Myment, solois Bogor yang diam-diam telah hadir dengan album ketiga. Foto : dok.myment

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Nada-nada ekploratif itu terdengar ritmik mengiringi vokal berkarakter sang empunya karya. Meluncur-menggelinding ringan dengan dukungan lirik sarat pesan untuk didengarkan. Sebuah kesan perkenalan, meninggalkan masa-masa kelam kontra produktif seorang pengelana seni se-model Myment yang lekat dengan “Akustik Anti Mainstream”. Pengelana yang memunculkan kekaguman saya soal sikap, pilihan hidup dan konsistensi karya tanpa berhitung untung-rugi.

Saat itu, tahun 2015 Myment merilis album “Untukmu Ibu” bermaterikan 8 lagu sebagai karir solo perdana. Sebuah rilisan fisik yang ia produksi dan edarkan sendiri dengan tekad dedikasi berbagi melalui santunan anak yatim di kampungnya.

Berlanjut dengan album ke-2 bertajuk “Lagu Para Seniman” dalam 9 lagu yang lagi-lagi dia tujukan untuk semangat berbagi. Dalam terminologi sederhanya ia namakan bersodakoh dalam karya.

Dan sejak Desember 2018 silam, album ke-3 “Jass Merah” menjadi roman kesekian warga Bubulak kecamatan Bogor Barat yang menyeruak berhadapan dengan konsep musik independen kebanyakan.

Begitulah, karya seorang Myment diam-diam telah menghantui perjalanan terbatas saya mengenal pergerakan musik kota yang terhubung satu sama lain. Produksi dan jaringan yang dibangun Myment adalah representasi perjalanan hidup senyatanya. Senyata panggung di Malaysia dan Singapura yang dirambahnya tahun 2015 hingga panggung di Brunei Darussalam tahun 2017. Semua dijalaninya tanpa banyak koar-koar.

Karya-karyanya lahir dari kesederhanaan dan perenungan soal cinta, sosial, politik, alam dan lingkungan, hingga nuansa kehidupan yang berhubungan dengan sang pencipta. Saya mencontohkan lirik lagu “Asyik yang Terusik” dari album pertamanya yang memaparkan situasi apa adanya. Dalam konteks sekarang saya memahaminya sebagai sindiran terhadap ujaran kebohongan untuk tujuan tertentu.

Putar balikan cerita nyata//Yang hanya jadi bisnis semata//Manipulasi sejarah murni//Beda lidah beda cerita//Menyumbat kepala terasa pecah//Entah siapa yang dapat dipercaya//Melintang sumbang berita using//Ingin beberkan mengambang bimbang//Tiang mana yang kuat ku pegang.

Pun demikian dengan “Bencana Alam dan Tragedi” dari album ke-2 yang momotret peristiwa bencana dan tragedi yang dirasakannya.

Myment, bertahun-tahun silam saya mengenalnya sebagai Ement, adalah sosok solois yang pantang menyerah. Saya mengenalnya sebagai pemain gitar untuk kolektif musik Javaties yang terdiri dari kolega bertetangga di kampung Bubulak sekitar 2006 silam. Lantas berkembang menjadi mitra usaha kedai merangkap studio musik di bilangan Kebon Pedes Bogor, sebelum akhirnya bersimpang jalan.

Perjalanan musiknya bak sauh dilautan lepas, sempat bermain bass untuk band rock Jakarta The Dollar hingga tergabung komunitas musik di kota hujan dengan berbagai genre dan penggarapan music. Mulai dari format band hingga etnik instrumental kontemporer. Salah dua-nya bersama Kibar Akustik dan Padepokan Wayang Bambu Ki Drajat di Bogor.

Kini pilihannya mantab untuk terus memperdengarkan konsep akustik anti mainstream yang diusungnya. Sebuah konsep yang menutup orde kontra produktif dengan memainkan musik minimalis melalui berbagai pendekatan genre. Myment sendiri tak menolak disebut folk, meski tak secara tegas mengiyakan. Pun saat saya sebut grunge akustik, dia membebaskan pemahaman.

Simak! : Merenda Folk di Kota Hujan

“Dari mulai pembuatan lagu, lirik, aransemen, klip, anggaran buat album, desain album, promosi serta penjualan dilakukan sendiri tanpa campur tangan dan intervensi dari pihak manapun. Benar-benar murni hasil karya anak bangsa, khususnya di Kota Bogor. Alhamdulillah terlaksana, semuanya berkat pertolongan Allah SWT,” paparnya merendah.

Tak heran jika ia mengaku mengagumi Iwan Fals, Doel Sumbang, Harry Rusli, Godbless dan Slank. Meskipun belum menyimak karya utuh Jason Ranti dan Ikhsan Skuter secara serius.

Cara dan gaya bertutur Myment menyiratkan pada sosok idolanya itu. Yang membedakan kini ia lebih sering mendatangi penikmat wayang dibanding hingar bingar altar musisi.

Entahlah apa yang akan disasarnya, sebagai kawan saya berkewajiban tetap mendukung selama itu untuk kebaikan karya.

Salam budaya.

(Visited 15 times, 1 visits today)