Yang Menyerap di Keabadian

Antartick, pengusung rock kota hujan rilis karya baru. Foto : dok.Antartick

Antartick, pengusung rock kota hujan rilis karya baru. Foto : dok.Antartick

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Lahir dan tumbuh di kota hujan, membuat brand clothing bernama Hujan satu dekade lalu, berlanjut ke Pluvia tiga tahun setelahnya, membentuk Event Organizer Rainside, membidani kelahiran HujanMusik!, bahkan sampai menyematkan kata ajaib itu pada nama sendiri membuat banyak yang bertanya kenapa saya begitu dekat dengan hujan. Untuk menjawab pertanyaan itu akan membutuhkan waktu yang cukup panjang, jika ditumpahkan lewat tulisan bisa memakan puluhan halaman. Singkatnya hujan adalah bagian inti dari diri saya yang sudah menyerap ke dalam jiwa hingga menjadi kepribadian.

Bentuk manifestasi kecintaan saya terhadap hujan tidak berhenti sampai disitu. Daftar putar musik pun tidak jarang disesaki lagu dengan tema hujan atau minimal ada kata hujannya. Dan sepertinya sudah terlahir “Hujan” baru yang membuat saya meronta kegirangan. “Hujan” yang ini lahir dari rahim Antartick yang mempunyai kesan dingin.

Setelah sukses merilis single perdana “Kebas” dengan pesta pelepasan yang masih terekam kuat di ingatan, Antartick memilih “Hujan” sebagai amunisi baru. Sebuah lagu bertema penyesalan yang mereka nyanyikan bersama penyanyi kenamaan Negeri Jiran, Noh Salleh. Penyesalan dan hujan memang kadang berjalan beriringan.

Hujan selalu lekat dengan sesuatu yang bermakna atau berfilosofi menusuk hati. Begitu pula bagi band yang digawangi Joean Lasta (vokal), Anang (gitar) dan Helvi (bass), lagu “Hujan” adalah ungkapan bersalah yang mendalam. Rasa sakit yang teramat sangat. “Kalau diibaratkan seperti luka yang masih segar. Seperti tanah yang belum kering setelah guyuran hujan semalaman,” ujar Helvi. Entah luka apa yang Helvi maksud, pengalaman tersakiti atau menyakiti saya tidak tahu. Yang jelas lagu “Hujan” merupakan suguhan dengan rasa baru dari Antartick.

Ditambahkan Helvi, saking mendalamnya penyesalan tersebut membuatnya hanya bisa disampaikan dengan keluhan panjang “Aaaaaaaaaaaarrgh..”. Kemudian, jika dicermati secara aransemen pun lagu ini tak seperti lagu kebanyakan. Hati-hati terheran-heran lalu terbuai dalam belaian “Hujan”.

Sementara Noh Salleh, satu nama besar yang dipinang mereka merupakan vokalis band yang juga kebetulan bernama Hujan. Dan seperti diakui semua personil Antartick, musik Noh Salleh dan Hujan menemani pertumbuhan mereka sebagai individu dan kolektif. Menariknya, setelah dekat secara personal, ternyata musikalitas Noh sangat luas dan benar-benar mencuri perhatian Anang dan kolega. Noh dan bandnya dikenal luas memainkan musik rock yang cenderung bising namun di sisi lain proyek solonya sangat bertolak belakang. Noh yang sangat mencintai rockabilly dan oldies song memilih bercengkerama dengan musik folk jazz.

Kerjasama beda negara yang terjalin tidak membuat segalanya lebih mudah, malah membuat Antartick harus bersabar dalam menyelesaikan “Hujan”. Noh memilih untuk take vocal di Indonesia dan hal itu membuat banyak waktu yang terlewatkan begitu saja. Alasan inilah yang menyebabkan proses pembuatan lagu memakan waktu cukup lama.

“Tapi ini hasil yang sangat kami sukai. Noh orang yang luar biasa dan perfeksionis dalam berkarya. Buat kami seperti banyak dapat ilmu baru saat proses pembuatan lagu ini. Belum lagi sosok Noh yang jahil dan humoris,” tutur Joean.

“Hujan” yang sudah tersedia di iTunes, Apple Music, Spotify, Deezer dan berbagai digital store lainnya menjadi garis merah dari single yang dibuat dan dipersembahkan oleh band dari kota Hujan yang ditakdirkan berkolaborasi dengan vokalis band Hujan dari Malaysia.

“Dan semua cerita itu dirangkum lewat HujanMusik!,” pungkas Helvi. Seperti sebuah takdir dan chemistry yang terjalin tanpa rencana.

Buat saya yang referensi musiknya itu-itu saja, lagu “Hujan” adalah kabar terindah di tahun 2019 dan saya yakin lagu ini akan menjadi karya abadi trio Antartick.

Dengan strategi yang tepat sasaran, “Hujan” bisa membasahi perasaan siapapun di tanah Indonesia dan Malaysia. Selain itu, single yang merupakan jembatan menuju album penuh Antartick ini sudah pasti bersanding dengan rebasan hujan-hujan lain dan bertahta abadi di daftar putar musik saya.

(Visited 105 times, 2 visits today)

1 thought on “Tetesan Hujan Antartick dan Noh Salleh Yang Menyerap di Keabadian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *