Logamulia, band trash metal Jakarta. Kolektif ini sudah merilis single “Musuh Publik”. Foto : dok.Logamulia

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Jakarta – Saya tengah menyela petang dengan sejumput kenangan ketika mendengar sayup-sayup, gawai seorang perempuan pekerja komuter Bogor – Jakarta tengah memutar tinggi rendah nada “Lagu Duka” persembahan Payung Teduh. Sekelebat saya teringat momen kembalinya Aziz Kariko a.k.a Comi dalam formasi baru kelompok tersebut pada kuartal ketiga tahun lalu. Lantas ingatan menajam 6 bulan setelahnya, yaitu ketika dua personil kolektif folk tersebut merilis “Musuh Publik” dengan warna music jauh berbeda. Tentu saja dengan nama yang berbeda pula. Kali ini mereka dalam satu gerbong Logamulia yang mengusung Groove/Trash Metal.

“Musuh Publik” yang dilantunkan Logamulia sejatinya sudah saya ketahui rilis perdana pada 7 Februari 2019. Ode musik garapan Ahmad “Apit” Hafidzullah (Purgatory, ex- End OF Journey), Pratama Putra “Ayi” Rahardjo (Straightout, ex-Resistensi) , Abdul Aziz “Comi” Turhan Kariko dan Alejandro “Cito” Saksakame (Payung Teduh) itu memang terdengar mengejutkan meski tak demikian adanya. Kemunculan mereka menanduk kemapanan telinga yang kadung memberi label musik ‘baik-baik’ untuk figur seorang Comi dan Cito.

Tak ada yang salah dan lancung, bersama Logamulia para pengusungnya nyata-nyata menyajikan sisi lain kelebihan mereka. Berani muncul beda dan tak ragu menggelinding menyibak arus.

Bisa jadi kesadaran itu yang mendorong Comi memilih meneruskan jejak di genre metal setelah 10 tahun berkiprah di genre musik folk dengan rekan-rekannya di band Payung Teduh. Lantas bertemulah Comi dengan Apit, vokalis Purgatory yang dikenalkan oleh Derry, road manager untuk Payung Teduh.
Kosmik lain yang mendekatkan Logamulia dengan Ayi, gitaris metal pada akhirnya berjodoh mengisi divisi gitar dalam kolektif ini. Setelah mendapatkan gitaris dan vokalis, Comi kemudian mengajak Cito, drummernya di Payung Teduh, yang akhirnya melengkapi formasi Logamulia.

Usulan nama Logamulia berasal dari Comi yang merasa bahwa teman-teman bandnya sangat berharga karena memberikan semangat untuk terus berkarya, khususnya bermain musik di genre metal. Untuk bagian ini saya setuju jika mereka dianggap Precious Metals, yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan Logam Mulia. Ayi kemudian mengusulkan menjadi Logamulia untuk memudahkan penamaan bandnya. Sejak saat itu Logamulia lahir dan mulai berkarya untuk meramaikan jagad karya metal Indonesia lebih menggema.

Merasa cukup dengan formasi yang ada, Logamulia mewujudkan konektivitas mereka dengan merilis “Musuh Publik”. Sebuah lagu yang terinspirasi dari sekelompok orang yang difitnah, dihina, dan dijelek-jelekkan di muka publik oleh pihak lain. Meskipun sekelompok orang ini sebenarnya bisa dengan mudah menghancurkan pihak yang memfitnah, mereka lebih memilih untuk diam dan melakukan hal yang lebih bermanfaat untuk mereka sendiri.

Musik Logamulia pada akhirnya adalah perpaduan Ryan Martinie (Mudvayne) dan Les Claypool (Primus) yang bersenyawa dengan progressive rock. Lantas bermetamorfosa dengan metalcore yang kental dengan pengaruh Thrash dan Heavy Metal.

Jika “Musuh Publik” adalah tetesan dahaga trash metal mereka, sudah barang tentu jejak album layak disisir sebagai pereda haus sesungguhnya.

(Visited 7 times, 1 visits today)