Menyimak simakDialog di Java Jazz Festival 2019

Kolektif jazz simakDialog pada penampilannya di Java Jazz 2019. Foto : Andi Mauludi

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!,Jakarta – Tak ada pepatah yang bisa mewakili situasi saya saat ini, sangat patut dan layak mensyukuri keberuntungan 2 Maret 2019. Sekian lama absen dari gelaran Java Jazz, baru tahun ini berkesempatan memandangi langsung keramaian konser jazz yang berusia 14 tahun itu. Semua gara-gara tiket daily dari BNI yang singgah di meja kantor, Jakarta International BNI Java Jazz Festival pantang dilewatkan meski setumpuk tenggat tengah mencegat.

JIExpo Kemayoran menjadi tujuan kerumunan sejak datang dari niat. Dari Bogor saya bersama fotografer Andi memutuskan singgah ke Pasar Baru, berusaha menjual DSLR Olympus lawas demi tambahan amunisi, sesaat sebelum membelah arah dengan Bajaj warna biru. Sepanjang perjalanan isi kepala terus berkutat cara menikmati talenta Jazz dari 11 venue yang tersedia.

Sebagai pembuka kami memilih sajian simakDialog di Kapal Api Signature Hall-Hall A1. Memilih sajian sedikit berat meski pilihan layak lainnya bertebaran. Itulah Java Jazz, sejak antrian masuk penonton sudah harus menentukan pilihan jika tak mau buang waktu demi antrian masuk venue. Dan simakDialog menjadi rujukan dengan berbagai pertimbangan pengetahuan jazz kami yang amatiran.

Sembari menunggu waktu pertunjukan, menikmati suasana sekitar panggung outdoor menjelang petang cukup melegakan. Suasana jazzy menebar kemana-mana, termasuk stand Yamaha Musik Indonesia yang memajang Disklavier ENSPIRE, sulit ditolak untuk dihampiri.

Lewat 15 menit dari jadwal main pukul 17.00 WIB, simakDialog memulai pertunjukannya dengan membawakan lagu Janger dan Nyiur Hijau. Vokalis Mian Tiara terlihat tampak tenang memainkan perkakas musiknya, demikian halnya bunyi-bunyian kendang Cucu Kurnia, petikan double Bass Rudy Zulkarnaen, dan jemari Sri Hanuraga memainkan piano. Kolaborasi apik untuk kolektif jazz-rock/fusion yang didirikan Riza Ashad 25 tahun yang lalu bersama Tohpati, Mian Tiara, Adhitya Pratama, serta Indro Hardjodikoro. Jazz yang mereka mainkan adalah penggabungan unsur musik tradisional dengan jazz yang unik.

Momentum penampilan di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu 2 Maret 2019.
lalu itu juga mereka tahbiskan sebagai salah satu penanda telah rilisnya album mereka kedelapan yang bertajuk “Gong”.

“Hari yang spesial untuk kami karena hari ini kami meluncurkan album kami yang berjudul Gong,” ungkap Mian Tiara, penanggung jawab divisi vokal simakDialog,

“Gong” menjadi pencapaian album kesekian simakDialog setelah melalui proses rekaman dua kali rekaman. Pertama pada 2015 dengan aransemen mendiang Riza Arshad, dilanjutkan proses rekaman kedua awal Januari 2019 dengan komposisi permaian Sri Hanuraga.

Menyimak penampilan simakDialog memang membutuhkan kecermatan tersendiri, menikmati naik turun improvisasi dialog yang mereka mainkan. Ada kesan sensasi ketika kendang sunda menyelip dominan diantara sound bass dan piano. Untuk sesaat saya merasa perlu menghormati jazz dengan aneka rupa permainannya, perlu menjadi sosok penikmat jazz sejati. Sejurus kemudian baru saya memilih menikmatinya untuk diri sendiri. Sedikit rumit diawal, namun setelahnya membiarkan kalbu ini hanyut bersama untaian nada yang tak bisa saya katakan.

Ini musik jazz yang tampil dalam festival jazz. Tak perlu berpura-pura memiliki level intelektualitas tertentu demi memberi kesan pada orang lain. Dinikmati saja.

Mungkin musik jazz tidak dinikmati semua orang, tapi setidaknya saya terlatih menyimak musik jazz yang dominan dengan suara instrumen, terkadang saya menciptakan lirik sendiri terhadap sebuah instrumen musik yang sedang dimainkan.

Simak! : Ambarila Tampilkan Musik Bercerita di Java Jazz 2019

Kembali kepada simakDialog, aksi panggung mereka dipuncaki dengan memainkan tiga lagu tanpa henti dari album Gong. Saya dan banyak penonton lainnya terbius fokus mendengarkan permainan mereka hingga ditutup dengan lagu Gong 4.
 
Java Jazz Festival 2019 hari kedua memberikan petualangan nada yang berkesan untuk saya dan rekan Andi. Kami memang tiba sejak venue belum dibuka, sempat menyaksikan sekilas Christabel Annora, Rasvan Aoki dan J-Newbies di panggung Demajor. Termasuk meet and greet simakDialog dan Indro Hardjodikoro, berikut dialog sekedarnya dengan David Tarigan dan rekan.

Tenggelam dan banyak bertemu kawan di venue Traveloka-Hall B1 yang tengah memanggungkan Peter White. Lalu kembali ke venue Kapal Api Signature Hall-Hall A1 demi menyimak Harvey Mason yang berkolaborasi dengan Dira Sugandi.

Sayangnya demi mengejar kereta ke Bogor kami kehilangan kesempatan menyimak atraksi penutup dari musisi Rendy Pandugo pukul 23.30 WIB di panggung Teh Botol Sosro.

Somoga tahun depan ada kesembatan baik datang lagi kepada kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *