“Yang Muda Melawan Lupa” dalam Bentuk Konser

Gugun GBS saat tampil dalam konser “Yang Muda Melawan Lupa, Jakarta, 6 April 2019. Foto : Decky Kurniawan

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Jakarta – Sejatinya ada sedikit keraguan untuk menuliskan ini. Bukan apa-apa, akal saya yang tak sehat sangat mudah menilai konser dengan pesan ajakan kembali kepada kesadaran sejarah itu, akan mudah menuai tudingan. Terlebih ekspresi sikap pilihan politik tengah melanda sana-sini. Tapi tenang, saya tak akan mengarahkan tulisan artikel ini kearah sana. Pusat perhatian saya tertuju pada barisan seniman pertunjukan yang tercatat meramaikan konser “Yang Muda Melawan Lupa” di Toba Tabo Café, Jl Saharjo 90, Jakarta Selatan, Sabtu, 7 April 2019 kemarin.

Tercatat ada Bonita & The Hus Band, Fajar Merah, Fitri Nganthi Wani & Seleksi Alam, Gugun GBS, Jason Ranti, Kill The DJ, Skastra, Tika & The Dissident, Voice of Baceprot, Asmara Abigail, Jefri Nichol, serta Olga Lydia. Nama-nama tersebut itu sedianya mengisi konser yang diniatkan sebagai dedikasi untuk 13 aktivis pro demokrasi yang dihilangkan secara paksa di masa pemerintahan Orde Baru pada 1997/1998.

Salah satu inisiator acara, Yulia Evina Bhara, menyampaikan, Konser “Yang Muda Melawan Lupa” adalah sebuah upaya untuk menguatkan kembali suara-suara korban dan keluarga korban penculikan, melantangkan kembali suara-suara mereka yang tak pernah lelah mencari, dan menanti kejelasan status keluarganya yang hilang sejak 21 tahun lalu.

Olga Lydia mengawali rangkaian pertunjukan setelah sambutan dan testimoni dengan membawakan puisi Wiji Thukul. ‘Tujuan Kita Satu, Ibu’ menjadi repertoar penting yang menegaskan untuk siapa dan kemana acara pada malam itu seharusnya berada.

Selepas puisi pembuka oleh Olga, Skasastra tampil dengan irama steady-nya. Tak banyak kata-kata pembuka yang disampaikan kolektif pemilik album “Minor 7” itu selain bicara ska dengan campuran jazz, blues, swing dengan bekal reggae.

Bonita & The Hus Band meneruskan repertoar dengan nuansa permainan gitar akustik, saxophone dan perkusi. Tampilan luar biasa untuk kelompok yang sudah berkarya lebih dari 10 tahun itu.

Babak selanjutnya adalah tampilan magis musikalisasi puisi yang dibawakan Fitri Nganthi Wani & Seleksi Alam. Barangkali kehadiran Fitri yang memiliki garis darah dengan Wiji Thukul itu memiliki nilai emosional lebih selain tampilan karyanya yang mumpuni dan memukau itu. Menyusul Fitri, setelah testimoni korban penculikan, aktor muda berbakat Jefri Nichol tampil membacakan puisi. Jefri membacakan 2 puisi Wiji Thukul, salah satunya “Puisi untuk Adikku”. Puisi ini dibacakannya dua kali.

Sebelum masuk ke lokasi acara, ia sempat tertahan ratusan anak-anak muda yang merangsek untuk bisa masuk. Sementara venue sudah tak memungkinkan, Disanalah secara dadakan ia diminta baca puisi di tengah massa. Ia naik ke atas pagar tangga. Lantang membacakan puisi Wiji Thukul.

Standar keras malam itu diwakili kehadiran Voice of Baceprot, generasi muda metal perempuan, berhijab, asal Garut. Mereka berani lantang menyuarakan catatan muram dan hak untuk ikut menentukan masa depan negeri, melebihi usia mereka.

Lengkingan gitar Gugun GBS memanggil peminat blues untuk mereda sejenak. Venue Toba Tabo Café dengan daya tampung terbatas itu tak menyurutkan minat muda-tua berbaur menikmati penjelasan blues yang dilesakkan Gugun, dengan dukungan dua musisi lainnya. Setelah blues, giliran rapper Jogja yang beralamat Klaten, Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ mengajak massa mengenali karya-karyanya. Salah satunya “Kewer-Kewer”, satu nomor kolaborasinya dalam kolektif Libertaria yang direspon tarian oleh siapa saja yang hadir malam itu.

Tika & The Dissident melanjutkan tampilan demi menghormati dan mendukung korban pelanggaran HAM menuntut keadilan.

Menjelang malam kejutan-kejutan kian bertebaran. Sejak acara bermula, ratusan anak muda tertahan di arena parkiran karena tidak bisa masuk. Ruang konser utama penuh tak mungkin ditambah. Sementar konser Fajar Merah dan Jason Ranti pun akhirnya terjadi di parkiran. Acara di dalam tetap berlangsung.

Begitulah, konser “Yang Muda Melawan Lupa” pada akhirnya menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggara, pengisi acara dan tentunya penonton yang hadir. Masing-masing memiliki sikap dan makna yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *