Cerita The Ads Mengejar Matahari Yang Tak Lelah Menari

The Ads, kolektif grunge Cigombong yang baru merilis album. Foto : dok.theads

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Beberapa waktu setelah HujanMusik! lahir hampir dua tahun lalu, Adit ‘Conan’ merekomendasikan sebuah kolektif untuk diulas. Katanya band ini beraliran rock atau grunge, markasnya di Cigombong, dan bernama The Ads. Sejak saat itu saya berencana menemui mereka, namun semesta belum menjodohkan saya dengan The Ads. Ketika berkunjung ke Cigombong Koffie pun saya tidak bertemu dengan mereka. Hanya ngopi sambil bicara hal-hal berat dengan Guli serta Rajib, salah satu pentolan Jong Cigombong Bond yang kenal dekat dengan Ncom, Freddy, dan Bungsu yang merupakan personel terkini The Ads.

Kabar terbaru dari wilayah Bogor paling selatan, The Ads telah merampungkan album perdana yang bertajuk “Self Title The Ads”. Album ini terdiri dari sepuluh ramuan ajaib yang mempunyai nuansa berbeda di setiap lagunya. Bukan itu saja, tambahan artwork dari setiap lagu mereka membuat karya ini lebih berbobot dan layak untuk didengarkan berbagai kalangan di setiap kesempatan. Mendengarkan potongan sepuluh lagu The Ads yang dikirimkan pada HujanMusik!, saya mendapatkan imaji musik era 90an, yang merupakan masa keemasan kedua setelah era tahun 50-60an. Sound sederhana namun kuat ditambah riff gitar yang tidak terlalu rumit dan pukulan drum bertempo sedang membuat musik The Ads memang mudah untuk dicerna. Kemudian karakter vokal Ncom mengingatkan saya pada suara satu profil besar di skena musik Indonesia, namun saya tidak bisa menyimpulkan siapa. Ah biar saja, yang penting kehormatan menulis artikel tentang band yang beridiri sejak tahun 2012 ini sudah saya dapatkan.

Album “Self Title The Ads” merupakan awal perjalanan serius Ncom dan kolega yang digarap pada tahun 2017 hingga akhirnya dirilis pada awal tahun 2019. Isi lagu dari album pertama ini adalah cerita yang berbasis dari kehidupan nyata. Tema yang beragam tapi dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti cinta, sosial, alam, dan semangat hidup termaktub tegas dalam setiap liriknya.

Single “Matahari Tak Lelah Menari” pun diluncurkan dengan harapan akan menjadi sebuah gebrakan awal yang bisa memotivasi penikmat musik secara umum. Selain itu,The Ads juga menyajikan hal lain berupa semangat akan mengejar suatu mimpi dan warna musik yang mudah untuk diterima oleh siapapun yang mendengarkannya. Satu lagu lainnya berjudul “Hallo Cigombong” disebut The Ads sebagai ikon yang menguatkan karakter kelahiran dan pertumbuhan mereka dalam kesederhanaan namun mampu mengemas karya dengan penuh totalitas sehingga menghasilkan sesuatu yang berkualitas.

Soal aliran musik, ternyata The Ads memilih menyebutnya dengan istilah Sub Pop atau Post Grunge yang mendeskripsikan kebebasan dan luasnya area bermusik mereka.

“Visi album ini adalah pelebaran pandangan sub-kultur skena musik itu sendiri dan misi album ini adalah sebagai jembatan antara pandangan musik komunitas dengan pandangan khalayak luas,” tutur Ncom, founder The Ads dalam rilisnya.

Menoleh ke belakang, The Ads lahir di Cigombong, Bogor Selatan pada tanggal 12 Desember 2012 atau 12-12-12. Pemilihan waktu yang cerdas. Cantik dan mudah diingat. Nama The Ads sendiri berasal dari kata Advertising atau Periklanan yang bermakna sebuah harapan agar The Ads dapat terus diserukan orang yang menyukai karya mereka. The Ads bermula saat sang frontman yang juga gitaris Ncom mengajak Bungsu sebagai drummer, Atol pada bass, dan Slamet sebagai pemain gitar utama untuk bermain musik bersama. Tapi tak lama Atol mengundurkan diri dan digantikan oleh Cingcau. Kemudian, di pertengahan perjalanan Slamet memutuskan keluar juga dari band, hingga akhirnya personil yang tersisa sepakat mengusung Freddy menjadi penggantinya. Belum selesai sampai disitu, drama berlanjut ketika Cingcau mengundurkan diri di tengah penggarapan album pertama. Tapi semua itu terbayarkan dengan rampungnya album “Self Title The Ads”. Mereka pun terus berlari dengan formasi Ncom pada vokal dan gitar, Freddy pemain gitar utama, dan Bungsu pada drum.

Dengan segudang pengalaman sebagai kolektif, The Ads menjadi kuat sebagai satu kesatuan. Musik mereka pun sangat layak untuk disimak dan disebarkan agar dunia tahu bahwa Cigombong punya bakat luar biasa dari berbagai latar belakang dan bidang. Di bidang musik, The Ads tidak hanya berhasil mengiklankan dirinya sendiri tapi juga sukses menjadi simbol sebuah produk berkualitas dari perbatasan Bogor-Sukabumi.

Viva The Ads, Viva Jong Cigombong Bond!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *