Duo DJ Diskoria asal Jakarta. Rilis single penghormatan Pop Disko 80an. Foto : dok.Lockermedia

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Jakarta – Hentakan ryththm & blues mengiringi motown dan jazz yang berpadu menjalin rasa dengan swing. Jalin menjalin itu lantas dikenang sebagai dentuman keras musik funk yang keluar dari unit penyimpan dan pemutar piringan hitam. Bagi yang mengalami era keemasan musik menari dan mencintai putaran lagu tanpa henti itu, biasanya cukup menyebutnya sebagai disko.

Begitulah, empat tahun kebelakang pergaulan muda-mudi ibukota diramaikan terjangan musik disko yang disemburkan Diskoria, duo DJ asal Jakarta yang mengkhususkan diri membawakan disko/pop/funk Indonesia lawas. Kini, berselang setelah 4 tahun setelah acara Suara Disko bermula dan menggema di berbagai kota, perjalanan duo selektor yang terdiri dari Merdi Simanjuntak dan Fadli Aat itu tengah menyajikan hal baru dengan rilis single perdana.

Sudah barang tentu warna disko era pop lawas menguasai segala sisi penggarapan single yang diberi judul “Balada Insan Muda”. Single pencapaian kegigihan Merdi dan Aat mengintimidasi penikmat musik lokal yang mendudukan Diskoria sebagai buah bibir dengan deretan lagu-lagu pop 80an yang silih berganti mengilhami gerak badan.

Simak! : Lintasan Konstan Mini Album Perdana WTF PROJECT

2015 lalu pada acara Suara Disko pertama, terjadilah pertemuan produktif Merdi dan Aat dengan kolektif Laleilmanino yang juga sebagai tamu acara. Mereka adalah Arya Aditya Ramadya (Lale), Ilman Ibrahim Isa dari Maliq & D’essentials dan juga Anindyo Baskoro (Nino) dari RAN. Suatu pertemuan yang mengisyaratkan ketertarikan mereka terhadap estetika musik pop di era 80-an. Lalu tercetuslah ide kolaborasi yang berbuntut pada dirilisnya “Balada Insan Muda” per 14 Februari 2019.

Rilisan yang menjadi interpretasi Diskoria dan Laleilmanino dalam bentuk aransemen musik dan penulisan lirik. Bahkan alat musik yang digunakan sebgaian besar menggunakan alat yang relevan pada 1980an seperti synthesizer analog dan piano Rhodes. Dalam penulisan lirik, kolektif Laleilmanino memilih diksi yang kewajaran yang berlaku, membuat pendengarnya dibawa masuk kembali ke lorong waktu era Fariz RM dan rekan meramaikan panggung-panggung.

Sungguh sebuah pencapaian kolaborasi yang tak terpikirkan jika melihat latar belakang punggawa Diskoria. Aat pada pertengahan 90an dikenal sebagai pemain bass untuk band hardcore asal Jakarta, Stepforward. Sedangkan Merdi dikenali pernah bermain di band jangly pop Sweaters yang aktif di awal 2000-an dan juga unit shoegaze, Sugarstar. Saya menduga kecintaan mereka pada dunia musiklah yabg akhirnya mengantar mereka menggeluti berbagai genre yang berbeda.

Pun dengan pesan yang hendak mereka sampaikan kepada pendengar. Bahwa musik Indonesia juga memiliki musik pop berkualitas di tiap era-nya. Tersedia pilihan bagi orang Indonesia untuk mendengarkan lagu pop berkualitas, sehingga tidak perlu menjadi pilihan terakhir dengan mendahulukan lagu pop mancanegara.

“Besar harapan kami lagu ini bisa menjadi anthem musik pop, dan akan dikenang di kemudian hari,” tulis Merdi dalam rilisnya yang diterima HujanMusik!.

Simak! : Reborn (The Remixes), Karya Tanayu dan 10 Produser Musik Elektronik

Deretan lagu-lagu pop terus berputar mengiringi saya menuliskan artikel tambal sulam ini. Fariz RM dengan “Barcelona” dan “Sakura” paling sering saya ulang-ulang seturut dengan “Serasa” dan “Hip Hip Hura” oleh almarhum Chrisye. Lawas dan mainstream.

Beruntung ada Diskoria yang mengangkat derajat musik pop lawas Indonesia dalam bentuk disko. Kegemaran punggawanya mengoleksi piringan hitam klasik Indonesia dan memutarkannya pada lingkar pertamanan yang sama. Justru menyambungkan arsip pop lawas Indonesia.

(Visited 17 times, 1 visits today)